Sore ini aku memutuskan untuk menulis
lagi. Ya, padahal sudah sejuta ide yang nangking di otak, tapi film-film itu
lebih menggoda ku jadi yaaa nonton dulu agak 2-3 hari ini. So, writing is almost forgotten. Hehe. Selain itu, tadi sore aku
juga habis baca tulisan kawan yang bilang aku suka sastra, jadi niat menulis
datang lagi. Eheem eheem. Ok, Let me tell you about my story.
Di pertengahan bulan februari lalu,
aku akhirnya menemui dosen pembimbingku sekaligus dosen PA di kampus. Setelaaah
sekian lama, sang skripsweet ku
abaikan berdebu di folder laptorku. Aku mengenakan baju yang rapi dengan tas
ransel yang sudah berisi hasil print
skripsi ku yang (masih) harus direvisi. Keinginanku untuk menemui beliau adalah
tekad untuk segera menyelesaikan skripsiku. Niat yang mulia itu sebenarnya
sudah sangat tertunda selama 2 bulan yang lalu. Ya, 2 bulan yang ku sia-siakan
tanpa sisa. Hari ini aku sangat sangat sangat menyesal telah membuang waktu 2
bulan itu. Dengan penuh rasa takut, aku berjalan ke kampus. Berjalan sambil
membayangkan apa yang akan diucapkan dosenku nanti. Apakah aku akan dicueki
atau aku akan diceramahi terlebih dahulu? Atau bisa jadi dosen pembimbingku
menyerah daan tidak mau lagi melihat skripsiku ini? Ah, aku benar-benar pasrah
hari itu. Dengan hati yang deg-degan aku mengintip mobil dosenku di parkiran
sebelah kiri gedung C FT dan Alhamdulillah
mobilnya ada. Aku menghela nafas lega sekaligus gugup. Beberapa menit setelah
itu, dosenku muncul dan terpana seperkian detik lalu tersenyum pahit. “Kemana
saja kamu, Intan?”. Aku diam sambil tersenyum, senyuman penyesalan yang teramat
dalam.
Setelah menunggu belasan menit di
ruang prodi, akhirnya dosenku duduk di sampingku. Aku menunduk diam menunggu
kalimat pertama beliau. Beliau menghela nafas panjang dan kembali terdiam. Aku
berbasa basi untuk menanyakan apakah aku bisa revisi skripsi pagi itu. Lalu
dengan suara yang berat, dosenku bertanya.
“Intan, ketika mengurus proposal penelitian kemarin.
Siapa yang selesai duluan, kamu atau Ifa?” Tanya dosenku sambil menatapku. Aku
terpana mendengarnya.
“Proposal buk?, In-in-in Intan buk” jawabku jujur
dengan sangat terbata-bata. Aku menatap meja kaca yang sedikit berdebu. Aku
tertunduk semakin dalam. Aku tampak sangat menyedihkan.
“Ok. Nah sekarang, kamu lihat siapa yang sudah lulus
sekarang?” dosenku bertanya lagi padaku.
Kalimat singkatnya langsung membuatku tertusuk
tajam. Sungguh aku tidak menyangka kalimat singkat itu ada. Aku tak mampu
menjawab pertanyaan itu lagi. Aku menyerah dan pasrah dengan nasibku kini.
Lambat-lambat aku mengangkat wajahku dan berkata sangat pelan. Pelan sekali
hingga aku tak mendengar suaraku sendiri.
“kak Ifa buk” airmataku tertahan dan aku kembali
menunduk lagi.
Dosenku kembali menghela nafas panjang. Kali ini
beliau duduk sambil menatap jauh ke depan. Sejenak terlihat seperti memikirkan
kalimat apa yang cocok untuk menasihatiku. Aku menatap skripsi yang kukeluarkan
dari tas seasonku. Aku mulai mencerna
dua kalimat Tanya dosenku. Tentang siapa yang duluan berjuang membuat proposal
dan kini siapa yang bahagia dengan kelulusan teknik. Aku terpana dan mengingat
segala usaha yang telah kulakukan setahun belakangan ini. Aku ingat sekali
pertama kali aku revisi proposal penelitian ini. Februari 2015. Ya mungkin
sebenarnya bukan bulan itu, tapi aku sudah sering menjumpai dosenku untuk
belajar jurnal sebelumnya. Aku ingat ketika akhirnya dua dosenku menandatangani
lembar pengesahan proposalku meskipun ternyata tidak semua yang bisa dikoreksi.
