Pages

Senin, 09 November 2015

Tamaik Lai Intan !!!

           Sore itu aku kembali membuka grup WA Alfatih-Elkhansa. Grup kawan-kawan satu angkatan Parabek dulu. Ceritanya mau masukkan salah satu kawan yang baru punya WA eh ternyata salah ketik dan daan inilah jadinya Boy. Aku diseru-seru untuk “Tamaik lai Intan!!!” oleh satu kawan yang dia nya sudah Sidang Akhir. Orangnya bukan mahasiswa lagi dan entah apa yang dia lakukan kini setelah siding akhir itu. Dia yang tak setia kawan, duluan sidang dan meninggalkanku disini sendirian. Please Ti, kalimatmu tepat menghujam jantungku.
Satu kalimat singkat yang Oh My God, sulit kali mengabulkannya. Ok, setidaknya aku mulai serius mengerjakan tahapan akhir itu. Oalaah jadi satu semester kemaren ngapaian aja Ntaaan? Fine, setidaknya proposal usul telah rangkum kukerjakan dengan sepenuh hati. Meskipun meskipuuun aku belum mempelajarinya lagi. Upszz. Yuph, ini lagi mengerjakan Presentation powerpoint nya lagi ha, tenanng laaah. Aku ingin membuat presentasi yang nantinya dosen penguji itu memberikan tanggapan Wow, Amazing, Keren, Bagus-bagus, dan kata yang bersinonim dengan itu. Tapi yaa, segalanya butuh proses kan, jadilaah 2 hari ini berkhayal entah ke negeri mana untuk mengungkapkan ide brilian itu. Tapi tetaaap aja kosong melompong slide nya. But never mind, segalanya akan aku usahakan kini. Membuat bahan presentasi yang “Wuih, Keren” itu dan daaan  menjadi pemakalah yang patut diacungi jempol oleh dosen penguji. Semoga lah ide brilian itu gak lari kemana-mana sebelum dituangkan menjadi sebuah gambar.
Tamaik lai Intan !!! kalimat itu seperti panah tajam yang biisst langsung nanjep di hulu hati dan tidak bisa dicabut paksa. Dia hanya bisa dilepas seiring dengan Baju “Harry Potter” yang terpasang di badan. Hanya itu, hanya itu yang menjadi obat dari pesakitan ini. Ah, jujur itu kata yang sangat pedas melebihi cabe rawit Ayam Penyet di Goeboek Pedas jl Kamboja. Rasanya ngilu hingga tulang pun terasa akan retak. Aliran darah terhenti sejenak hingga aku mati rasa seperkian detik. Kalimat yang hampir membunuhku. Dia sungguh menjadikan jantungku memompa lebih kencang dan otakku seakan berhenti bekerja. Pikiranku tiba-tiba saja blank dan aku tidak ingat  apapun lagi. Aku seakan dibius oleh suntikan tajam yang menyakitkan. Membungkam mulutku hingga aku tak bisa lagi berteriak minta tolong.
pengen dapet hadiah ini waktu wisuda nanti :D
Aaarrgh, geram memang, ketika kawan-kawan yang dulunya satu kelas, kawan-kawan yang dulunya masih menuntut ilmu di parabek, kawan-kawan yang dulunya satu seragam kini mereka sudah Sarjana. Mereka telah menambah dua-tiga huruf di belakang nama mereka. Membuat diri mereka menjadi kebanggan orang tua. Dan menambah deretan panjang para pencari kerja tentunya. Hehe, so sorry friends, I do not mean like that but that's the reality in our country.

Seminggu ini aku mengasingkan diri ke rumah kakakku di Duri. Menjauhkan diri dari segala aktivitas yang ku lakukan di kampus. It’s meaning, aku tidak hanya berkutat memusingkan masalah “biodiesel” ku saja Kawan. Di kampus Melayu ini aku masih memegang kendali sebagai prajurit di Istana Megah. Ya meskipun aku juga tidak melaksanakan amanah itu dengan begitu baik. Tetapi hati ini terus saja risau ketika prajurit lain menghilang, selalu gerah ketika prajurit lain tidak ada yang peduli dengan Istana Megah di kampus. Actually, aku bukanlah kurir kerajaan yang bisa dipercaya oleh raja Istana. Aku mencoba kabur dari Istana itu tapi apa yang kudapatkan setelah itu, aku malah semakin terikat dengannya. Hatiku yang mengikatnya kuat hingga tangan dan kakiku tetp saja berlari ke Istana Megah itu. Ah, Istana Megah beratapkan langit biru yang suci, engkau masih saja membawaku padamu padahal aku bukanlah prajurit yang baik seperti dulu. Salah satu teman terlama ku (read :sahabat 6 tahun) memberiku solusi tentang ini, “Sudahi semua itu dan fokuslah menjadi mahasiswa tingkat akhir Ntan. Jika berada disana membuat kau terus mengeluhkan keadaan, untuk apa lagi bertahan disana? apakah keluhanmu akan mengubah segalanya padahal kau hanya satu dari ribuan prajurit di Istana Megah itu?” Ah teman, aku pun tak mampu memahami qalbuku kini. Macht nichts, ist alles was geschieht.

