Pages

Senin, 07 September 2015

Bunga Itu Bernama Bunga Shiba


Malam ini sambil dengerin radio PPI Dunia melalui streaming online, kisah ini aku ceritakan padamu kawan. Iya iya iya, akhirnya bisa denger juga radio PPI Dunia. Setelah, beberapa kali buka link nya, kepo-in website PPI Dunia, ngelike sebagian fanspage PPI dan berbagai macam cara lainnya. Seneng bangeet rasanya boy. “Lue alay banget sih ntan, anak manaaa?”. Tapi efeknya, gak fokus nulis ne haaa. Jadinya acak-acakan isi tulisan ini, udah mirip acar aja neng.
Yaa meskipun ngetik sudah berkali–kali dan delete lagi trus ketik lagi, kisah ini akan terus ku ceritakan padamu. Yahaaa.
Kau tahu apa itu bunga? Tumbuhan yang menentramkan jiwa-jiwa yang kosong. Tumbuhan yang akan membahagiakan kehidupan seseorang. Masih gak percaya? Whatever lah bro. Saya takkan membahas apa arti bunga-bunga itu tapi saya akan utarakan pentingnya bunga untuk hidup saya. Pertama kali melihatnya saya benar-benar terpesona. Pertemuan kecil itu membuat kehidupan saya berubah. Kisah itu adalah salah satu potongan puzzle terindah yang kumiliki. Bunga itu takkan pernah tergantikan oleh bunga-bunga yang lain. Oleh bunga mawar yang merah mempesona, oleh bunga anggrek yang suci, oleh bunga kaktus yang dingin dan kaku, oleh bunga apapun yang kau lihat dimanapun. Bunga ini adalah jenis bunga yang sangat berbeda. Takkan seorang pun yang bisa memetiknya sebelum waktunya tiba. Dan aku akan mulai mengisahkannya padamu, Kawan.
Siang itu, ketika hendak masuk ekstrakulikuler Takhasus Bahasa Arab dan Qawaid, aku dipanggil dengan tidak sengaja oleh Kepala Sekolah Aliyah, PP Parabek. Antara shock dan seneng sih, antara bahagia dan deg-degan. Yuhuu. Dengan rasa gugup yang memuncak, aku mendekati pintu ruangan kantor tamu. “Saya ingin kamu membantu saya untuk menemani murid ini melihat asrama puteri dan menemui Pembina asrama puteri”, ucap beliau dengan bahasa arab yang mudah dipahami. Saya langsung bilang,”Na’am ustadz.” Dengan kebingungan yang meningkat detik demi detik , saya mencoba mengajak gadis itu. Ia ditemani seorang guru. Ia terlihat masih muda dan imut. Wajahnya tidak terlalu saya perhatikan karena saya masih berpikir tentang ucapan kepala sekolah. Murid? Maksudnya dia murid baru disini, di Parabek? Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia ya? Dia beneran masuk parabek? Sekolah di pinggiran kota Bukittinggi ini? Siapa dia dan dari mana sekolahnya? Selama berjalan menuju Asrama Puteri, saya menyapa dia, si Gadis berbaju hitam yang manis sekali. “Hhmm, nama Intan, eh saya adalah Intan. Saya kelas 5 eh kelas 2 aliyah jurusan IPA kak” saya tersipu malu memperkenalkan diri. Kami bersalaman mesra, seakan sudah lama berjumpa. “Saya Bunga dan jangan dipanggil kakak. Kita seusia kok.” Singkat saja balasannya dan dia kembali tersenyum. Kami terus berjalan hingga sampai di depan asrama puteri.
Di asrama, kami bertemu dengan Pembina asrama. Mungkin Kepala Sekolah sudah memberitahukan kedatangan kami. Setelah menjelaskan beberapa hal mengenai fasilitas asrama puteri, Pembina asrama langsung menentukan kamar untuk gadis itu. “Nah untuk sementara kamar untuk bunga di kamar Masyithah ya” Aku yang mendengar itu langsung terkejut. Hey, apa-apaan ustadzah ini. Kenapa gadis selugu dia dimasukkan ke kamar Masyithah? Apa jadinya dia kalau di kamar itu? Suddenly, aku mencemaskan dirinya. Tegarkanlah dirimu wahai gadis berbaju hitam yang manis.
Sepulang takhasus, aku masih mengkhawatirkannya dan langsung pergi ke kamarnya. Takut-takut aku menghampirinya. Dan dia kembali tersenyum. Ah senyuman si Bunga satu itu selalu menentramkan jiwa. Setelah itu, aku selalu main-main ke kamarnya. Mengajaknya bercerita tentang sekolah Parabek. Menceritakan guru-guru pengajar dan keadaan asrama puteri. Dan of course juga teman-teman satu angkatan dan beberapa senior junior yang terkenal.
Dag na dag bleef veranderen, aku semakin akrab dengan si gadis berbaju hitam yang manis itu. Dia juga menceritakan alasan pindah ke sekolah kami. “karena melihat seseorang yang pintar berbahasa arab di sekolah ini, makanya pindah deh” Apaaaa? Serius lah ngaaa? sampe hari ini gue gak pernah bisa mempercayai alasan simpel si dia. Berbulan-bulan kami bersama menjalani kehidupan di parabek, aku selalu diajak di acara-acara kelas agama. Diperlihatkan buku-buku terjemahan yang dia punya. Buku terjemahan Al-Wafa (Terjemahan Kitab Hadist Arba’in), terjemahan kitab Ta’lim muta’lim. Amazing guys, amaziiiing. Aku terkagum-kagum selalu.
Minder sih minder tapi itu mah cerita lama meeen. Today, it’s not different between us guys. Gadis berbaju hitam yang lugu itu sudah terbang ke negeri para RasulNya. Menjajaki salah satu negeri peradaban Islam, Negeri Fir’aun yaitu Mesir. Aku tidak menyangka bahwa dia lah satu-satunya santriwati yang berkuliah di Luar negeri diangkatan kami. Dia juga sudah menjelajahi Negara Turki, Negara nya Om Erdogan. Dan yang paling membuatku iri adalah dia telah berubah status menjadi seorang Hajjah dan berkunjung ke Kota paling suci sedunia, Kota Makkah-Madinah. Pastilah takdir baik mengikutinya kemanapun dia pergi.

Hari ini aku berterima kasih padanya. Dialah Bunga yang sangat istimewa yang pernah kujumpai. Memiliki sahabat yang penuh inspirasi dan fashionable. Ah, kini setelah empat tahun berpisah aku merindukannya. Aku merindukan keramahan keluarganya, aku merindukan keingintahuannya tentang sekolah. Dan aku rindu belajar dengannya, mengajari Qawaid dan Bahasa Arab. Ah, hari ini pasti dia lebih jago berbahasa arab dariku, ahli Qawaid dan ilmu Agama lainnya. Suatu saat nanti, ku ingin kita bercengkerama lagi ya Bunga. Aku akan  memaksanya untuk mengutarakan maksud kepindahannya ke sekolah kami.
Hari ini aku benar-benar jujur padamu. Aku merindukanmu Bunga, Ana Uhibbuki fillah ukhti Bunga Shiba

1 komentar: