Pages

Rabu, 05 Agustus 2015

My Job My Adventure



            Cerita ini aku beri judul My Job My Adventure karena kami terinspirasi dengan acara “My Trip My Adventure“. Kerena kami adalah para pekerja, maka kata My Trip di tukar dengan My Job. Biar saat kerja, terasa pengalamannya dan bisa bikin hati tambah seneng waktu membersihkan kamar. Ya selain itu, biar hati ini selalu merasa ringan ketika mengerjakan segalanya alias rangkap jabatan.
            Liburan Idul Fitri tahun ini, aku pulang kampung ke Bukittinggi. Senang campur bahagia bro. iyaalah udah lama banget rasanya gak pulang. Di hari pertama lebaran, kami sekeluarga shalat di Mesjid Jami‘ Ladang Laweh. Mesjidnya masih dalam proses pembangunan jadinya kami berdesak-desakan shalat dengan jamaah yang lain. Shalat ied seperti biasanya dan tentu mendengarkan khutbah hari raya. Sepulang dari shalat, kami makan bersama di rumah. Ya hal-hal biasa yang dilakukan. Setelah beberapa jam berleha-leha sambil menonton TV, Ibupun memanggilku untuk membersihkan daun-daun busuk di pekarangan rumah. Yaah, sedih memang mencabut daun-daun kering disaat orang-orang lewat tapi gak masalahlah toh mereka tak mengenaliku dan aku juga tak kenal. Hehehe
            Hari kedua lebaran, aku tetap saja masih berleha-leha di rumah. Jam 10 pagi, tanteku tiba-tiba bilang kalau kita akan ke panorama. Lah, ngapain? Lebih tepatnya ngapain ntan juga diajak-ajak. Lagi seru-serunya nonton K-Drama di TV nih. Akhirnya dengan tergesa-gesa aku memasukkan dua pasang baju,bawa laptop dan peralatan mandi ke dalam tas. Sebenarnya gak tahu sama sekali mau ngapain di Hotel panorama, tapi gak papalah. Mungkin bisa menikmati makan bakso setiap sore, beli sandwich, es cendol dekat gerbang masuk ngarai sianok. Trus bisa ke pasar bukittinggi. Itu pikiran konyol yang sama sekali gak pernah bisa terjadi.
             Hari pertama di hotel, aku dipekerjakan sebagai resepsionis. Istilah lain dari tukang nyatat orang yang mau nginap, minta KTP nya plus uang pembayaran penginapan. Gampang kaan. Ih, gampang banget malah. Beberapa jam setelah itu, datanglah dua cewek, mahasiswa STAIN semester 5 yang katanya mau kerja di hotel. Anes dan Miming namanya. Anes berasal dari payakumbuh dan miming dari pangkalan dekat jalan kelok Sembilan. Wah, wah jauh banget kan kalo mau ke bukittinggi ini. Sorenya adik bungsuku (husen) datang dan membawa lauk karena kami pergi tergesa-gesa tanpa memikirkan makan. Beberapa saat setelah itu datang juga dua orang cowok yang sama-sama mau kerja, Anoy dan Lutfi. Lutfi orang sariak dan anoy, eh lupa deh tempat tinggalnya. Maaph ya
            Hari kedua kerja, posisiku beralih menjadi orang yang menemani calon penginap melihat-lihat kamar. Dua tiga kali naik turun tangga ternyata melelahkan juga. Menjelang siang, penginap mulai check out dan mulailah kami beralih profesi masing-masing. Bertiga awalnya, aku, anes dan miming membersihkan kamar hotel. Mulai dari membersihkan kasur, melipat selimut, menyapu, mengepel dan membersihkan kamar mandi serta membuang sampahnya. Alamaak, aku benar-benar tidak menyangka kalo penginap-penginap hotel terkadang sewenang-wenangnya saja membuang sampah di kamar. Mungkin mereka berpikir akan ada yang membuang sampahnya. Ada juga yang tidak membersihkan tempat tidurnya, iyaa sih itu mungkin karena anak-anak mereka tapi aku terheran-heran saja awalnya. Apa mungkin di setiap hotel seperti ini? Merepotkan juga yaa.
