Tau kan novel Pembangun Jiwa
Ayat-Ayat Cinta karya Novelis Habiburrahman El Shirazy? Ternyata kisah
Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2 diangkat dari tafsiran Qs. Az-Zukhruf ayat 67.
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
67. teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi
sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
Pada novel
ayat-ayat cinta 1 berkisah tentang kehidupan Fahri bin Abdullah Shiddiq. Ia
adalah seorang mahasiswa Universitas Al-azhar, Mesir yang menikahi Aisha gadis
bermata indah yang berasal dari Jerman yang sedang studi di Mesir. Kehidupan
bahagia Fahri terusik ketika sebuah fitnah keji menerpanya. Fitnah yang
dilontarkan oleh tetangganya, Bahadur yang membuatnya masuk penjara. Maria yang
juga tetangganya, gadis Kristen koptik mengetahui kebenaran peristiwa itu
akhirnya menjadi saksi di persidangan kasus Fahri. Aisha, istri Fahri
mengizinkan dia menikahi Maria karena Aisha tahu bahwa maria juga mencintai
Fahri. Beberapa waktu setelah persidangan, maria yang dalam kondisi sakit tak
sadarkan diri dan menggigau bahwa dia akan masuk surga tetapi terhalang oleh
sesuatu. Setelah terbangun, dia mengucapkan syahadat dan shalat dalam keadaan
berbaring di rumah sakit. Tak lama kemudian, kedua matanya tertutup rapat dan
akhirnya Maria meninggal dunia. Sediiiiiih cuuy.
But, lain cerita di Novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini. Kehidupan Fahri diceritakan
telah berubah 180°. Kali ini perjalanan
Fahri dimulai ketika ia sudah menjadi peneliti tamu dan sebagai tenaga pengajar
pengganti di bidang Filologi di University of Edinburgh, Inggris. Ia juga
memiliki toko butik AFO Boutique, mini market Agnina dan Resto halal Agnina.
Bisnis tersebut adalah bisnis Fahri dan Aisha bersama Ozan (sepupu Aisha). Saat
ini Fahri hidup sendirian, karena Aisha hilang bersama teman reporternya ketika
berkunjung ke Palestina. Di kawasan Stoneyhill Grove, Fahri tinggal bersama sopirnya
Paman Hulusi. Bertetangga dengan orang islamphobia, tak lantas membuat Fahri
menjadi sosok yang sombong. Ia tetap menunjukkan adab bertetangga baik sesuai
ajaran Islam. Ia membiayai sekolah Jason dan Keira hingga menjadi juara dunia
meskipun pada awalnya mereka sangat membenci Islam. Ia juga membeli kembali
rumah nenek Catarina yang dijual oleh anak tirinya yang seorang Yahudi dan
Amelek dan ia juga menolong tuna wisma bernama Sabina untuk tinggal bersamanya
serta membantu semua kebutuhan Misbah, temannya sewaktu di Mesir. Kegalauan
Fahri muncul ketika Guru Talaqqi nya menasehati Fahri untuk menikah lagi. Ada beberapa
perempuan yang berada disekitar Fahri dan pantas dijadikan istri, yaitu Yasmin,
cucu dari Syekh Usman, Heba, putri dari Tuan Taher dan Hulya, adik sepupu
Aisha. Jadi siapkah Fahri melupakan Aisha dan memulai kehidupan yang baru?
Oke, selesai sudah meresensi kedua novel tersebut yaaa. Kalau kamu masih
penasaran sama kisahnya, baiknya beli aja novelnya. Hehehe.
Sebenarnya saya gak cerita tentang isi novel
yang setebal 420 halaman dan 697 halaman itu tapi tanpa sadar aja udah ngerocos
menceritakan Fahri, sosok Idealis yang nyaris
sempurna. Kalau kata Kang Abik, tokoh Fahri adalah cerminan dari sosok Ulama
zaman dahulu atau sekarang yang ternyata ada dalam kehidupan nyata kita akan
tetapi tidak dikenal secara luas. Fahri dibuat sebagai tokoh yang idealis
bertujuan untuk memotivasi pemuda untuk memiliki keahlian di berbagai bidang
yaitu bidang agama, muamalah, debat dan tetap menjadi agen muslim yang baik. Ini
dilihat dari kesibukan Fahri menjadi Pengajar, mengurusi bisnisnya sampai
mengikuti Oxford Debating Union dengan seorang Yahudi yang Amelek yang membahas
isu agama.
Nah, di setiap karya dari sastrawan tentu saja mempunyai
amanah yang ingin disampaikan melalui tulisannya. Oleh Kang Abik, beliau
memberikan pesan melalui novel ayat-ayat
cinta 2 ini yaitu :
1. Berdakwah dengan keteladanan akhlak
2. Berbicara harus memiliki landasan ilmu yang
pasti
3. Islam harus difahami bahwa islam adalah agama yang membawa kasih sayang
dan penuh cinta
4. Dakwah kepada orang yang zalim harus tetap penuh cinta
5. Semangat luar biasa dalam mencari ilmu
