Pages

Rabu, 21 Mei 2014

Kuliah Kerja Nyata ala Anak sekolahan


             Malam ini ngebosenin banget rasanya... ya karena aku juga lagi malas belajar, hehe... But, ini bukan karena belum UAS semester genap tapi lebih dari itu..ckckck. tapi sudahlah, kalo memang bosen mw dibawa happy pun gk ngaruh juga..
Cerita tentang KKN..?? gk hal baru lagi untuk seorang Mahasiswa, apalagi mahasiswa semester 6 kayak aku, udah didepan mata coy. KKN dengan kepanjangannya Kuliah Kerja Nyata adalah salah satu mata kuliah wajib dengan nilai bobot 4 sks, gila beneer lah. Sehingga dengan otomatis kalo gk diambil gak bisa dinyatakan lulus. Tapi tetap saja sebagian dari mahasiswa menolaknya dengan berbagai alasan ini itu lah. Alasan kalo gk ada gunanya, gak ada kaitannya dengan jurusan yang dia ambil, ngabisin uang ja dan bla bla lainnya. Tapi aku penasaran banget apa sich tolak ukur mereka sehingga punya alasan-alasan konyol seperti itu? Ngerasa paling bener gitu? Atau ngerasa kalo KKN ke pelosok-pelosok negeri tu bahaya banget? Entahlah, biarkan hati ini yang bicara nantinya. The Important thing, KKN adalah salah satu mata kuliah wajib 4 sks dan mau gak mau harus diambil.
            Tahun ini KKN akan dilaksanakan bulan juli-agustus 2014. Mukee gile, bulan puasa bah...!! kali denger-denger cerita senior yang alumni KKN, mereka ada yang hidup tanpa lampu dan air bersih, kadang tinggal di rumah yang tak berpenghuni sampai kamar mandi pun tak punya. Alamak nasibnya lagi... tapi aku tetap berpikiran positif ajalah ya, jangan sampai keadaan kayak gitu kena ke gue. Jangaan sampeee... !!
But before that, cerita-cerita tentang KKN aku sebenarnya udah pernah ngerasain kisah yang hampir sama di waktu masih bersekolah di MST Parabek dulu tepatnya di bulan maret tahun 2010 lalu. Namanya adalah Khidmatul Ummah (KU) yang artinya adalah Pengabdian Masyarakat. Ini adalah salah satu program unggulan di sekolahku. KU ini dilaksanakan oleh seluruh santriwan/santriwati kelas 2 aliyah MST Parabek. KU yang kami laksanakan bertempat di daerah dharmasraya. Daerah yang cukup panas dengan tanaman sawit di hutan-hutannya. Daerah ini adalah kampung halaman teman sekelasku, Farid. Kami melaksanakan program ini selama 10 hari. Bentar aja kan..?? tapi kami yang saat itu masih bermanja-manja dengan orang tua udah ngerasa 10 hari adalah hari-hari yang sangat lama. Lamaaaa bangeeet...
Hari Keberangkatan Peserta Khidmatul Ummah
Hari Keberangkatan Peserta Khidmatul Ummah