para Pekerja di Hotel Panorama
            Hari-hari berikutnya juga seperti itu. membersihkan kasur, kadang menukar alas kasurnya dengan yang baru, menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi dan membuang sampah.di pagi, selalu rutinitas seperti itu. hingga beberapa kali kami tidur-tiduran dulu di kasurnya karena capek bolak balik naik tangga. Ya pekerjaan macam ini kami lakukan sambil bercanda jika penginap baru check out dan belum ada yang masuk lagi. Seru kali boy, karena membersihkan kamar bersama-sama. Jadi punya tugas masing-masing jadi membersihkan kamar tidak berat.
            Jadi aku mulai bercanda dengan yang lain karena mereka juga orangnya lucu-lucu. Anes yang selalu menyapu karena dia memang suka bersih, aku menukar alas kasur jadi otomatis naik turun tangga, miming yang entah kenapa suka sekali membersihkan kamar mandi, lutfi yang mengepel lantai dan husen sebagai asistennya merangkap sebagai juru kunci kamar. Hahaha. Setelah jam 12 siang, biasanya pekerjaan membersihkan kamar selesai. Jadi husen balik ke rumah sambil membawa barang-barang yang kotor jadi dia merangkap pekerjaan juga. Nah lutfi juga pulang dan mereka kembali sore lagi. Nah tinggallah kami bertiga dengan tante ku juga. Jadi kami berganti menjadi resepsionis. Masalah harga kamar, itu kami serahkan kepada tanteku karena aku trauma menetapkan harga kamar. Kami jadinya hanya pekerja yang membersihkan kamar dan menemani calon penginap melihat kamar.
Hotel Cendrawasih di Panorama, BKT
            Keseruan selalu terjadi ketika membersihkan kamar hotel. Kami menemukan pepsodent di kamar mandi, kadang menutup hidung ketika membuka kamar karena kamarnya bau rokok, kadang tidur-tiduran dulu di kasur karena terlalu capek membersihkan kamar, kadang berteriak menanyakan apakah kamar ini sudah disapu atau belum, kadang mengeluh karena kamarnya terkunci dan kuncinya tertinggal di meja resepsionis. Ah lucu-lucu laaah. Kadang aku sampai ngos-ngosan karena ngambil alas kasur yang baru. Kadang anes sampai termenung sendiri karena nyapu terus, miming yang selalu tertidur di kasur saat membersihkannya. Lutfi yang terdiam karena menunggu anes menyapu, supaya lantainya di pel. Husen yang hanya berdiri di pintu menunggu giliran kerja untuk mengunci pintu. Ada juga kami bertiga membersihkan satu kamar dimana kamarnya kena banjir. Iya banjir betulan karena air dari kamar mandi keluar dan sampai ke bawah kasur. Untungnya kasur tidak basah akan tetapi kami terpaksa mengangkat kasur springbed besar itu ke atas meja dan mengeringkan lantainya segera. Sampai-sampai ke sudut belakang lemari aku membuang airnya. Sungguh itu pekerjaan yang paling berat dan paling menyenangkan. Berat karena kalau tidak hati-hati air akan membasahi kasur dan lemari. Menyenangkan karena baru kali itu aku merasakan bagaimana membersihkan kamar dari musibah kebanjiran lokal itu.
