Pages

Senin, 07 November 2016

Niña Mühendis



         Ini sudah masuk minggu ketiga, aku tidak berjumpa dengan mereka, para anggota geng Niña Mühendis. Sedih memang harus berpisah jauh dengan mereka apalagi tak tau sampai kapan akan bertemu lagi. But surely, aku yakin rindu yang terus memuncak ini juga dirasakan oleh para anggota geng yang lain. Bukannya lebay ya, ITU FAKTA DAN ITU ADALAH MASALAHNYA (bacanya pake intonasi Chelsea Islan di film Rudy Habibie yaa..) krik krik krik krik krik... Oke, mari lupakan adegan sok sedih barusan karena gue kagak mau Jumat Malam yang syahdu dan berkah ini rusak gegara kesedihan yang tak terelakkan ini (air mata tiba-tiba menetes membanjiri kasur spring bed yang empuk). Ah, kan udah dibilang jangan cengeng macam balita, tetap aja hati tak bisa dibohongi. (nangis meraung-raung sambil cakar-cakar dinding yang baru dicat).
Hari ini adalah Jumat (04 November 2016) yang sangat bersejarah untuk Indonesia. Pasalnya hari ini, Umat Islam Indonesia menyuarakan Kebenaran Haqiqi di Ibukota Jakarta, meminta Presiden Republik Indonesia untuk mengusut tuntas si Penista Agama yang telah menodai ayat Alquran. Berani sekali menghina Pedoman Agama padahal dia hanya segelintir dari penduduk agama yang minoritas di Indonesia. Mari kita lihat saja nasib kehidupannya, apa akan berakhir di bui atau diusir dari tanah air ? *Headline News* Habis terkagum-kagum dengan kedasyatan dari berkah hari jumat.
Aargh, sebenarnya bukan bahas tentang si Penista Agama Islam yang sok keren sok pintar itu, tapi kok larinya kesana ya? Kan lagi adegan isak tangis kerinduan dengan geng Niña Mühendis, memang lah ya. Dari tadi ngomongin geng Niña Mühendis, sebenarnya mereka siapa sih sampai baper mikirinnya. Ah bukan siapa-siapa sebetulnya. Mereka hanyalah sahabat yang selalu memberikan perhatian lebih kepada satu sama lain, sahabat yang selalu terjaga untuk menolong di saat sulit, sahabat yang tak peduli akan kemarahan yang lain asalkan bisa mengingatkan tentang kebenaran Ilahi, sahabat yang dengan suka rela memberikan pundaknya ketika kesedihan datang, sahabat yang tak segan memarahi saat melakukan kesalahan, sahabat yang sabar mendengar celoteh kosong ketika bercanda dan banyak lagi yang tak mampu lidah ini untuk berucap.  (nah lue kan lagi nulis)
Di malam yang selalu dingin ini *ceritanya lagi di Kota Bukittinggi*, aku membuka folder Niña Mühendis yang berisi foto-foto kece para gadis belia hahahahaha. Aku tersenyum mengingat adegan berlari-lari ke lab nya Uci ketika Ultahnya gara-gara kepanikan Asia, keisengan untuk ngerjain ciwid saat ultah di dekat jembatan kupu-kupu UR, kecemburuan Aku dan Siti karena ngerayain Ultah yang dibuat sengaja telat, keunikan hadiah Ultahnya Vina dan Ina yang isinya Buku tentang menikah, buka bareng di Sewuroso sambil ngasih kado Ultahnya Nila, jalan-jalan ke taman Kota Pekanbaru dan ke Bangkinang hanya untuk foto-foto, foto bibir merah sehabis makan ayam penyet ketika Ultahnya Asia, kealayan foto di wedding kakaknya Uci serta foto-foto lain yang membongkar kisah lama. Terima kasih Dian yang oke banget jadi pemandu foto selfie kita-kita. muach muach muach muaaach :*

