Pages

Senin, 29 Februari 2016

Pilihan : Lulus atau Berhenti


            Sore ini aku memutuskan untuk menulis lagi. Ya, padahal sudah sejuta ide yang nangking di otak, tapi film-film itu lebih menggoda ku jadi yaaa nonton dulu agak 2-3 hari ini. So, writing is almost forgotten. Hehe. Selain itu, tadi sore aku juga habis baca tulisan kawan yang bilang aku suka sastra, jadi niat menulis datang lagi. Eheem eheem. Ok, Let me  tell you about my story.
            Di pertengahan bulan februari lalu, aku akhirnya menemui dosen pembimbingku sekaligus dosen PA di kampus. Setelaaah sekian lama, sang skripsweet ku abaikan berdebu di folder laptorku. Aku mengenakan baju yang rapi dengan tas ransel yang sudah berisi hasil print skripsi ku yang (masih) harus direvisi. Keinginanku untuk menemui beliau adalah tekad untuk segera menyelesaikan skripsiku. Niat yang mulia itu sebenarnya sudah sangat tertunda selama 2 bulan yang lalu. Ya, 2 bulan yang ku sia-siakan tanpa sisa. Hari ini aku sangat sangat sangat menyesal telah membuang waktu 2 bulan itu. Dengan penuh rasa takut, aku berjalan ke kampus. Berjalan sambil membayangkan apa yang akan diucapkan dosenku nanti. Apakah aku akan dicueki atau aku akan diceramahi terlebih dahulu? Atau bisa jadi dosen pembimbingku menyerah daan tidak mau lagi melihat skripsiku ini? Ah, aku benar-benar pasrah hari itu. Dengan hati yang deg-degan aku mengintip mobil dosenku di parkiran sebelah kiri gedung C FT dan Alhamdulillah mobilnya ada. Aku menghela nafas lega sekaligus gugup. Beberapa menit setelah itu, dosenku muncul dan terpana seperkian detik lalu tersenyum pahit. “Kemana saja kamu, Intan?”. Aku diam sambil tersenyum, senyuman penyesalan yang teramat dalam.
            Setelah menunggu belasan menit di ruang prodi, akhirnya dosenku duduk di sampingku. Aku menunduk diam menunggu kalimat pertama beliau. Beliau menghela nafas panjang dan kembali terdiam. Aku berbasa basi untuk menanyakan apakah aku bisa revisi skripsi pagi itu. Lalu dengan suara yang berat, dosenku bertanya.
“Intan, ketika mengurus proposal penelitian kemarin. Siapa yang selesai duluan, kamu atau Ifa?” Tanya dosenku sambil menatapku. Aku terpana mendengarnya.
“Proposal buk?, In-in-in Intan buk” jawabku jujur dengan sangat terbata-bata. Aku menatap meja kaca yang sedikit berdebu. Aku tertunduk semakin dalam. Aku tampak sangat menyedihkan.
“Ok. Nah sekarang, kamu lihat siapa yang sudah lulus sekarang?” dosenku bertanya lagi padaku.
Kalimat singkatnya langsung membuatku tertusuk tajam. Sungguh aku tidak menyangka kalimat singkat itu ada. Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu lagi. Aku menyerah dan pasrah dengan nasibku kini. Lambat-lambat aku mengangkat wajahku dan berkata sangat pelan. Pelan sekali hingga aku tak mendengar suaraku sendiri.
“kak Ifa buk” airmataku tertahan dan aku kembali menunduk lagi.
Dosenku kembali menghela nafas panjang. Kali ini beliau duduk sambil menatap jauh ke depan. Sejenak terlihat seperti memikirkan kalimat apa yang cocok untuk menasihatiku. Aku menatap skripsi yang kukeluarkan dari tas seasonku. Aku mulai mencerna dua kalimat Tanya dosenku. Tentang siapa yang duluan berjuang membuat proposal dan kini siapa yang bahagia dengan kelulusan teknik. Aku terpana dan mengingat segala usaha yang telah kulakukan setahun belakangan ini. Aku ingat sekali pertama kali aku revisi proposal penelitian ini. Februari 2015. Ya mungkin sebenarnya bukan bulan itu, tapi aku sudah sering menjumpai dosenku untuk belajar jurnal sebelumnya. Aku ingat ketika akhirnya dua dosenku menandatangani lembar pengesahan proposalku meskipun ternyata tidak semua yang bisa dikoreksi. Aku ingat ketika kak Ifa menanyakan proposalku dan mengikuti tinjauan pustaka proposalku. Aku ingat ketika akhirnya dosenku yang malah menjawab segala pertanyaan dosen penguji ketika aku seminar proposal dulu sementara aku terdiam membisu. Ah, ingatan-ingatan ketika aku dengan kak Ifa harus pulang sore mengerjakan penelitian sampai masuk waktu  maghrib. Segala peristiwa di tahun 2015 lalu tiba-tiba melintas di kepalaku.
“Ah sudahlah Intan. Penyesalan saat ini takkan bisa mengubah semua yang telah berlalu kan.” Dosenku berkata tegas sambil menatapku iba. Beberapa saat kami terdiam, membiarkan para malaikat berjalan melintasi ruang prodi ber-AC itu.
Setelah hening sejenak, sang dosen mulai berbicara serius padaku. Menasihatiku tentang pentingnnya sebuah keputusan disaat segala hambatan datang menghampiri. Juga tentang kelalaianku yang lebih mementingkan hal yang lain daripada menyelesaikan skripsi. Awalnya aku tidak paham sama sekali tapi semakin ku dengar kalimatnya, aku tersadar dengan apa yang telah kulakukan 2 bulan ini. Ingin rasanya aku menangis di ruangan itu, tapi aku menahannya sekuat hati. Aku tak ingin menangis lagi didepan dosen, malu sekali rasanya. Aku hanya bisa menjawab, iya buk, ngak buk. Itu saja, selain itu aku kembali terdiam.
Fotonya masih kartun ya,
orangnya belum wisuda :D