            Dua hari terakhir, segerombolan monyet datang mengunjugi hotel. Mereka masuk tanpa izin melalui pagar belakang di lantai 2. Awalnya aku merasa ada yang aneh saat tiba-tiba terdengar bunyi toples yang jatuh. Tapi sengaja aku diamkan karena tak berani naik ke lantai 2. Akhirnya dengan penuh keberanian, miming pergi ke lantai 2 dan terlihat jelas gula, teh celup dan kopi berserakan di lantai 2. Cepat-cepatlah kami membersihkannya, kalau saja tanteku tau kejadian naas itu, Innalillah segalanya. Di hari terakhir kerja, kami berlima asli kecapekan. Karena hanya tiga kamar yang terisi jadi rutinitas pagi agak terlambat memulainya. Menyapu teras depan lantai 2 santai-santai.  Buang sampah juga berleha-leha. Dan yang paling sebelnya lagi, para penginap juga sengaja berlama-lama di kamar hotel sehingga menghambat kerja kami. Mungkin merasa hari itu pekerjaannya tidak banyak, tanteku tidak mengajak kami sarapan. Mungkin dia juga sibuk dengan urusannya di kamar. Jadi kami yang diluar, sumpah asli kelaparan tingkat tinggi. Miming yang sedang membersihkan dapur dan kulkas segera menyisihkan nasi dan lauk yang tersisa. Meletakkannya diatas mangkok besar di atas meja. Tapi tak satupun kami berminat menyentuhnya. Akhirnya dengan segala keterpaksaan, kami menyuapnya sesendok demi sendok. Dan satu lagi, di hari terakhir kami di hotel, segalanya berubah. Tiba-tiba listrik di hotel itu tidak berfungsi, sepertinya ada konslet tapi kami semua tidak tahu penyebabnya dan akibatnya kami tidak bisa menonton TV, mengcharger hp dan lainnya. akhirnya sambil menunggu tante balik dari urusannya kami seperti patung selamat datang di hotel itu. berdiam diri tanpa tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Menyapu lantai sudah, mengepel juga sudah selesai. Membersihkan kamar selesai, membereskan pakaian ke dalam tas juga sudah. Asli menit-menit yang membosankan waktu itu. akhirnya sekitar jam 12 tanteku kembali ke hotel. Daaaan, kami duduk berenam di sofe depan meja resepsionis. Tanteku memberikan petuah sebelum hotel ditutup. Daan yang paling keren adalah kami diberi gaji yang sesuai lah selama 10 hari ini. Senaang kali laaah,
            Untuk teman-teman sesama rekan kerja di hotel panorama,saya ucapkan terima kasih atas kerja sama kita selama 10 hari itu. Tanpa kalian, saya pun tak sanggup mengerjakan ini-itu sendirian. Terima kasih kepada anes yang orangnya selalu mengingatkan saya. Kepada miming yang bisa diajak jalan-jalan. Lutfi yang becandaanya gak pernah garing. Husen yang selalu bisa diandalkan. Kapan-kapan kita akan berjumpa lagi yaaaa.

Empat tahun atau Empat puluh tahun (Part 3)

Malam ini setelah berhari-hari nge-lab di kampus, akhirnya bisa bermalam minggu bahagia. Yahaa, bayangin aja coba gue harus nyampling per tiga puluh menit gara-gara sang pembimbing tercinta memberikan ide cemerlangnya untuk meng-kinetika proses transesterifikasi biodiesel. sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam ini, saya merasa bahwa menyedot hasil proses transesterifikasi per 30 menit itu gampang banget tapi ternyata menguras tenaga juga boy. Tapi apalah daya, waktu telah mengubah segalanya meeen.
Empat tahun sebenarnya sudah terlewati 1 hari kemarin tepatnya diakhir bulan juli 2015 ini. Loe gk percaya, oke cek aja KTM gue yang validasinya cuma sampe bulan juli 2015. Dan gue baru tersadarkan setelah masuk 1 agustus ini. Alamak, udah jadi anak illegal gue di kampus teknik ini. Eh ngomong-ngomongin 4 tahun sebenarnya memang udah waktunya saya get out dari kampus ini tapi apalah daya boy. 1 tahun terakhir ini telah menjadi saksi bahwa keinginan tidak selalu berjalan dengan mulus. 4 tahun ini telah membuktikan bahwa calon-calon sarjana teknik tidak selamanya mengakhiri masa “senang-senang”nya dengan baik. Loe gk percaya ? buktinya di 4 tahun ini, hanya 2 teman kami yang berhasil lolos menjadi sarjana teknik, yaitu Fydel setiadi, ST dan Ella Awaltanova, ST. I’m proud of them as Chemical Engineer. Kami akan segera menyusulmu, teman. Sesegera mungkin seperti tayangan film terbaru di TV.