Tamaik lai Intan !!!. semakin ku ingat kalimat itu semakin kupercaya bahwa kalimat kutukan itu bukanlah kutukan yang sebenarnya. Itu adalah doa dari teman-temanku. Doa yang dengan spontan terlontar dari mulutnya. Doa yang membuat semangat ku bangkit lagi. Doa yang akan diijabah sesegera mungkin oleh Sang Khalik. Doa yang ketika diucapkan disaat hujan turun dengan derasnya akan segara terjadi. Doa yang ketika didengar oleh malaikat, malaikat akan segera datang ke ArsyNya dan berkata “ ya Tuhanku, kabulkanlah permintaan dari hambaMu”. Doa yang ketika ku torehkan di hati akan membekas selalu. Doa yang mengikis rasa pesimis yang menyelimuti pikiranku. Doa yang membuat diri ini bangkit dari rasa putus asa. Doa yang ketika dibaca berkali-kali akan menjadi sebuah mantra Harry Potter yang akan mengalahkan Master Shadow. Doa yang semakin kuingat semakin membuat ku tersenyum sendiri. Aku tau, aku tau hanya sekedar dengan mengingat kalimat singkat itu saja, tapi dengan kalimat pendek itu, aku berusaha mempelajari jurnal-jurnal Biodieselku. Mencoba memahami segala tulisan yang berhubungan dengan Biodieselku. 
PPI DUNIA dan I-4
Dan tidak itu saja pemirsaaah, dengan mantra anti mainstream itu, aku mulai bermimpi. Membayangkan aroma musim gugur di eropa sana. Daun-daun maple yang jatuh tertiup angin lembut. Suasana yang berubah kuning kecoklatan. Ah, Autumn in Eropa, kapan aku kan menyentuh daun maplemu? Yaaha, dengan kalimat Tamaik lai Intan !!! aku juga berusaha menggapai impianku, menjajaki tanah eropa yang penuh dengan pesonanya. Aku tau, aku harus menyelesaikan skripsweet ku terlebih dahulu, tapi apa salahnya jika aku juga ingin bermimpi melihat langit biru dari jendela apartemenku di Jerman sana. Kata Tamaik lai Ntan !!! mengajakku untuk kepo tentang Eropa. Aku mulai menonton Channel Rick Steve’s Europe. Sebuah channel youtube yang membawa Uncle Rick keliling dunia. Menceritakan segala bentuk kehidupan dan pariwisata di seluruh dunia. Oh Uncle Rick, bolehkah aku menggantikanmu barang 2-5 episode untuk menguak kekayaan alam dan sejarah negara di Eropa? Dengan Tamaik lai Intan !!! itu aku mulai memperhitungkan kembali Negara tujuan, fokus studi dan masa depan yang akan kulakukan nanti. Aku mulai meng-like segala fanspage PPI negara di seluruh dunia, join grup PPI nya dan beberapa grup Islamic community nya. Aku bertekad akan segera menyusul orang-orang sukses di luar negeri sana. Yaa, hari ini aku hanya bisa update aktivitas mereka di media sosial tapi lihatlah nanti, aku harus berjumpa langsung dengan mereka. Bercengkerama, berdiskusi ilmiah dan kalau perlu menjadi bagian dari mereka, yaitu Persatuan Pelajar Indonesia di luar negeri. Aku harus memastikan diriku menjadi bagian dari mereka. tak hanya itu, aku juga harus menjadi bagian dari I-4. Sebuah organisasi Ilmuan Indonesia yang berdomisili di luar negeri. I-4 sebuah perkumpulan para ilmuan Indonesia yang bekerja di luar negeri. 

Hari ini, aku berjanji untuk sesegera mungkin memenuhi mimpi-mimpiku. Toh aku sudah meng-like dan join grup nya, jadi apalagi yang menjadi menghalang untuk mewujudkan impianku itu? Ah kata kawanku, Tamaik dulu Intan !!! hanya itu yang menjadi tembok China ku. Oke kawan Alfatih-Elkhansa, doakan “Intan” kalian bisa terbang ke negara tujuan dan menjadi Agent of Change serta membuktikan pada dunia bahwa segala apa yang dimimpikan bisa menjadi kenyataan. Bukankah Chemical Engineering-mu mengajarkan untuk tidak gampang menyerah seperti ketika kau mengerjakan Tugas Rancangan Pabrik dulu Intan ? Jadi bersiap-siaplah untuk menyambut musim Summer di Eropa. 

Selamat Sore untuk Kota Minyak, Duri-Riau
Senin 09 November 2015