Pages

Senin, 15 Agustus 2016

Kajian Inspiratif dari Novel Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2



        Tau kan novel Pembangun Jiwa Ayat-Ayat Cinta karya Novelis Habiburrahman El Shirazy? Ternyata kisah Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2 diangkat dari tafsiran Qs. Az-Zukhruf ayat 67.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
67. teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.

Pada novel ayat-ayat cinta 1 berkisah tentang kehidupan Fahri bin Abdullah Shiddiq. Ia adalah seorang mahasiswa Universitas Al-azhar, Mesir yang menikahi Aisha gadis bermata indah yang berasal dari Jerman yang sedang studi di Mesir. Kehidupan bahagia Fahri terusik ketika sebuah fitnah keji menerpanya. Fitnah yang dilontarkan oleh tetangganya, Bahadur yang membuatnya masuk penjara. Maria yang juga tetangganya, gadis Kristen koptik mengetahui kebenaran peristiwa itu akhirnya menjadi saksi di persidangan kasus Fahri. Aisha, istri Fahri mengizinkan dia menikahi Maria karena Aisha tahu bahwa maria juga mencintai Fahri. Beberapa waktu setelah persidangan, maria yang dalam kondisi sakit tak sadarkan diri dan menggigau bahwa dia akan masuk surga tetapi terhalang oleh sesuatu. Setelah terbangun, dia mengucapkan syahadat dan shalat dalam keadaan berbaring di rumah sakit. Tak lama kemudian, kedua matanya tertutup rapat dan akhirnya Maria meninggal dunia. Sediiiiiih cuuy.

But, lain cerita di Novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini. Kehidupan Fahri diceritakan telah berubah 180°.  Kali ini perjalanan Fahri dimulai ketika ia sudah menjadi peneliti tamu dan sebagai tenaga pengajar pengganti di bidang Filologi di University of Edinburgh, Inggris. Ia juga memiliki toko butik AFO Boutique, mini market Agnina dan Resto halal Agnina. Bisnis tersebut adalah bisnis Fahri dan Aisha bersama Ozan (sepupu Aisha). Saat ini Fahri hidup sendirian, karena Aisha hilang bersama teman reporternya ketika berkunjung ke Palestina. Di kawasan Stoneyhill Grove, Fahri tinggal bersama sopirnya Paman Hulusi. Bertetangga dengan orang islamphobia, tak lantas membuat Fahri menjadi sosok yang sombong. Ia tetap menunjukkan adab bertetangga baik sesuai ajaran Islam. Ia membiayai sekolah Jason dan Keira hingga menjadi juara dunia meskipun pada awalnya mereka sangat membenci Islam. Ia juga membeli kembali rumah nenek Catarina yang dijual oleh anak tirinya yang seorang Yahudi dan Amelek dan ia juga menolong tuna wisma bernama Sabina untuk tinggal bersamanya serta membantu semua kebutuhan Misbah, temannya sewaktu di Mesir. Kegalauan Fahri muncul ketika Guru Talaqqi nya menasehati Fahri untuk menikah lagi. Ada beberapa perempuan yang berada disekitar Fahri dan pantas dijadikan istri, yaitu Yasmin, cucu dari Syekh Usman, Heba, putri dari Tuan Taher dan Hulya, adik sepupu Aisha. Jadi siapkah Fahri melupakan Aisha dan memulai kehidupan yang baru? 
Oke, selesai sudah meresensi kedua novel tersebut yaaa. Kalau kamu masih penasaran sama kisahnya, baiknya beli aja novelnya. Hehehe.
Sebenarnya saya gak cerita tentang isi novel yang setebal 420 halaman dan 697 halaman itu tapi tanpa sadar aja udah ngerocos menceritakan Fahri, sosok Idealis  yang nyaris sempurna. Kalau kata Kang Abik, tokoh Fahri adalah cerminan dari sosok Ulama zaman dahulu atau sekarang yang ternyata ada dalam kehidupan nyata kita akan tetapi tidak dikenal secara luas. Fahri dibuat sebagai tokoh yang idealis bertujuan untuk memotivasi pemuda untuk memiliki keahlian di berbagai bidang yaitu bidang agama, muamalah, debat dan tetap menjadi agen muslim yang baik. Ini dilihat dari kesibukan Fahri menjadi Pengajar, mengurusi bisnisnya sampai mengikuti Oxford Debating Union dengan seorang Yahudi yang Amelek yang membahas isu agama.
Nah, di setiap karya dari sastrawan tentu saja mempunyai amanah yang ingin disampaikan melalui tulisannya. Oleh Kang Abik, beliau memberikan pesan  melalui novel ayat-ayat cinta 2 ini yaitu :
1.      Berdakwah dengan keteladanan akhlak
2.       Berbicara harus memiliki landasan ilmu yang pasti
3.      Islam harus difahami bahwa islam adalah agama yang membawa kasih sayang dan penuh cinta
4.      Dakwah kepada orang yang zalim harus tetap penuh cinta
5.      Semangat luar biasa dalam mencari ilmu