Empat tahun sudah berlalu teman, dan aku masih saja bangga menjadi mahasiswa teknik. Sebenarnya tidak sebangga ketika pertama kali menginjak tanah fakultas teknik tapi bangga mengejar-ngejar dosen pembimbing penelitian, mengantri alat-alat lab, memegang gelas piala, reactor, erlemenyer dan bahan-bahan kimia yang sangat mudah menguap dan paling bangga melihat hasil-hasil kerja di lab. Meski disisi lain merasa bahwa penelitian ini butuh waktu yang sangat panjang untuk menyelesaikannya. Tapi demi sebutan “sarjana” apapun harus dilalui dengan senyuman. Ya gaaaak ???
Kesibukan hari-hari ini adalah bangun pagi, bergegas mandi tanpa sarapan, berjalan cepat menuju lab tanpa singgah ke tempat lain. Langsung menimbang-nimbang bahan, pasang reactor dan tunggulah hingga berjam-jam. Berhari-hari melakukan rutinitas seperti itu hingga akupun hafal prosedurnya dengan cepat. Hehehe. Hingga tidak ada lagi kesempatan bertengger di lantai 2 untuk wifi-an dan makan siang di ampera-an. Sedih memang tapi kesedihan itu berlahan hilang ketika mata ini memandang CPO yang tercampur dengan katalis ZnO itu. Semuanya sirna ketika mencuci peralatan penelitian. Semuanya hilang seperti tidak terjadi apa-apa. Lebay kali laah
Tapi empat tahun sudah berakhir teman, berakhir dengan memalingkan wajahnya dariku. Diri ini menyedihkan sekali ditinggalkan empat tahun itu. Empat tahun adalah target kuliah setiap orang, empat tahun adalah masa untuk menunjukkan bahwa kita bisa melewati masa perkuliahan dengan baik. Ah, ini bukanlah sebuah penyesalan boy, hanya saja menjadi perbandingan bahwa dengan masa empat tahun segalanya bisa terjadi. Kukuatkan hati yang mulai goyah.
Setelah empat tahun ini berakhir, aku harus menata masa depan. Menyusun strategi kehidupan. Memulai untuk merencakan apa saja yang harus aku lakukan setelah mendapatkan gelar sarjana. Apakah aku harus meneruskan studiku ke jenjang S.2? lalu mau mengambil jurusan apa lagi? Teknik kimia lagi? Entahlah. Kata senior, kalau mau mengambil jurusan yang sama, itu tujuannya kalau mau menjadi dosen. Alamak, jadi pengajar. Emang sih salah satu tujuan belajar di teknik kimia adalah menjadi seorang dosen tapi itu bukan tujuan utama. Masih banyak industri proses yang menunggu sarjana-sarjana teknik. Tapi memasuki dunia kerja macam itu apakah aku sanggup dengan kondisi seperti ini. Entahlah, apakah aku saja yang pesimis dengan nasibku? Disisi lain dunia kerja industri memiliki peluang yang besar. Iya sih tidak sebesar ketika laki-laki melamar kerja di industri-industri proses tapi pastilah ada lowongan kerja untuk perempuan. Kan mereka juga tau kalau anak teknik gak cuma anak laki-laki.
Tapi dibalik keresahan mahasiswa akhir seperti aku ini tidak akan berlangsung lama, Insya Allah. Karena akan selalu ada Allah SWT yang menuntun kita ke jalan yang benar selama kita juga berpegang teguh, beriman kepadaNya. Apapun rencana yang kita buat pastilah Allah punya rencana yang jauh lebih baik dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita. Selama perbuatan itu bermanfaat, apa salahnya kan. Tapi yang paling penting kita harus berusaha menjadi yang terbaik. Ok. Salam perjuangan dariku untuk mu teman-teman seperjuangan yang memperjuangkan hak sarjananya, dimanapun berada.



