Pages

Jumat, 25 Desember 2015

Si Pengugur Dosa



Sebenarnya badan gue udah gk enak sejak 4 hari yang lalu. Tiba-tiba pusing habis ngajarin dila belajar, trus besoknya bersin-bersin di kampus. Eh paginya mau berangkat ke bukittinggi, suara menghilang entah pergi kemana. Udah mikir, duuh gimana ntar sampe bukittinggi? Udah disana dingin, trus sengaja gk bawa jaket, belum lagi perjalanan pekanbaru-bukittinggi. Sakit maag juga datang gak tau waktunya. Jangan sampe sakit deh pulkam, gk seru tau !! sambil nunggu kak ranti datang, suara makin gak jelas keberadaannya, malas minum air panas juga. Cuma bisa nenanginnya dengan nonton TV, efeknya gk terlalu nampak langsung tapi jadilah soalnya udah semingguan marahin si dila pake nada tinggi. Apa ini gara-gara marahin dila tiap hari gk ya? Gue ngerasa berdosa kali.
            Jam 11.30 kami (aku, kak Ranti, bang hendra dan aisyah) siap-siap berangkat ke bukittinggi lewat bangkinang. Sampai bangkinang, kami makan siang dulu di rumah makan. Lihat menu hidangannya, wuih gue tergiur banget. Ada udang goreng, telur ikan yang gede banget. Dan berbagai jenis lauk yang jarang ditemui di ampere-an 10.000 di belakang kampus gue. Gue yang sedang memenangkan perut gue langsung menatap tajam ke udang itu, dia balas natap gue juga dengan pasrah. Yaaph, dengan tangan yang gak sama sekali gesit, gue mencoba melepaskan kulit-kulit yang menghalangi gue memakan daging udang itu. Sedang berjuang dengan sekuat tenaga, ternyata aisyah dengan sangat bangga nya mengambil hasil kerja keras gue. Yaah, sudahlah gue mencoba kuatkan hati dang mengupas udang kedua yang lebih gede. Di sisa tenaga, gue akhirnya bisa membukanya dan sayangnya daging udang super menggiurkan itu belum bisa juga gue cicipi karena masih panas. Akhirnya gue pasrah, pasrah nungguin dia sampe dingin.
Setelah makan, kondisi tubuh masih belum membaik, malah tambah batuk. Kak ranti nyaranin minum obat flu yang dia punya. Awalnya gue nolak, karena males banget yang namanya minum obat. Setelah bernegosiasi cukup singkat, akhirnya gue coba minum obatnya satu. Habis itu disuruh tidur di mobil tapi aisyah masih cerita-cerita mulu, akhirnya gue ladenin dulu sampe akhirnya bosan sendiri. Jam 5 sore kami berhenti lagi di Rumah makan Terang Bulan. Kayaknya daerah Rantau Berangin gitu. Dan disaat itu, gue ngerasain ada yang berbeda di wajah gue. Bentol-bentol bro, leher gue juga gatal-gatal semua, tangan kiri juga mengalami hal yang sama. Badan gue juga rasanya tambah gak enak. Tiba-tiba susah bernapas juga. Pokoknya gak pernah ngerasain hal begituan sebelumnya. Akhirnya kak Ranti berkesimpulan kalau itu gejala alergi Obat. Alamak !!! Apa karena jarang minum obat, jadi sekali minum langsung efeknya sebegini parah. Entahlah, hati ini gak karuan  banget. Akhirnya aku dibawa ke RS umum Dr. Adnan di payakumbuh.