“jadi Intan, jika kamu ingin meraih gelar sarjana, cepat kamu kerjakan skripsi dan perbaiki semua kesalahan yang ada di waktu proposal kemarin. Tidak ada lagi alasan untuk menunda karena ini atau itu. semua tergantung dengan keputusanmu. Apa kamu benar-benar ingin menjadi Engineer sejati dengan kemauanmu sendiri dan untuk dirimu atau kamu kuliah ini hanya untuk memenuhi keinginan keluargamu? Karena ketika kamu lulus nanti, kamu lah yang akan menjalani masa depanmu bukan keluargamu. Kamu berhak menentukan kehidupanmu. Cobalah untuk melepaskan rasa ketergantunganmu dan rasa bersalahmu selama ini. Gelar sarjana yang akan kamu dapatkan, bukankah itu kerja kerasmu selama 4 tahun ini? Karena itu, cobalah untuk meraihnya dengan kemampuanmu sendiri. kamu hanya ada dua pilihan, Intan. Ingin menjadi seorang engineer atau pecundang yang di Drop out? Jika kamu ingin 4 tahunmu tidak sia-sia, maka kejarlah gelar sarjana itu dan segerakan untuk menyelesaikan skripsimu, dan juga masih ada ujian kompre yang lebih menyita waktumu. Atau kamu ingin memilih menjadi mahasiswa yang di drop out oleh jurusan? Terserah padamu, Intan. Keputusan terbaik akan selalu datang ketika kita telah memilih jalannya” dosenku mengakhiri nasihat panjangnya ketika beberapa mahasiswa lain datang menemuinya.
Setelah keluar dari ruangan prodi, aku menyadari satu hal. Hanya ada satu pilihan diberikan dosenku, Lulus sebagai sarjana teknik atau berhenti karena di drop out. Aku tersenyum dan memilih pilihan pertama. Aku ingin lulus sebagai sarjana teknik dari kampus ini. Apapun alasannya, aku takkan pernah lagi mau menundanya. Karena menunda satu hari saja, aku akan kembali terlena dengan kemalasanku.
Siang semakin panas, aku bergegas berjalan menuju lab temanku. Aku tak sabar ingin bercerita kepada teman-temanku (kebiasaan banget ini :p) seperti biasa kulakukan setiap keluar dari ruangan prodi. Teman-temanku tertawa mendengarkan ocehanku.
            “Pilihanmu sudah benar, Ntan. Jalani itu dengan sepenuh hati, Insya Allah, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untukmu. Bersemangatlah karena bulan April sebentar lagi dan kita juga harus mempersiapkan ujian kompre kan?” satu persatu satu temanku memberikan wejangan padaku.
            Aku kembali tersenyum. Ya, aku tak mau menyia-nyiakan waktu ku yang hanya tinggal 2 bulan ini. Tak lama, kami keluar lab untuk shalat dan makan siang. Aku baru ingat aku belum makan siang :D