Research Week ^_^

Sore-sore gini, gue tetap nongkrong di lab tercinta. Ya ngak ngapa-ngapain sih cuma nunggu hasil biodiesel nya di vakum sama kk ifa di lab kimfis. Hhm, males ke lab sana soalnya jadilah berdiam diri di lab ini. Seharian tadi juga nge-run biodiesel. Alhamdulillah hari ini gak terlalu capek,hehe. Soalnya gak ada mengukur kadar asam dan kadar sabun. Eh, bayangin aja tiap 30 menit nyampling, ambil sampel trus langsung mengukur kadar sabun dan kadar asam. Udah buta warna parsial aja kami karena gak bisa lihat warna pink di campuran biodiesel dengan pelarut. Tapi syukur deh hari ini free itu dulu. Mata udah kunang-kunang rasanya.
Naah, itu tu pengalaman seminggu nge-lab. Dan bakalan ada 10, 20 hari bahkan mungkin 30 hari lagi melakukan hal yang sama setiap harinya. Menimbang CPO, katalis dan H2SO4. Buka H2SO4 aja rada-rada takut, sampai-sampai harus pakai sarung tangan lab. Yaa, gak menjamin juga sih kalau cuma pakai sarung tangan aja. Tetap aja ngebayangin, jangan-jangan botolnya tersenggol trus pecah kena rok dan dhuaar, terbakar deh. Bayangannya keterlaluan banget kaaan. Belum lagi nuangin toluene yang bau nya minta ampun. Udah ngerasa jadi menghisap lem cap kambing aja tau.  Iyalah baunya yang semerbak itu bikin kepala pusing dan berpikir untuk lebih baik pingsan deh daripada mencium bau toluene. Tapi Alhamdulillah deh sekali lagi, gue gak pingsan beneran setiap nuangin toluene . 
Gitu deh suasana seminggu terakhir ini. Ditanya capek, yaaa iyaalah gue capek banget, pake banget tau. Belum pernah ngebayangin penelitian sekomplek ini bro, mungkin teman-teman yang lain juga seperti yang aku alami. Bolak-balik menyuci alat lab, nimbang bahan-bahannya, trus ngukur kadar asam dan kadar sabun dan sebagainya. Ya lebih kurang gitu deh rasanya. Tapi kalau gak gitu, ya kapan lagi coba penelitiannya. Namanya juga penelitian tentang biodiesel, yang rumitnya minta ampun. Dari mempersiapkan katalisnya, trus menvakumnya ke lab TBAM (istilahnya numpang dan minjam alat vakumnya) selanjutnya men-ovennya ke lab TRK (ini numpang lagi) dan meng-kalsinasi dan aktivasi ke lab FMIPA (ini benar-benar menumpang sama orang kami). Trus balik lagi ke lab produk untuk proses esterifikasi-transesterifikasi CPO. Gampang kok, Cuma tinggal tuang-tuangin aja bahan-bahannya. Yang sulit itu waktu mau mengukur kadar asam-sabun dan sebagainya deh. Naah itu tu bikin perasaan campur aduk antara capek, males, pusing dan ngasal. Hahaha. Dan terbayanglah gimana untuk 36 kali run lagi. Alamak, ke kasur aja deh, bobok.

Perjuangan ini sih belum seberapa kalau ditambahkan dengan pembuatan proposalnya. Bayangin aja deh start buat proposal mulai bulan januari 2015 dan pertama kali revisi tanggal 26 februari 2015. Yaa pas bulan januari sih bertepatan dengan libur semester dan aku lebih memilih untuk liburan daripada revisi-an. Masih gak percaya dengan kenyataan. Dan sejak revisi pertama, hati ini mulai ditumbuhi bunga-bunga mawar tapi masih tumbuh doank, belum berbunga. Masih galau-galaunya dengan dosen pembimbing. Hati ini masih gak percaya bahwa tidak ada lagi mata kuliah yang menghalangi untuk menjadi alasan supaya tidak  revisi. Dan loe tau akibatnya, setiap tiga hari sekali, gue sengaja nongolin diri, berjamur nunggu dosen kesayangan di depan ruangan prodi S.1. ya awalnya kasak-kusuk baca hasil revisi-an dan 5 menit setelah itu nge-googling deh. Hahaha. 2 jam berlalu, sang dosen datang tergopoh-gopoh sama anaknya yang imut banget. Datang dengan wajah sumringah karena beliau seneng banget kalau ada mahasiswa yang berwajah putus asa nunggu beliau. Paling bahagia banget gitu. Trus, gue sebagai salah satu mahasiswa korban kesewenangan dosen berdiri mematung seperti patung hiasan di museum. Sedikit tersenyum, supaya sang dosen sadar kalo beliau yang ditunggu berjam-jam. Sedih memang, mana perut lagi lapar-laparnya. Tapi daripada kehilangan dosen, lebih baik kelaparan deh. Itu prinsip mahasiswa tingkat akhir boy.
Akhirnya setelah sekian kali revisi-an sampai-sampai revisi di ruangan prodi, proposal ini tidak perlu lagi ada perbaikan. Gitu sih kata sang dosesn. Eh besoknya jumpa beliau di lab dan serta merta menyatakan bahwa, “ya udahlah proposal intan itu. Saya rasa udah cukuplah kalo untuk seminar proposal. Ntar, kalau ada beberapa hal yang salah atau perlu ditambahkan, nanti saja waktu jadwal seminar udah keluar.” Saya syok berat atuh, mana penelitian dijadiin pakai kinetika reaksi lagi. Sesuatu kali lah Penelitian ini.
Tapi kalau dipikir ulang lagi, ternyata gini rasanya jadi mahasiswa tingkat akhir yang kerjaannya di lab. Yang paling sensitif dan risih kalo ditanya,”semester berapa dek?” paling malas dari sekian mahasiswa di kampus dan paling suka mengalihkan skripsi ke game online. Hehehe. Tapi dibalik itu semua boy, kami adalah mahasiswa yang hanya selangkah lagi menuju masa depan, menjadi calon-calon intelektual yang berwibawa, menjadi orang-orang kepercayaan dikalangan junior, ya iyalah semua tugas dan presentasi sebagian besar copy paste dari senior. Kan kami, senior gak pernah salah. Gak pernah tau !!!

Tapi, sebagai mahasiswa tingkat akhir, penyakit kegalauan mulai merajalela. Mengacaukan pikiran, yang awalnya semangat mengerjakan skripsi, lama-lama buyar karena game tampaknya lebih seru dikerjain. Mulai resah seiring sedikitnya lowongan kerja yang  dibuka. Dan mulai menggila dengan bertambahnya usia tapi isi dompet gak pernah nambah. Tapi aku, salah satu dari sekian banyak mahasiswa tingkat akhir akan terus mencoba menjaga hati untuk tidak berpaling dari skripsi, penelitian dan ujian kompre. Meskipun dari seminggu ada beberapa hari, lebih memilih untuk bermalas-malasan. Tetap semangat untuk berjalan setiap pagi ke lab. Demi menyempurnakan isi dari laporan penelitian. Dan pastinya demi menggapai gelar sarjana Teknik Kimia.
Buat teman-teman sesama mahasiswa tingkat akhir, saya berpesan bahwa jangan sekali-kali kita kalah dengan waktu. Biarlah, biarlah waktu mengikat kita setiap hari, memaksa kita di subuh hari untuk  bergegas ke kampus tapi ingatlah teman sesama mahasiswa tingkat akhir bahwa kita hanya tinggal selangkah lagi menuju masa depan. Ingat itu teman, masa depan sedang tersenyum malu menanti kita.

Rabu 5 Agustus 2015 3.29 WIB
sambil nungguin Katalis di Oven serta mendinginkan biodiesel
di lab produk, FT UR