Hari ini aku kembali
membuka buku diary 2-3 tahun yang lalu. Membacanya perlahan halaman demi
halaman. Aku seakan melayang ke masa itu. Masa yang tidak pernah kusangka
sebagai mahasiswa baru. Aku, seorang alumni pesantren terjebak di situasi yang
tidak seharusnya kumasuki. Dan kau tahu, hari ini kenangan itu datang lagi. Menghantui
ku siang dan malam. Aku menyerah, sungguh aku tak sanggup melupakannya. Tapi seperti
inikah akhirnya? Aku tak pernah berharap.
Bermula ketika aku
mengenalnya di awal memasuki fakultas teknik. Aku memperhatikannya dari
kejauhan. Sosoknya yang begitu taat agama membuatku lupa akan pesan-pesan guru
di pondok pesantrenku dulu. Ah, ini bukan masalah cinta, sungguh bukan cerita
seperti kisah asmara sayyidati fatimah dengan ali bin abi thalib yang diam-diam
saling menyimpan rasa suka. Aku bahkan tidak tau siapa dia, apa jabatannya di
teknik dan sebagainya. Aku hanya berharap dia bisa membantuku di fakultas
teknik. Menjadikanku sebagai junior yang perlu dibantu. Aku tak mungkin
menyamakan dia seperti aku dekat dengan guru-guru sekolahku dulu. Tidak sama
sekali dan itu tidak perlu kulakukan. Berhari-hari aku hanya bisa melihat dia
berlari ke mushalla fakultas ketika adzan memanggil. Mencoba membatasi diri
dengan mahasiswa yang cewek. Aku heran dengan kepribadiannya. Kenapa dia bisa
se alim itu sementara disekelilingnya banyak orang yang mengacuhkan panggilan
adzan itu? Aku terheran-heran dibuatnya.
Beberapa hari setelah itu,
aku benar-benar mendekatinya. Dengan alasan tugas, aku menyapanya. Aku bahkan
tak segan ketika kami bersama, tentu bersama dengan teman-temanku yang lain. Berhari-hari
bahkan aku tidak pernah lupa untuk meng-sms nya. Ya berpura-pura menanyakan
tugas lagi dan akhirnya kami berjanji membuat kelompok belajar bersama. Dan tentu
saja aku mengajak teman-temanku untuk ikut membuat kelompok belajar ini. Saat itu,
aku hanya berpikir bahwa ini akan baik-baik saja. Semua yang kulakukan untuk
mendekatinya hanyalah sebatas senior dan junior. Tapi hari demi hari hatiku
berkata lain. Entah kenapa aku selalu merindukan sapaan kecilnya setiap kami
bertemu. Aku rindu melihatnya bergegas ke mushalla setiap kali mendengar adzan.
Aku rindu candaan konyol setiap kami berkumpul.
Sampai suatu ketika, orang
lain menyadari kebersamaan kami. Aku mulai menjaga jarak dengannya. Berusaha untuk
bersikap seperti biasa ketika kami belajar bersama. Ah, situasi itu ternyata
membuatku gerah. Aku tidak suka berpura-pura. Aku terus meng-sms nya tentang
apa yang terjadi. Aku bahkan terus terang berbicara padanya. Tapi apa? Aku tidak
mendapatkan jawabannya bahkan aku tercampak. Orang lain itu, dialah yang
membuat hubungan kami retak. Aku tidak tau kenapa orang itu berambisi
menjauhkan kami. Aku berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi aku tak mendapat
jawaban apapun. Kemarahanku memuncak ketika dia memberikan jawaban kosong
padaku. Orang itu malah menyalahkannya padahal aku lah yang membuat hubungan
ini terjadi. Aku sungguh membenci orang itu hingga saat ini, aku tidak pernah
bisa melupakan kejahatan yang dia lakukan padaku. Dan kau tau, dia hanya diam
membisu ketika ini terjadi. Aku sungguh muak dengan keadaan ini. Aku membangkak
dan tetap mendekatinya dan lihat apa yang terjadi? Dia menerima ku dengan
ketakutan. Aku tau kita sedang diawasi oleh orang itu. Akan tetapi aku terus
melawannya. Siapa dia yang seenaknya mengurusi kepribadianku. Aku tidak peduli
jika orang itu membuatku menderita. Aku hanya berharap dia selalu membantuku
seperti dulu. Tapi aku tak menyangka. Dia bahkan diam membisu, mengacuhkanku
yang sudah terlanjur dekat dengannya. Inginku berteriak meminta bantuannya tapi dia hanya memberi harapan
palsu.
Aku
mulai mengubah sikapku padanya. Berharap dia menyadarinya dan segera meminta
maaf padaku. Ya trik itu berhasil, dia memohon maaf padaku. Tapi hatiku sudah
membeku. Aku tidak bisa mempercayai siapapun bahkan diriku sendiri. Aku tau
permintaan maaf nya sangat tulus padaku, tapi hatiku berkata tidak. Aku tidak
ingin melihatnya menderita seperti dulu. Aku paham ketika aku membuka pintu
maafku, maka orang lain itu pasti akan datang lagi. Datang untuk mengacaukan
hubungan kami lagi. Aku berusaha untuk bersikap seperti orang asing di
depannya. Hati ini menangis tergugu sebenarnya. Aku ingin sekali tersenyum
dihadapannya tapi aku lebih takut ketika orang lain itu menyakitinya lagi. Biarlah,
biarlah aku memendam rasa ini sendiri. Menjaganya hingga waktu itu datang dan
kita bisa berkumpul kembali.
Berbulan-bulan setelah itu, orang itu malah
mengawasi gerak-gerikku. Aku terjebak dan tidak bisa keluar. Aku berusaha
melawan tetapi aku malah semakin tenggelam di dalam sumur yang tak tau
ujungnya. Aku berharap seseorang bisa menolongnya tapi tidak seorangpun datang.
Aku terpuruk di kegelapan, sendirian. Tak lama dia datang. Orang yang pernah
kudekati dulu. Aku memberikan senyum terbaikku tapi dia tidak membalasnya. Dia
hanya mengatakan bahwa kita tidak bisa bersama. Aku pasrah. Aku menghela nafas
panjang bersiap untuk kecewa. Apa ini akhir dari kisah kita? Hingga hari ini
aku tidak mendapatkan jawabannya.
Waktu terus berjalan
cepat, 3 tahun sudah berlalu.dan lihatlah aku, aku semakin terpuruk kehilangan
dirinya. Aku semakin lemah hari demi hari. Kau tau kenapa? Karena kisah itu
tidak pernah bisa hilang dari ingatan ini. Selalu hadir setiap kali aku
bersedih. Dia datang menghantui mimpiku. Pernah suatu ketika, aku mencari tau
keberadaannya. Aku terkejut histeris. Memang benar, kita tidak bisa menyatu karena
dia sudah memilih orang lain. Dia meninggalkanku dalam kesepian dan pergi
bersama orang lain. Sesaat, aku memang bersedih tapi apa dayaku hari ini. Aku
bukan siapa-siapa lagi dimatanya.