Disana langsung diperiksa sama dokternya. Ternyata bentol-bentolnya udah sampe ke seluruh tubuh. Sempat bingung sendiri, perasaan tadi minum obat jam 2 deh, dan ini baru jam setengah 7 malam. Udah diseluruh tubuh aja kenanya. Kemudian dikasih alat bantu pernapasan karena tadi sempat susah bernafas. Setelah tangan, kaki  dan wajah pastinya, pertolongan pertama yang diberikan dokter cantik yang ganas itu adalah suntikan untuk menghentikan kelakuan alergi itu. Aku langsung syock, mau kabur tapi badan udah macam kena tonjok semua, monyok habis. Tangan udah macam ukuran orang gendut 100 kg. leher pada minta digaruk sana-sini. Nafas juga sesak-sesaknya. Akhirnya aku tetap rebahan di tempat tidur itu dan berharap buk dokter mengampuniku. Tapi apa hendak dikata, suntikan itu sudah dipegang suster laki-laki berbaju batik itu. Tangan kananku dipegang untuk mencari pembuluh darahnya. Aku gemeteran, tanganku pucat basi. Mataku sudah sekuat-kuatnya dipejam. Sedetik kemudian aku merasakan benda tajam itu menusukku. Aku buka berlahan dan sok-sok an meringis tapi ternyata aku belum disuntik. Kesel juga. Aku lihat tangan kanan, sudah pucat sepucat-pucatnya. Dua suster yang menyuntikku bingung. Ne anak sudah umur 22 tahun masih takut sama suntikan. Akhirnya dengan sedikit memaksa dan dengan tampang yang diserius-seriuskan aku disuntik dipunggung tangan kanan. Daan akhirnya, obat itu mengalir lancar di pembuluh darahku. Syukurnya hanya gigitan semut. Tapi aku tetap saja takut dengan yang namanya suntikan. Pedih dan ciisst, terasa banget ke kulit.
Setelah disuntik, aku merasakan hal yang aneh. Perutku terasa pedih. Pedih seperti maag tapi gak berhenti-henti. Please, kenapa sakit maag datang jam segini? Gak tau apa sedang alergian diseluruh tubuh. Aku meringis kesakitan sambil memegang perut. Sakit bangeeet hingga gak sangup bergerak. Akhirnya, kak ranti menanyakan kondisiku ke dokter dan ternyata pemirsaaa, ah gue kagak sanggup bilangnya. Ternyata itu obat adalah obat yang mengandung sifat asam, so secara tidak langsung berefek ke lambung gue. Pantes aja, pantess bangeeet gue meringis kesakitan macam sakit parah. Orang-orang sekitar pada lihatin gue dengan wajah ingin tau banget lagi. Serta merta gue pandangin suster laki-laki yang nusuk gue pakai suntik tadi. Aargh, kalo sampe ne perut gk hilang-hilang sakitnya, gue akan nuntut tu suster deh. But setelah 15 menit, akhirnya rasa sakit diperut berlahan hilang. Syukur deh gk jadi nuntut tu suster.
But yang bikin gue gak habis pikir, gue harus minum obat juga. Padahal ne ya, udah rela-rela lupain rasa gejala demam yang beberapa hari ini menyerang. Udah sengaja bener cuekin bersin yang kemarin sampe 6 kali sehari. Udah gk menghiraukan batuk-batuk dan hilang suara, eh ternyata penyakit lain yang datang. Buseeet daaah. Tapi berlahan, aku dengar keluarga pasien tempat aku diobati. Ingat pak, sakit itu sebagai penggugur dosa selama kita sembuh, jadi jangan pernah memaki-maki saaat sakit, disyukuri karena di saat sakit inilah dosa-dosa kita bisa berkurang. Banyak-banyak beristighfar dan jangan menggerutu dan mengeluh. Kuatkan diri ya pak.  Aku tertegun. Dalam hati merasa, iya yaa aku jarang banget sakit dan sekali sakit pastilah ada merasa menyesal kenapa jadi sakit. Terima kasih ibuk berjilbab ungu yang telah memberi nasihat secara tidak langsung kepada saya.