Hari keberangkatan KU kami adalah hari Ahad (klo gk slah yaaa) dan dibuka dulu dengan pidato panjang kepala sekolah aliyah. Kami para santriwan/wati ngerasa sediiih banget sampai-sampai ada yang meneteskan air mata. Alamaaak lebay bangeeet ya kalo dipikir-pikir. Sebelum naik bus, kami satu persatu berpelukan dengan adik-adik kelas. And again, menangissszzz, didepan kelas mereka terlihat wajah kehilangan, wajah- wajah tanpa harapan, wajah-wajah kesedihan yang mendalam. Tapiiii, ne tapi yaaa, ternyata diantara mereka ada yang bersorak gembira, tertawa bahagia. Bahaaagiaa banget gitu... ya setidaknya tidak ada yang memberi hukuman di asrama karena kami santriwan/wati adalah Pengurus Inti Ikatan Pelajar Asrama. Tidak ada yang berteriak untuk cepat ke mesjid setiap shubuh, magrib dan Isya. Tidak ada yang sok-sok menjadi Pemimpin mendampingi Ustadz-ustadzah pembina Asrama dan setidaknya peraturan asrama bisa dilanggar sedikit demi sedikit. Aah, emang lah ya, penuh ambisi sayang seribu sayang aku tak mengetahui pasti apa yang ada dalam pikiran mereka.
Keberangkatan kami ditemani oleh 5 orang ustadz. Alhamdulillah masih ada yang mendampingi, hehe... dengan 44 orang santriwan/wati jurusan agama dan jurusan IPA. Semuanya tergabung ke dalam 10 kelompok di beberapa desa. Upsz yang ini gk akurat lagi ya abiz kelupaan berapa orangnya. Aku adalah kelompok satu dengan anggota 7 orang. Satu temanku menjadi ketua Khidmatul Ummah angkatan kami sehingga Posko KU pun di desa kami. Seruu abizzz kan ? ternyata tidak juga kawan, aku dengan dua orang teman perempuan tinggal terpisah dengan 4 orang laki-laki yang tinggal di posko. Kami tinggal di rumah kakak kepala desa disana. Dan kau tahu fasilitas yang kami dapatkan? Kamar tidur yang bersih plus kipas angin, dapur tersendiri, ruang makan yang khusus dan kamar mandi yang juga bersih. Dibandingkan beberapa kelompok yang lain, yang mereka mendapatkan ruangan bekas gudang tanpa kasur kalo mereka nyebutnya sich Hotel, biar hati senang, ada juga yang harus satu rumah dengan yang laki-laki. Yang kupahami saat itu adalah teman-temanku adalah orang paling sabar sedunia dengan kondisi tempat tinggal yang jauh berbeda dengan kami.
KU yang kami jalani hanyalah sebagian kecil dari Perjalanan KKN ala mahasiswa. Just for 10 days gus,apa yang didapat dari waktu yang singkat itu? Tapi jangan salah yaa, aku mendapatkan harta itu, sebuah Persahabatan yang tak ternilai oleh puluhan batang emas. Aku tahu ini mungkin sangat berlebihan tapi kau tahu kawan, KU ini yang membuat ku sadar bahwa kita hidup tidak sendirian. Bahwa kita harus menyadari kalau ternyata ada orang lain yang juga punya sifat yang berbeda dengan kita. Aku yang saat itu suka merajuk telah paham bahwa sifat yang kupunya tak berarti apa-apa untuk lika-liku perjalanan panjangku. Aku tahu dengan sifat suka pemarah yang dimiliki teman sekelompokku takkan bisa mengubah kehidupan ini. Sifat suka cuek dan tidak peduli juga tak bisa menjadikan perjalanan ini menjadi lancar. Ah teman-teman sekelompokku yang penuh warna. I miss You All...
Saat pertama aku disana, aku merajuk, asli benar-benar merajuk. Haha, sifat kekanak-kanakan sekali hingga akhirnya temanku yang merasa bersalah mentraktir bakso supaya aku tak lagi marah. Hal sepele memang, hanya karena dia merasa bosan dengan lauk yang itu-itu saja. Dan kebetulan sekali, itu adalah giliranku untuk masak, ya aku langsung saja marah-marah dan bilang,” ya udah gk usah makan, gampang kaan...” dia benar-benar merasa bersalah. Dan yang paling konyolnya lagi, aku memaafkannya saat aku tahu dia mentraktir kami bakso. Haha, gampang sekali perasaanku berubah. Dengan ustadz pembimbing yang juga sibuk mengurusi kelompok tetangga, kami benar-benar merasakan hidup bermasyarakat. 