Niña Mühendis Gallery

Berawal dari takdir yang mempertemukan kita di UKMI Daarul Hijrah (except Vina yang menjadi teman di dua kelas berbeda), aku merasa menjadi orang yang paling beruntung hari ini. Yayaya, pada awalnya kita tidak bisa akur satu sama lain, selalu berbeda pendapat dan salah paham sampai tak saling menyapa dua tiga hari, kadang saling menjauh untuk menjaga hati yang terbakar emosi dan sikap kekanak-kanakan lainnya. Tapi percayalah teman, di saat-saat seperti itulah, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan nikmat terbesarnya yaitu persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Aku yakin 100% bahwa saat kita tak sepaham tentang satu hal, kerinduan  berukuhuwah datang memenuhi relung hati hingga kesalahan itu sirna seketika.
Teringat jelas waktu tahun-tahun awal kuliah, Ina sering memarahiku kalau sikapku sudah melewati batas bercanda dengan teman laki-laki di kelas. Begitu banyak kepeduliannya padaku, tapi aku tetap saja menjahilinya dengan menyorakinya dengan teman yang lain. Ingat betul, ada orang yang sampai stress karena sikap cool nya Ina dan pada akhirnya aku mengakui bahwa akulah yang menyebabkan itu peace Na J J. Aku juga pernah bertengkar hebat dengan Siti hingga dia menjauhiku untuk beberapa waktu. Benar-benar kenyataan yang pahit waktu menjabat sebagai Ketua Keputrian UKMI. But, aku sadar bahwa kesalahan harus diakui dan bersegera meminta maaf. I’m so sorry about all of my mistakes and I promise to not do it any more. Karena ku tahu tanpa kehadiran siti disini, takkan ada yang mengingatkan untuk saling menjaga hati saat berselisih. Berbeda dengan Uci, teman paling pintar diantara kami yang ku kenal ketika selesai acara HIMATEKI pada bulan juli 2011 dulu. Awalnya aku hanya kenal sebatas nama saja sampai aku tahu dia lah yang paling banyak memenuhi album foto kami. I mean she is a woman most narcissistic when photographed. hahahaha. Aku tahu, dia lah yang paling tidak ambil pusing ketika kami bertengkar. Dia malah langsung diam dan pegang hp daripada cas cis cus ikutan berpendapat yang kagak jelas. Dia mah gitu orangnya, nyantai aja broh. Tapi dibalik sikap cueknya, kami selalu mengiyakan apa yang dia katakan dan segera mematuhinya tanpa banyak bicara. Aku belajar banyak darinya bagaimana cara berfoto eeh bukan maksudnya cara menghadapi suatu masalah bahwa kita tak harus tergesa-gesa mengambil keputusan meskipun di waktu yang terdesak. Thanks a lot Uci.
Berteman satu kelas di tahun pertama dengan Vina adalah keberuntungan yang tak terhingga. Keteguhannya akan satu hal membuatku selalu iri padanya. Vina selalu memberikan pembelajaran padaku bahwa apa yang kita percaya harus diperjuangkan, bagaimanapun kondisi kita. Aku yang selalu membayangkan hal-hal terburuk akan suatu masalah selalu kalah dengan pemikiran baiknya, selaluuu. Selain itu, dia yang paling rajin diantara kami. Hal sekecil apapun yang dikatakan dosen selalu tercatat di buku binder nya termasuk out of topic ketika di kelas. Kebayang kan waktu lihat catatannya, ada kotak-kotak kecil berisi motto dari Dosen. kwkwkwkwk. Berjumpa dengan Dian membuatku tersadar bahwa kita juga harus mandiri meskipun kita seorang perempuan. Selalu ada ide di setiap kesulitan yang kami hadapi, termasuk mengatasi hal rempong yang aku ciptakan. Ketegasan yang dia miliki membuat kami banyak belajar bagaimana menghadapi Dunia yang Keras ini. yeeeeaaa. Hal-hal kreatif juga menjadi andalannya, bayangkan saja dian sangat-sangat bersemangat membuat bouket Bunga Wisuda sampai-sampai tak sempat tidur. Pengen nyuri-nyuri ide kreatifnya tapi apa daya tangan ini tak selembut tangan dian merangkai bunga. ckckkckckck. Tak jauh beda dengan Nur Asia yang sama-sama penuh kreatifitas. Dia mah jago nya photoshop CS 3 dan CS 4 sampai-sampai banjir orderan waktu wisuda kemarin. “Kadang kita tak harus selalu memikirkan hal-hal remeh tentang orang lain”. Nah itulah yang diajarkan Asia kepada kami. Tak mestilah dipikirkan semua, tak penting jugaa. Kini aku memegang teguh prinsip itu dan terbukti ampuh waktu aku mengalami kondisi yang buruk. Syukran jazilan Asia.
Bertemu dengan gadis minang seperti ciwid membuatku bangga akan budaya Minangkabau. Ya, meskipun kami tidak pernah sekelas (entahlah kalo ada, berarti waktu itu ntan belum sadarkan diri, ckckckck) kami bersahabat dari UKMI DH. Ciwid mengajarkan banyak hal termasuk menyadarkan kami tentang pentingnya memasak. Walaupun kami adalah para gadis teknik yang kerjanya membuat laporan ini itu, tapi seorang perempuan tetaplah perempuan apapun kesibukannya. Jika dia sudah mencatat apa yang harus dibeli ke pasar, maka siap-siaplah menyantap makanan enak di sore harinya. Ada-ada saja yang ciwid masak hingga terakhir yang ku coba adalah masakan berbau Durian. Wuih, tak tertandingi masakannya dikalangan kami ini. Best of the best lah. Nah terakhir adalah Nila, yang suka mengalah dan rendah hati suit suit suit suit. Paling jarang membantah jika kami berbagi nasihat walau pada akhirnya suka bersikukuh dengan pendapatnya. hehehehe. Meskipun pendiam, kami tak lantas meninggalkannya dalam kesepian tapi mengajaknya untuk menggila bersama. Kesibukan yang selalu ada membuat dia tak lantas melupakan sang Pencipta. Aku selalu memperhatikannya setiap kali setelah shalat, selalu lama untuk berdoa. Pernah sekali, kami langsung pergi saja dan meninggalkannya setelah shalat eh tau nya Nila masih berdoa di mushalla. Alamak, rasanya malu sekali diri ini dihadapanNya. Aku mencoba untuk menyainginya dalam soal ibadah tapi tetap saja kalah jauh dari padanya. Ah sudahlah, dia mah sudah ahlinya atuuuh.
            Upps, satu lagi terlupa. Niña Mühendis hanyalah sebutan biasa diantara kita-kita. Ya pada awalnya cuma untuk buat nama grup Line doang biar keren dikit. Nah, niña itu berasal dari bahasa Spanyol yang artinya gadis sedangkan mühendis berasal dari bahasa Turki yang artinya insinyur. So simple, right   ^_^ 

 by : Ii-eF-eM 
Bukittinggi, 4-8 Nov 2016 
Mumpung lagi gak ada kerjaan dan gak ada yang mau dimakan :p


Tidak ada komentar:

Posting Komentar