Aku ingat ketika kak Ifa menanyakan proposalku dan mengikuti tinjauan pustaka
proposalku. Aku ingat ketika akhirnya dosenku yang malah menjawab segala
pertanyaan dosen penguji ketika aku seminar proposal dulu sementara aku terdiam
membisu. Ah, ingatan-ingatan ketika aku dengan kak Ifa harus pulang sore
mengerjakan penelitian sampai masuk waktu
maghrib. Segala peristiwa di tahun 2015 lalu tiba-tiba melintas di
kepalaku.
“Ah sudahlah Intan. Penyesalan saat ini takkan bisa
mengubah semua yang telah berlalu kan.” Dosenku berkata tegas sambil menatapku
iba. Beberapa saat kami terdiam, membiarkan para malaikat berjalan melintasi ruang prodi ber-AC itu.
Setelah hening sejenak, sang dosen mulai berbicara
serius padaku. Menasihatiku tentang pentingnnya sebuah keputusan disaat segala
hambatan datang menghampiri. Juga tentang kelalaianku yang lebih mementingkan hal
yang lain daripada menyelesaikan skripsi. Awalnya aku tidak paham sama sekali
tapi semakin ku dengar kalimatnya, aku tersadar dengan apa yang telah kulakukan
2 bulan ini. Ingin rasanya aku menangis di ruangan itu, tapi aku menahannya
sekuat hati. Aku tak ingin menangis lagi didepan dosen, malu sekali rasanya. Aku
hanya bisa menjawab, iya buk, ngak buk. Itu saja, selain itu aku kembali
terdiam.
![]() |
| Fotonya masih kartun ya, orangnya belum wisuda :D |
“jadi Intan, jika kamu ingin meraih gelar sarjana,
cepat kamu kerjakan skripsi dan perbaiki semua kesalahan yang ada di waktu
proposal kemarin. Tidak ada lagi alasan untuk menunda karena ini atau itu. semua
tergantung dengan keputusanmu. Apa kamu benar-benar ingin menjadi Engineer sejati dengan kemauanmu
sendiri dan untuk dirimu atau kamu kuliah ini hanya untuk memenuhi keinginan
keluargamu? Karena ketika kamu lulus nanti, kamu lah yang akan menjalani masa
depanmu bukan keluargamu. Kamu berhak menentukan kehidupanmu. Cobalah untuk
melepaskan rasa ketergantunganmu dan rasa bersalahmu selama ini. Gelar sarjana
yang akan kamu dapatkan, bukankah itu kerja kerasmu selama 4 tahun ini? Karena
itu, cobalah untuk meraihnya dengan kemampuanmu sendiri. kamu hanya ada dua
pilihan, Intan. Ingin menjadi seorang engineer
atau pecundang yang di Drop out? Jika
kamu ingin 4 tahunmu tidak sia-sia, maka kejarlah gelar sarjana itu dan segerakan
untuk menyelesaikan skripsimu, dan juga masih ada ujian kompre yang lebih
menyita waktumu. Atau kamu ingin memilih menjadi mahasiswa yang di drop out oleh jurusan? Terserah padamu,
Intan. Keputusan terbaik akan selalu datang ketika kita telah memilih jalannya”
dosenku mengakhiri nasihat panjangnya ketika beberapa mahasiswa lain datang
menemuinya.
Setelah keluar dari ruangan prodi, aku menyadari
satu hal. Hanya ada satu pilihan diberikan dosenku, Lulus sebagai sarjana teknik
atau berhenti karena di drop out. Aku
tersenyum dan memilih pilihan pertama. Aku ingin lulus sebagai sarjana teknik
dari kampus ini. Apapun alasannya, aku takkan pernah lagi mau menundanya. Karena
menunda satu hari saja, aku akan kembali terlena dengan kemalasanku.
Siang semakin panas, aku bergegas berjalan menuju
lab temanku. Aku tak sabar ingin bercerita kepada teman-temanku (kebiasaan banget
ini :p) seperti biasa kulakukan setiap keluar dari ruangan prodi. Teman-temanku
tertawa mendengarkan ocehanku.
“Pilihanmu sudah benar, Ntan. Jalani
itu dengan sepenuh hati, Insya Allah,
Allah akan memberikan jalan yang terbaik untukmu. Bersemangatlah karena bulan
April sebentar lagi dan kita juga harus mempersiapkan ujian kompre kan?” satu
persatu satu temanku memberikan wejangan padaku.
Aku kembali tersenyum. Ya, aku tak
mau menyia-nyiakan waktu ku yang hanya tinggal 2 bulan ini. Tak lama, kami
keluar lab untuk shalat dan makan siang. Aku baru ingat aku belum makan siang
:D