Selasa, 22 Desember 2015

Because This isn't about Love (1)



           Cinta. Inilah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada seluruh makhlukNya. Perasaan yang takkan hilang ditelan zaman hingga tak ada lagi kehidupan di dunia ini. Ah, meski terpisah di ujung dunia pun, cinta akan selalu mengalir seperti air yang pasti bermuara ke laut. Siapapun yang hidup di muka bumi ini, mau tidak mau akan merasakan yang namanya cinta. Tak peduli bagaimanapun watak dan sifat manusia, cinta akan hinggap lekat layaknya lem yang tak mudah lepas. Perasaan yang penuh dengan bunga wangi ini mungkin pernah datang kepadaku. Datang disaat sepinya jiwaku. Entahlah, seperti sinar matahari yang muncul di subuh hari. Terang dan membawa semangat baru. Aku tak paham apa itu cinta. Tak mengerti dengan gejolak kebahagiaan yang menghiasi relung-relung hatiku akan tetapi aku merasa nyaman dengan itu. Pertama kali merasakan cinta adalah waktu bersekolah di Tsanawiyah dulu. Apa itu memang cinta atau hanya rasa kagum berlebihan yang sengaja kusimpan. Yuphi, This isn't Love. Itu membuat hari-hariku gak pernah tenang.
Kelas 1 tsanawiyyah, aku terkagum dengan kepintaran satu teman kelasku karena dia Juara 1 di setiap pembagian rapor bulanan. Aku hanya kagum saja dan tidak lebih. Hanya penasaran dengan kerajinannya yang mampu mengalahkan 35 santri di kelas kami. Dan suatu kali, ketika kami menerima rapor bulanan, aku melihat dia menangis didepan kedua orang tua nya. Yaa, nilainya menurun hingga dia hanya mendapatkan juara 2 saat itu. Aku memperhatikannya diam-diam. Kedua orang tuanya memberi nasihat dengan suara yang pelan tapi dia menangis terisak-isak. Aku tidak berani mendekat sehingga tidak tau apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi yang kupahami setelah kejadian itu, teman sekelas ku itu tidak pernah lagi mendapatkan juara selain juara 1. Peringkat itu dia dapatkan hingga kelas 6. Satu kali, di saat kelas 6 aliyah, aku sengaja bermain ke kelas 6 Agama mendatangi meja temanku. Aku pura-pura menanyakan pelajaran Nahwu yang sebenarnya aku bisa mempelajarinya di Buku Takhasus Qawaid. Dengan sok-sok berani, aku pergi ke mejanya dan mengatakan bahwa aku tidak paham dengan subbab Buku “An-Nahwu Wadhih”. Diluar dugaan, dia memberikan penjelasan dengan menyuruh kami untuk membuka buku Nahwu yang lain. Tidak menjelaskan kami secara langsung. Aku tertegun lama. Inikah dia sang Juara yang aku lihat 5 tahun yang lalu? Aku hanya mengucapkan terima kasih dan beberapa saat setelah itu pergi. Yang dapat kupahami saat itu adalah, dia memang pantas untuk mendapatkan peringkat nomor 1 di angkatan kami. Dialah sang Juara yang takkan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun.
Dia lah santriwan yang membuat para ustadz dan ustadzah terkagum-kagum. Kepintarannya tak lantas membuat dirinya sombong. Dia juga tidak terlalu berambisi menjadi ketua IPST saat itu. Hanya mengikuti alur cerita dan bersikap seolah dia tidak siapa-siapa. Ah, mungkin aku saja yang  tidak pernah mempedulikannya lagi. Aku sama sekali tidak tahu bahwa banyak adik tingkat yang mengaguminya. Berbisik-bisik membicarakan kehebatannya.  Diam-diam memperhatikannya dari meja duduk mereka disaat angkatan kami menjadi Guru Mentor. Yang ku tahu darinya hari ini adalah dia telah resmi menjadi Alumni sebuah Universitas ternama di dunia. Tapi, aku tetap pada perasaanku yang dulu. Aku hanya dan akan selalu mengagumi kepintaran dan kerendah hatiannya. Semoga ada satu bidadari dunia yang sholehah yang menjaganya hingga Allah memberhentikan jiwa raganya.