Rindu menjadi Santri



Pernah menonton Film “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi atau pernah membaca novelnya? Bagiku menonton film ber-genre family ini mengingatkanku tentang sepotong puzzle kehidupan beberapa tahun yang lalu. Hari-hari yang begitu sempurna yang membentuk jati diri sebagai muslim di sebuah Pesantren yang memberikan andil besar dalam menciptakan kader ulama, umara’, aghniya’ intelektual. Kami dididik menjadi santri yang siap turut membangun peradaban Islam yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla dalam kerangka Rahmatan lil’alamin.
            Ingat salah satu adegan di film “Negeri 5 Menara” dimana salah satu Ustadz nya memberikan mahfudzat sakti “Man Jadda wa Jada” kepada seluruh santrinya hingga mengobarkan semangat belajar? Nah begitu juga yang terjadi dengan pesantren kami. Diawal-awal belajar di sekolah ini, kami langsung diajarkan salah satu bahasa dunia yaitu bahasa arab. “Madza darsunal aan? Darsunal aan allughatul ‘arabiyah” dua kalimat inilah yang pertama kali kami pahami meskipun pada awalnya sangat sulit diucapkan. Bayangkan saja, percakapan bahasa arab tidaklah sama dengan membaca alquran karena tidak ada istilah ikhfa, idzhar atau iqlab ketika mengucapkannya hingga kami kewalahan membaca teks bahasa arab. But, Actually I really miss this moment. Terima kasih ustadz yang telah membantu memperkenalkan bahasa surga tersebut kepada kami.
            Well, menjadi santriwati sejak kelas 1 tsanawiyyah tak lantas membuat diri ini ma’shum dari dosa. Satu atau dua kali malah pernah melanggar peraturan asrama seperti larangan berbahasa daerah atau bahasa Indonesia. Ingat banget waktu zaman-zamannya peraturan bahasa asing di asrama, aku dengan sekeras-kerasnya teriak bahasa Indonesia karena emosi lihat teman yang memancingku berbahasa Indonesia sehingga di cap sebagai Mukhalafatul lughah (pelanggar bahasa). Karena ini adalah kesalahan diawal kelas 2, jadi aku seakan-akan menjadi murid yang terburuk saat itu. Ya, meskipun gara-gara ini, satu dua peraturan asrama juga ku langgar. Uppszz
            Beranjak menjadi anak aliyah, tingkah polos tidak ada lagi tersemat pada diriku. Hahaha. Saat itu, kelas kami dipisahkan antara santri takhasush atau yang tidak takhasush. Jadilah kelasku diisi oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi, punya prestasi gemilang dan tentunya jauh dari pelanggar peraturan. Namun, jangan harap kami rukun dan damai ya. Disinilah awal dari permusuhan nyata antara santri yang berprestasi dengan santri yang biasa meskipun semester selanjutnya kami sangat akur dan damai. Hehehe. Dimulai dari keisengan santriwati membahas tentang Isbath (Memanjangkan pakaian dengan sombong) dalam mudzakarah mingguan yang pada akhirnya berujung tentang sindiran santriwan yang mengatakan kalau santriwati tidak bisa menjaga auratnya. Aku memang tidak terlalu menghiraukan sindiran mereka tapi tidak dengan temanku yang sangatlah sensitif. Dia menangis tersedu-sedu seakan dunia telah berakhir. Berhari-hari kami tidak saling sapa dengan santriwan sampai kami harus komitmen menutup aurat seperti memakai manset dan kaos kaki panjang. Ah, kisah haru yang tidak bisa kulupakan.
            Beranjak menjadi santri kelas 5 aliyah, kami diharuskan menjalani Khitmatul Ummah. Sebuah program studi yang mirip dengan Kuliah Kerja Nyata tetapi bedanya kami menjalaninya selama 10 hari. Disanalah persahabatan terjalin dengan sempurna. Pertengkaran yang sering kami lakukan telah sirna ketika 10 hari tinggal di negeri orang. Pertengkaran telah berubah menjadi persahabatan yang terjaga hingga hari ini, semoga tetap pada hingga akhir waktu. Aamiin
43 Bersaudara : Angkatan Al-Fatih dan El Khansa
            Ah kembali mengingat kehidupan 6 tahun itu seakan mengingat rangkaian puzzle yang sangat berharga. Hari-hari yang sangat berharga untuk dilupakan hingga hari ini. Setiap reuni yang kami lakukan akan selalu bercerita tentang kekonyolan yang berlalu. Akan tetapi hikmah yang luar biasa juga tak bisa hilang. Banyak ilmu yang telah dipelajari apalagi tidak semua ilmu yang bisa dicari saat ini. Seperti ilmu Manthiq yang diajarkan langsung oleh Alm. Syekh Imam Khatib Muzaakir atau lebih akrabnya Inyiak Khatib. Beliau sangat totalitas dalam mengajarkan ilmu Manthiq, cabang ilmu alquran yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Semangat beliau tak pernah padam meski sering ditegur karena berbahasa minang ketika mengajar. Selain itu juga ada ilmu Balaghah yaitu, ilmu yang mengarahkan pembelajarannya untuk bisa mengungkapkan ide pikiran dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian dalam menangkap keindahan. Pelajarn ini disampaikan oleh Ustadz Masrur, guru yang sangat baik tetapi paling cepat marah. Hihihihi. Ada juga ilmu Tasawuf yang diajarkan oleh Ustadz deswandi. Ilmu tasawuf yaitu ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Nah pelajaran tasawuf ini hanya mempelajari 5 halaman dalam satu semester, akan tetapi rincian di setiap kalimatnya menggambarkan bagaimana seharusnya kita berakhlak.
            Hari ini aku sangat merindukan pesantren. Bagaimana ketika ilmu-ilmu itu diberikan dengan penuh keikhlasan oleh ustadz dan ustadzahnya. Bagaimana ketika berakhlak dengan guru dan sesama santri. Ah, kenangan itu terus saja ada disetiap waktu. Semoga, jasa-jasa mu akan berbalaskan pahala disisi Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga sepotong kisah ini akan selalu diingat kapanpun dan ukhuwah islamiyyah akan selalu terjaga. Aamiin.