Malam ini sambil
dengerin radio PPI Dunia melalui streaming
online, kisah ini aku ceritakan padamu kawan. Iya iya iya, akhirnya bisa
denger juga radio PPI Dunia. Setelah, beberapa kali buka link nya, kepo-in website PPI Dunia, ngelike sebagian fanspage PPI dan berbagai macam cara
lainnya. Seneng bangeet rasanya boy. “Lue alay banget sih ntan, anak manaaa?”.
Tapi efeknya, gak fokus nulis ne haaa. Jadinya acak-acakan isi tulisan ini,
udah mirip acar aja neng.
Yaa meskipun ngetik
sudah berkali–kali dan delete lagi
trus ketik lagi, kisah ini akan terus ku ceritakan padamu. Yahaaa.
Kau tahu apa itu bunga?
Tumbuhan yang menentramkan jiwa-jiwa yang kosong. Tumbuhan yang akan
membahagiakan kehidupan seseorang. Masih gak percaya? Whatever lah bro. Saya
takkan membahas apa arti bunga-bunga itu tapi saya akan utarakan pentingnya
bunga untuk hidup saya. Pertama kali melihatnya saya benar-benar terpesona.
Pertemuan kecil itu membuat kehidupan saya berubah. Kisah itu adalah salah satu
potongan puzzle terindah yang kumiliki. Bunga itu takkan pernah tergantikan
oleh bunga-bunga yang lain. Oleh bunga mawar yang merah mempesona, oleh bunga anggrek
yang suci, oleh bunga kaktus yang dingin dan kaku, oleh bunga apapun yang kau
lihat dimanapun. Bunga ini adalah jenis bunga yang sangat berbeda. Takkan
seorang pun yang bisa memetiknya sebelum waktunya tiba. Dan aku akan mulai
mengisahkannya padamu, Kawan.
Siang itu, ketika
hendak masuk ekstrakulikuler Takhasus
Bahasa Arab dan Qawaid, aku dipanggil dengan tidak sengaja oleh Kepala Sekolah
Aliyah, PP Parabek. Antara shock dan
seneng sih, antara bahagia dan deg-degan. Yuhuu. Dengan rasa gugup yang memuncak,
aku mendekati pintu ruangan kantor tamu. “Saya ingin kamu membantu saya untuk
menemani murid ini melihat asrama puteri dan menemui Pembina asrama puteri”,
ucap beliau dengan bahasa arab yang mudah dipahami. Saya langsung bilang,”Na’am
ustadz.” Dengan kebingungan yang meningkat detik demi detik , saya mencoba
mengajak gadis itu. Ia ditemani seorang guru. Ia terlihat masih muda dan imut.
Wajahnya tidak terlalu saya perhatikan karena saya masih berpikir tentang
ucapan kepala sekolah. Murid? Maksudnya dia murid baru disini, di Parabek?
Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia ya? Dia beneran masuk parabek? Sekolah
di pinggiran kota Bukittinggi ini? Siapa dia dan dari mana sekolahnya? Selama
berjalan menuju Asrama Puteri, saya menyapa dia, si Gadis berbaju hitam yang
manis sekali. “Hhmm, nama Intan, eh saya adalah Intan. Saya kelas 5 eh kelas 2
aliyah jurusan IPA kak” saya tersipu malu memperkenalkan diri. Kami bersalaman
mesra, seakan sudah lama berjumpa. “Saya Bunga dan jangan dipanggil kakak. Kita
seusia kok.” Singkat saja balasannya dan dia kembali tersenyum. Kami terus
berjalan hingga sampai di depan asrama puteri.
Di asrama, kami bertemu
dengan Pembina asrama. Mungkin Kepala Sekolah sudah memberitahukan kedatangan
kami. Setelah menjelaskan beberapa hal mengenai fasilitas asrama puteri,
Pembina asrama langsung menentukan kamar untuk gadis itu. “Nah untuk sementara
kamar untuk bunga di kamar Masyithah ya” Aku yang mendengar itu langsung
terkejut. Hey, apa-apaan ustadzah ini. Kenapa gadis selugu dia dimasukkan ke
kamar Masyithah? Apa jadinya dia kalau di kamar itu? Suddenly, aku mencemaskan dirinya. Tegarkanlah dirimu wahai gadis
berbaju hitam yang manis.
Sepulang takhasus, aku
masih mengkhawatirkannya dan langsung pergi ke kamarnya. Takut-takut aku menghampirinya.
Dan dia kembali tersenyum. Ah senyuman si Bunga satu itu selalu menentramkan
jiwa. Setelah itu, aku selalu main-main ke kamarnya. Mengajaknya bercerita
tentang sekolah Parabek. Menceritakan guru-guru pengajar dan keadaan asrama
puteri. Dan of course juga teman-teman satu angkatan dan beberapa senior junior
yang terkenal.
Dag na dag bleef veranderen, aku semakin akrab
dengan si gadis berbaju hitam yang manis itu. Dia juga menceritakan alasan
pindah ke sekolah kami. “karena melihat seseorang yang pintar berbahasa arab di
sekolah ini, makanya pindah deh” Apaaaa? Serius lah ngaaa? sampe hari ini gue
gak pernah bisa mempercayai alasan simpel si dia. Berbulan-bulan kami bersama
menjalani kehidupan di parabek, aku selalu diajak di acara-acara kelas agama.
Diperlihatkan buku-buku terjemahan yang dia punya. Buku terjemahan Al-Wafa (Terjemahan Kitab Hadist
Arba’in), terjemahan kitab Ta’lim
muta’lim. Amazing guys, amaziiiing.
Aku terkagum-kagum selalu.
Minder sih minder tapi
itu mah cerita lama meeen. Today, it’s
not different between us guys. Gadis berbaju hitam yang lugu itu sudah
terbang ke negeri para RasulNya. Menjajaki salah satu negeri peradaban Islam,
Negeri Fir’aun yaitu Mesir. Aku tidak menyangka bahwa dia lah satu-satunya
santriwati yang berkuliah di Luar negeri diangkatan kami. Dia juga sudah
menjelajahi Negara Turki, Negara nya Om Erdogan. Dan yang paling membuatku iri
adalah dia telah berubah status menjadi seorang Hajjah dan berkunjung ke Kota paling suci sedunia, Kota
Makkah-Madinah. Pastilah takdir baik mengikutinya kemanapun dia pergi.
Hari ini aku berterima
kasih padanya. Dialah Bunga yang sangat istimewa yang pernah kujumpai. Memiliki
sahabat yang penuh inspirasi dan fashionable.
Ah, kini setelah empat tahun berpisah aku merindukannya. Aku merindukan
keramahan keluarganya, aku merindukan keingintahuannya tentang sekolah. Dan aku
rindu belajar dengannya, mengajari Qawaid dan Bahasa Arab. Ah, hari ini pasti
dia lebih jago berbahasa arab dariku, ahli Qawaid dan ilmu Agama lainnya. Suatu
saat nanti, ku ingin kita bercengkerama lagi ya Bunga. Aku akan memaksanya untuk mengutarakan maksud
kepindahannya ke sekolah kami.
Hari ini aku
benar-benar jujur padamu. Aku merindukanmu Bunga, Ana Uhibbuki fillah ukhti Bunga Shiba