Senin, 14 Desember 2015

Menunggu Si Kuning Kelar



          Dua hari ini aku menunggu si Kuning selesai dijilid. Yaha, si kuning Laporan Kerja Praktek gue. Ah, sudah 3 bulan full aku melupakannya. Sorry ya yellowy, bukan maksud hati ingin melupakan tapi pikiran ini sudah cinta pada yang lain. Upsz. Sebenarnya bukan melupakan sepenuhnya tapi dosen pembimbing belum menaroh perhatian pada si Kuning, mau gimana lagi coba. Masa’ gue harus nodong dosen gue untuk pandangin laporan ini? Kan gak sopaan kali kaaan. Hihihi
Kerja praktek ini adalah salah satu mata kuliah yang gue perjuangkan jiwa dan raga gue. Gak percaya? Uuh, gue sampai nangis Bombay supaya bisa melaksanakan mata kuliah ini. Tersedu-sedu di kursi panas di ruangan dosen. Meneteskan airmata deras, deraaas bangeet. Masih gak percaya? Perlu gue harus mereka ulang adegan baper-baperan gue? Udah kayak tersangka kasus pembunuhan aja ne. Right, mata kuliah ini adalah sejenis magang di perusahaan atau industry. Nah kebetulan karena gue anak Teknik Kimia. Eh bukan kebetulan deng. Karena gue ditakdirkan untuk masuk ke dunia keteknikkimiaan oleh Allah jadi mau gak mau harus ngerjain yang namanya kerja praktek ini. Ada beberapa tempat favorit industry yang dijadikan tujuan KP yaitu Chevron Pasific Indonesia, Pertamina, RAPP, PTPN dan industry yang berbasis proses lah. Pokoknya yang anak teknik kimia nyambung masuk sana. Ya kalau magang di Rumah sakit kan gak ada kaitannya ke teknik kimia kaan, makanya gak ada satupun anak teknik kimia yang magang disana. Gituu tooh. Di angkatan gue tujuan KP udah lebih beragam. Emag sih masih favorit Chevron, RAPP, IKPP, Pertamina tapi ada juga ke PT PUSRI-Palembang, PT Ecogreen di Batam dan PT Halliburton di Duri dan itu termasuk gue. Kenapa gue lebih memilih PT Halliburton? Sebenarnya gak butuh banyak alasan sih Cuma yaa gue pengen lebih hemat aja selama KP 1 bulan. Ya pahamlah kaan yang sesame anak kos gini. Hahaha
Oke, gue pertegas lagi. PT Halliburton adalah perusahaan tempat kakak gue kerja. Jadi secara de facto and injury, gue otomatis bisa melangsungkan hidup gue secara baik disana alias makan gratis. Pergi-pulang pun gak ada masalah. Itulah satu-satunya alasan gue memilih PT Halliburton sebagai tujuan KP. Tapi itu semua gak berjalan mulus seperti jalan Tol Friends. Perjalanan gak selamanya bagus kaaan. Nah itulah yang terjadi sama gue beberapa bulan menjelang keberangkatan gue ke PT Halliburton itu. Awal yang panjang dan melelahkan.
Awalnya kakak gue menyarankan untuk membuat proposal kerja praktek itu berbahasa inggris. Laah, gue syok donk. Mana bahasa inggris gue cuma pahamnya setengah dari grammar trus mau menerjemahkan satu proposal KP lagi. Alamak. Meskipun ada translate google tapi itu gak membantu, gak membantu banyak. Disamping itu dosen pembimbing adalah seorang ahli bahasa inggris yang fasih betuul, mana lah mungkin gue buat proposal berbahasa asing itu sembarangan. Bikin maluu, gitu kata kakakku. Akhirnya dengan sisa-sisa semangat yang ada aku menjumpai dosen pembimbing KP. Bukan hanya untuk meminta tanda tangan beliau seperti kebanyakan yang dilakukan oleh teman-temanku pada dosen pemimbing mereka. Aku menunggu beliau untuk direvisi proposal KP. Walhasil, setelah keluar dari ruangan dosen, aku termenung sendirian sambil memandang hasil coretan sana-sini dari ibuk.  