Berfoto dengan Kepala Sekolah SMP
Disana kami ikut membantu guru-guru SD mengajarkan pelajaran di beberapa kelas, sedangkan aku dan satu temanku kebagian mengajar di SMP disana. Bahagiaa..?? ya tentu saja, setidaknya kami berdua bisa mengetahui SMP disana juga. Seruu deh.. kami diamanahkan untuk mengajarkan biologi. Mata pelajaran yang sesuai dengan jurusan yang kuambil. Serruu abizz deh dengan murid-murid yang gk kalah lucu. Kami berdua ngerasa sudah menjadi guru disana. Selain itu, kami juga diikutkan dalam rapat majelis guru juga, hanya saja ustadz pembimbingku menyuruhku untuk berkumpul di SD. Yaah tak apalah, setidaknya aku bertemu dengan kelompok yang lain.
Beberapa hari disana, seluruh kelompok disuruh berkumpul di posko untuk sharing-sharing dan berjumpa dengan pimpinan sekolah yang berkunjung ke dharmasraya. Rindduuu sekali rasanya dengan guru-guru Parabek. Kami bertiga awalnya tidak tahu sama sekali tentang hal ini karena yaa memang gk dikasih tahu. Jadinya yaa kami bersantai saja dirumah. Salah satu ustadz pembimbing KU mengatakan pada seluruh teman-teman  selain kelompokku,
” kalian tahu kan, diantara 44 orang ada yang mau dipulangkan ke Parabek karena ulahnya sendiri..”
“siapa ustadz..??” mereka memeriksa satu persatu teman sekelompok mereka.
Ustadz pembimbing tersebut hanya tersenyum penuh ambisi. Beliau sengaja betul membuat isu karena pimpinan Ponpes datang dengan mobil dinas MST.
“ yaa ustadz gk tahu, tapi yang jelas sudah ada laporannya ke sekolah. Dia membangkang dengan ustadz pembimbingnya. Malam ini dia dipulangkan bersama dengan pimpinan sekolah” kata beliau dengan senyum simpulnya. Teman-temanku semakin cemas. Yaa hanya kami bertiga yang belum datang ke posko. Dan secara otomatis kami dianggap sebagai orangnya. Tapi, saat itu kami sedang menunggu jemputan teman untuk berangkat ke posko karena mobil angkutan tidak ada lagi dan juga sudah terlalu sore. Kami bertiga tidak berani lewat jalan yang kiri kanannya hutan. Menakutkan, terlalu menakutkan bagi kami yang pendatang baru. Sebenarnya kepala desa sudah menawarkan diri untuk mengantarkan kami, tapi tidak tahu kenapa aku merasa ragu dan memilih untuk menunggu teman saja.
“ siaapaaa ustadzz...??” teman-temanku terus saja menanyakannya.
“ yaaa, coba tanya ke pimpinan pondok saja, beliau tahu tu..” teman-temanku masih saja merengek supaya rahasia ini bisa bocor. And finally,
“ mungkin saja Ayu atau Intan. Toh dari tadi kita gak melihat mereka kan...” spontan ustadz itu menjawab setelah didesak-desak temanku.
“ gak, gak mungkin ustadz. Intan dan ayu kan baik-baik aja disini. Gak mungkinlah ustadz...”
“ ya sudah kalo gk percaya sama ustadz tapi yang jelas mereka gak ada kan sekarang. Jaadi yaa bisa aja mereka dipulangkan sembari pimpinan pondok disini. Kan mobil dinas dibawa ke parabek lagi.” Teman-temanku sungguh khawatir, mereka mencoba menghubungi kami tapi apalah daya, sinyal telkomsel saat itu tidak ada sama sekali.
Ustadznya juga menambahkan,” dan satu lagi, KU kita ditambah 10 hari lagi karena masyarakat disini suka kalo kita bisa membantu lebih banyak lagi “ mereka semakin terbawa suasana sedih dan bingung. KU ditambah? Bagaimana pula ini? Uang jajan, perbekalan sudah habis semuanya..
Bahagia bgt wktu berjumpa, :D
Aku yang datang terlambat benar-benar tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. Sebangetan ne ustadz jadiin aku bahan lelucon. Hampir semua temanku menjadi prihatin dan gak percaya. Ya gimana gk mau percaya secara beberapa hari yang lalu, aku memang merajuk dengan ustadz pembimbing dan juga sempat marahan dengan teman satu kelompok. Lucu-lucu aja kaaan...
Selain itu, juga ada cerita-cerita yang lebih cetar membahana. Aku benar-benar merindukannya. Rindu akan suasana Dharmasraya yang panas, rindu dengan adik-adik MDA yang semangat mengaji, anak-anak SD yang bahagia belajar bahasa arab dan masyarakat yang baik banget. Aku rindu saat kelompok tetanggaku yang mengatakan,” kami apalah, istri kedua dari ustadz pembimbing, kami dianak tiri kan sama ustadz, beliau lebih memilih kalian dan kami ditelantarkan sama sekali” hahaha. Entah darimana dapat pikiran itu. Aku hanya tersenyum.
Jadi teringat ucapan polosku waktu kelas 1 aliyah dulu, “Semestinya kita santriwati menjaga batasan dengan santriwan. Gak ada yang namanya berbaur dalam mengerjakan tugas sekolah. Kalo sekarang saja kita sudah berbaur dan merasa nyaman saja apalagi nanti waktu Khidmatul Ummah. Intan gak bisa bayangkan kalo nanti pas KU kita bebas main dengan santriwan tanpa ada batasan. Makanya dari sekarang kita harusa jaga jarak dengan santriwan.” Kalimat ini ku ungkapkan ketika kami harus mengerjakan ujian praktek bahasa inggris kelas 1 aliyah dulu. Ah masih keingaat sampe sekarang, gk nyangka aja udh bisa sebijak itu padahal masih 1 aliyah. Hehe..
Ah masa-masa KU yang penuh warna dengan kisah-kisahnya. Aku tahu KU yang 10 hari tidaklah berarti apa-apa. Tapi yang kupahami adalah KU sebagai jembatan persahabatan kami, sebagai bentuk Pengabdian kami kepada Masyarakat umumnya. Dan aku bangga, bangga sekali pernah mengikuti KU. KU ala santriwan/wati yang tetap menjaga sebagai muslim. Ah masa-masa itu adalah waktu yang tak terbilang lagi. KU yang penuh sensasi, canda tawa dan kenangan yang tak terlupakan.
           
                                                                        "Sebuah Kenangan yang Begitu Indah untuk dilupakan"
by : Ii-ef-eM
        Rabu, 21 mei 2014
jelang shalat Isya di Pekanbaru >_<