Melihat lagi hasil proposal yang berbahasa inggris itu. Rasanya ingin teriak, “kenapa buk kenapaa? Intan sudah gunakan teknologi canggih untuk mengubah bahasanya. Tapi kenapa buk?” tapi aku tak mampu bersuara. Yaa, karena aku duduk di depan prodi Teknik kimia. Malu donk gue teriak-teriak macam orang gila. Hahaha.
Berhari-hari aku upayakan untuk memperbaiki isi proposalnya hingga waktu itu datang. Datang dengan tergesa seakan aku tak mampu bernapas sangking senangnya. Proposal gue disetujui oleh dosen pembimbing. Meskipun masih dengan berat hati, beliau menandatangani lembar pengesahan itu. Ah dunia dan seisinya seakan ikut bahagia melihat adegan penting itu. Teman-temanku tersenyum bahagia saat aku pamerkan tanda tangan itu. Akan tetapi kehidupan tidak mulus seperti jalan tol bro.
Akhir bulan april, kisah tentang KP ini belum selesai. Tiba-tiba dosenku tidak mengizinkan aku pergi pada bulan Mei 2015. Hatiku remuk sekali, hancur dan ah tak tahu lagi rasanya kecewa itu. Akhirnya setelah meminta bantuan dosen lain, aku diizinkan meninggalkan kota pekanbaru menuju kota Duri untuk melaksanakan KP. Yes, yes, yes.
Satu bulan berlalu, saat nya kembali ke Pekanbaru dan kembali ke rutinitas perkuliahan. Dan satu lagi, gue harus segera revisi-an laporan KP. Seminggu awal aku di pekanbaru, aku malah disibukkan dengan penelitian di laboratorium. Membantu teman se-tim untuk mempersiapkan katalis biodiesel. Dan seminggu kemudian aku baru bisa menghadap dosen pembimbingku untuk revisi-an laporan KP.
kiri : Laporan gue dipajang di perpus FT
kanan: ini cover Laporannya :)
Revisi awal, aku disuruh mempelajari youtube yang brkaitan dengan KP. Aku tercengang. Ibuuk, ibuuk, ibuukk. Aku langsung patah semangat. Selang dua minggu aku memang searching tentang KP di youtube tapi aku tidak segera revisi-an. Gak ada rasa tentang itu lagi, itulah pikiranku sebulan pertama. Bulan kedua, aku kembali menghadap dosen. Bukan apa-apa sih, aku iri melihat temanku yang sudah ACC. Revisi ketiga aku beranikan diri menghadap dosen pembimbing dan apa yang terjadi? Aku hanya memperlihatkan laporan itu dan disuruh perhatikan penulisannya lagi. Aku mangut mangut tidak mengerti. Revisi ke empat aku menjumpai beliau lagi dan beliau menyuruhku untuk memperbanyak lembar persetujuan. Aku segera berlari ke foto copy teknik dan kembali ke ruangan dosen. Beliau langsung menandatangani lembar itu dan menyerahkan laporan KP ke tangan saya. Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi. Laporan KP yang selama 3 bulan tertunda bisa diselesaikan dengan waktu kurang dari 10 menit. Apa-apaan ini? Apa yang telah terjadi ya Allah. Tapi aku cepat-cepat sadar. This isn’t a dream, Intan. Esoknya aku segera menjilid laporan KP untuk Perpustakaan FT UR, Koordinator KP dan untuk dokumentasiku. Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah.

Ahad, 6 September 2015
Siang hari sambil menunggu nilai KP

Selasa, 08 Desember 2015

Saya da Teknik Kimia

            Nama saya Intan Fitra Martin. Sekarang saya berada dideretan mahasiswa tingkat akhir di jurusan Teknik Kimia Universitas Riau. Saya adalah alumni dari sebuah pondok pesantren di Sumatera barat. Sebuah sekolah berbasis Islam dengan tidak melupakan mata pelajaran umum. Sekolah ini bernama Pondok Pesantren Sumatera thawalib parabek. Terletak di desa Parabek kenagarian Ladang laweh kab Agam. Selama enam tahun, saya menimba ilmu agama dan ilmu umum di sekolah ini. Di kelas 2 aliyah, saya memilih jurusan IPA dengan tetap mempelajari ilmu-ilmu agama seperti bahasa arab, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadist, balaghah, tasawuf, qawaid dan mathiq. Hingga juli 2011, kami akhirnya menamatkan sekolah tingkat aliyah dengan diadakannya acara perpisahan santriwan/wati kelas VI di lapangan sekolah Ponpes Parabek. Tangis kesedihan bercampur bahagia saat mengetahui bahwa akngkatan kami yang terdiri dari 43 orang lulus 100%. Beberapa bulan setelah itu, kami harus harus mengikuti SNMPTN sesuai keinginan dan kemampuan kami yang disesuaikan dengan basic ilmu yang kami miliki. Sebulan kemudian, saya diterima di jurusan teknik kimia universitas riau. Jurusan yang memiliki masa depan seorang engineer yang peluang kerjanya adalah di industri proses/manufaktur.
            Teknik kimia adalah salah satu jurusan yang sebenarnya didominasi oleh laki-laki karena prospek kerjanya banyak di lapangan. Akan tetapi beberapa tahun terakhir, teknik kimia sudah banyak diminati oleh perempuan karena pekerjaannya tidak terlalu memberatkan. Sebagai seorang santriwati lulusan pondok pesantren, saya sangat sulit untuk beradaptasi dengan keadaan yang dikelilingi oleh laki-laki. Lebih 60% dari satu angkatan dipenuhi oleh laki-laki yang artinya setiap satu kelompok belajar hanya ada 2-3 orang perempuan sementara terdapat 4-5 orang laki-laki. Untuk minggu-minggu pertama perkuliahan, saya selalu salah tingkah karena masih terkejut dengan kondisi fakultas saya. Dengan pakaian yang sudah rapi yaitu memakai rok dan jilbab yang sudah lebar, tidak menghalangi teman laki-laki untuk sekedar menyapa dengan jabat tangan. Dengan memakai alasan saya adalah alumni sebuah pondok pesantren ternyata malah membuat teman-teman dan senior tidak dapat mempercayai bahwa saya memilih jurusan yang sangat dipenuhi oleh laki-laki. Meskipun demikian, itu tidak menyurutkan niat saya untuk menuntut ilmu di jurusan ini.
            Tahun pertama kuliah adalah tahun tersulit bagi saya karena ditahun itu kami sebagai mahasiswa baru harus mengikuti semua agenda yang dibuat oleh himpunan ataupun BEM fakultas. Ada beberapa kali saya pernah ditegur oleh senior karena memakai rok di acara Engineering Day. Akan tetapi, saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya sudah terbiasa memakai rok dan tetap memakai celana panjang untuk kuliah dan kegiatan lainnya. Selain itu, juga terdapat beberapa senior perempuan yang juga seperti saya yang memakai rok dan jilbab lebar sehingga bisa membantu saya ketika menghadapi masalah seperti itu. Selain senior yang merasa ingin tahu dengan kebiasaan saya, ada satu dosen dimata kuliah saya yang juga merasa aneh ketika melihat mahasiswa teknik kimia memakai rok. Padahal setahu saya, dosen tersebut juga memiliki mahasiwi bimbingan yang memakai rok dan jilbab lebar. Hingga pada satu kali pertemuan belajar dengan beliau, beliau dengan sangat sengaja menyuruh saya untuk menyentuh lengan beliau dengan alasan untuk membuktikan bahwa beliau tidak perlu ditakuti oleh mahasiswa. Padahal di kelas itu, ada banyak mahasiwa/i yang berpakaian biasa saja yang telah terbiasa dengan hal tersebut. Dengan rasa cemas dan tidak ingin dianggap menyepelekan dosen, saya terpaksa menyentuh tangan beliau dengan pena. Semula teman-teman sekelas bingung bagaimana saya yang sangat menjaga diri untuk tidak berpegangan tangan dan menjaga hijab harus melakukan ide konyol tersebut. Selain itu, saya juga hanya tersenyum ketika harus berjabat tangan dengan dosen selingkungan teknik kimia ketika acara Buka Puasa bulan ramadhan. Setelah kejadian tersebut, teman-teman dan senior sayapun menyadari bahwa saya memang berkonsisten untuk tidak berpegangan tangan dengan non-muhrim. Meskipun ada beberapa kali pernah tidak sengaja teman atau senior memanggil saya dengan menepuk bahu atau lainnya, saya langsung tegaskan bahwa cukup memanggil saya dengan suara atau pakai alat lain.
            Selain berjabat tangan yang saya hindari, terkadang saya juga sulit mengatur waktu belajar ketika adzan berkumandang. Ada beberapa mata kuliah yang waktunya malah bertabrakan dengan waktu shalat. Ini sangat menganggu saya karena di sekolah pondok dulu, karena kami benar-benar diajarkan untuk shalat tepat waktu. Ada beberapa dosen yang mengizinkan saya keluar kelas disaat waktu shalat telah masuk tetapi tidak sedikit juga teman-teman saya yang malah pergi ke kantin terlebih dahulu hingga kadang saya juga terbawa-bawa. Akan tetapi saya dan beberapa teman yang berniat shalat tepat waktu tetap mendahulukan sahalat daripada hal lain. hingga niat untuk mengerjakan shalat diawal waktu tetap bisa saya lakukan.
            Di awal saya memasuki dunia perkuliahan, saya diajak untuk mengikuti perlombaan Karya tulis Ilmiah di fakultas Teknik. Akan tetapi, saya merasa ragu-ragu karena masih menganggap bahwa saya masih perlu banyak belajar. Diakhir tahun 2011, saya memberanikan diri untuk membuat Karya tulis ilmiah akan tetapi saya tidak dapat mengikuti perlombaan karena keterlambatan mengumpulkan paper. Pada tahun 2012, saya kembali memberanikan diri untuk mengikuti Call 4 Paper Mahasiswa yang ditaja oleh BEM FMIPA Universitas Riau. Dimana peserta akan mengumpulkan essay dan mempresentasikan hasil essay nya di depan 3 orang juri. Ketika saya mengikuti lomba ini, ternyata lomba ini juga diikuti oleh senior saya yang telah banyak mendapatkan penghargaan di berbagai perlombaan. Disaat itu juga saya minder untuk mengikuti perlombaan karya ilmiah. Pada awal tahun 2013. Saya diajak dua orang senior untuk mengikuti Kontes Inovasi Nasional di ITB oleh Himpunan mahasiswa Mesin ITB. Awalnya saya menolak karena saya merasa bukan mahasiswa yang memiliki inovasi di bidang teknik kimia. Akan tetapi karena lomba ini bersifat nasional, saya akhirnya mau menerima ajakan senior dan alhamdulillah kami menjadi 5 besar yang lulus setelah diseleksi dari panitia acara. Dua minggu setelah pengumuman, kami bertiga diikutkan dalam pameran inovasi di penutupan acara M-Fest di ITB.
            Semangat saya untuk mengikuti perlombaan kembali datang setelah berjumpa dengan teman-teman se-Indonesia yang juga lulus di Kontes Inovasi Nasional. Berbagai situs perlombaan saya ikuti untuk mendapatkan info-info terbaru tentang perlombaan tingkat nasional. Dipertengahan 2013, saya mendapatkan info tentang Lomba Essay Teknologi Nasional yang ditaja oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITS. Lomba ini yang bersifat online dengan mengirimkan tulisan essay yang sesuai dengan tema yang diberikan. Karena basic saya adalah teknik kimia, saya memberanikan diri mengirimkan essay saya yang berjudul  Pengembangan Bio-Oil Dari Kulit Durian Dengan Metode Pyrolisis Dalam Mengatasi Masalah Lingkungan Dan Krisis Energi“. Di essay ini, saya menjelaskan tentang kulit durian yang hanya dimanfaatkan sebagai briket padahal kulit durian memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan sebagai bahan baku bio-oil. selain itu, kulit durian yang dimanfaatkan dengan baik akan mengurangi masalah lingkungan dan dapat membantu pengembangan energi.
            Beberapa hari saya hanya berkutat dengan penulisan essay ini hingga saya lupa bahwa batas pengirimannya telah lewat satu hari. Dengan meminta dispensasi dengan panitia, akhirnya essay saya diterima dan langsung diseleksi oleh panitia. Beberapa minggu setelah itu, diumumkan juara I, II dan III  dan alhamdulillah saya mendapatkan juara I untuk lomba ini. Tiga hari setelah itu, saya mendapatkan hadiah dan sertifikat yang dikirimkan melalui email. Dari situ saya terus berusaha mencari tahu info-info perlombaan terutama yang bersifat sains dan teknologi. Akan tetapi karena kesibukan kuliah dan tugas yang menumpuk, saya tidak berkonsentrasi lagi untuk mengikuti perlombaan baik yang diadakan di fakultas maupun secara nasional.