Pernah
menonton Film “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi atau pernah membaca novelnya?
Bagiku menonton film ber-genre family ini mengingatkanku tentang
sepotong puzzle kehidupan beberapa tahun yang lalu. Hari-hari yang begitu
sempurna yang membentuk jati diri sebagai muslim di sebuah Pesantren yang
memberikan andil besar dalam menciptakan kader
ulama, umara’, aghniya’ intelektual.
Kami dididik menjadi santri yang siap turut membangun peradaban
Islam yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla dalam kerangka Rahmatan
lil’alamin.
Ingat salah satu adegan di film
“Negeri 5 Menara” dimana salah satu Ustadz nya memberikan mahfudzat
sakti “Man Jadda wa Jada” kepada seluruh santrinya hingga mengobarkan
semangat belajar? Nah begitu juga yang terjadi dengan pesantren kami.
Diawal-awal belajar di sekolah ini, kami langsung diajarkan salah satu bahasa
dunia yaitu bahasa arab. “Madza darsunal aan? Darsunal aan allughatul
‘arabiyah” dua kalimat inilah yang pertama kali kami pahami meskipun pada
awalnya sangat sulit diucapkan. Bayangkan saja, percakapan bahasa arab tidaklah
sama dengan membaca alquran karena tidak ada istilah ikhfa, idzhar atau iqlab
ketika mengucapkannya hingga kami kewalahan membaca teks bahasa arab. But,
Actually I really miss this moment. Terima kasih ustadz yang telah membantu
memperkenalkan bahasa surga tersebut kepada kami.
Well, menjadi santriwati
sejak kelas 1 tsanawiyyah tak lantas membuat diri ini ma’shum dari dosa. Satu atau
dua kali malah pernah melanggar peraturan asrama seperti larangan berbahasa
daerah atau bahasa Indonesia. Ingat banget waktu zaman-zamannya peraturan
bahasa asing di asrama, aku dengan sekeras-kerasnya teriak bahasa Indonesia karena
emosi lihat teman yang memancingku berbahasa Indonesia sehingga di cap sebagai Mukhalafatul
lughah (pelanggar bahasa). Karena ini adalah kesalahan diawal kelas 2, jadi
aku seakan-akan menjadi murid yang terburuk saat itu. Ya, meskipun gara-gara ini, satu dua
peraturan asrama juga ku langgar. Uppszz
Beranjak
menjadi anak aliyah, tingkah polos tidak ada lagi tersemat pada diriku. Hahaha.
Saat itu, kelas kami dipisahkan antara santri takhasush atau yang tidak takhasush.
Jadilah kelasku diisi oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi,
punya prestasi gemilang dan tentunya jauh dari pelanggar peraturan. Namun,
jangan harap kami rukun dan damai ya. Disinilah awal dari permusuhan nyata
antara santri yang berprestasi dengan santri yang biasa meskipun semester
selanjutnya kami sangat akur dan damai. Hehehe. Dimulai dari keisengan
santriwati membahas tentang Isbath (Memanjangkan pakaian dengan sombong)
dalam mudzakarah mingguan yang pada akhirnya berujung tentang sindiran
santriwan yang mengatakan kalau santriwati tidak bisa menjaga auratnya. Aku memang
tidak terlalu menghiraukan sindiran mereka tapi tidak dengan temanku yang
sangatlah sensitif. Dia menangis tersedu-sedu seakan dunia telah berakhir. Berhari-hari
kami tidak saling sapa dengan santriwan sampai kami harus komitmen menutup
aurat seperti memakai manset dan kaos kaki panjang. Ah, kisah haru yang tidak
bisa kulupakan.
Beranjak
menjadi santri kelas 5 aliyah, kami diharuskan menjalani Khitmatul Ummah.
Sebuah program studi yang mirip dengan Kuliah Kerja Nyata tetapi bedanya kami
menjalaninya selama 10 hari. Disanalah persahabatan terjalin dengan sempurna.
Pertengkaran yang sering kami lakukan telah sirna ketika 10 hari tinggal di
negeri orang. Pertengkaran telah berubah menjadi persahabatan yang terjaga
hingga hari ini, semoga tetap pada hingga akhir waktu. Aamiin
![]() |
| 43 Bersaudara : Angkatan Al-Fatih dan El Khansa |
Ah
kembali mengingat kehidupan 6 tahun itu seakan mengingat rangkaian puzzle yang
sangat berharga. Hari-hari yang sangat berharga untuk dilupakan hingga hari
ini. Setiap reuni yang kami lakukan akan selalu bercerita tentang kekonyolan
yang berlalu. Akan tetapi hikmah yang luar biasa juga tak bisa hilang. Banyak ilmu
yang telah dipelajari apalagi tidak semua ilmu yang bisa dicari saat ini. Seperti
ilmu Manthiq yang diajarkan langsung oleh Alm. Syekh Imam Khatib Muzaakir
atau lebih akrabnya Inyiak Khatib. Beliau sangat totalitas dalam mengajarkan
ilmu Manthiq, cabang ilmu alquran yang membahas tentang alat dan formula
berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara
berpikir salah. Semangat beliau tak pernah padam meski sering ditegur karena
berbahasa minang ketika mengajar. Selain itu juga ada ilmu Balaghah
yaitu, ilmu yang mengarahkan pembelajarannya untuk bisa mengungkapkan ide pikiran
dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian dalam
menangkap keindahan. Pelajarn ini disampaikan oleh Ustadz Masrur, guru yang
sangat baik tetapi paling cepat marah. Hihihihi. Ada juga ilmu Tasawuf yang
diajarkan oleh Ustadz deswandi. Ilmu tasawuf yaitu ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir
dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Nah pelajaran tasawuf
ini hanya mempelajari 5 halaman dalam satu semester, akan tetapi rincian di
setiap kalimatnya menggambarkan bagaimana seharusnya kita berakhlak.
Hari ini aku
sangat merindukan pesantren. Bagaimana ketika ilmu-ilmu itu diberikan dengan
penuh keikhlasan oleh ustadz dan ustadzahnya. Bagaimana ketika berakhlak dengan
guru dan sesama santri. Ah, kenangan itu terus saja ada disetiap waktu. Semoga,
jasa-jasa mu akan berbalaskan pahala disisi Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga
sepotong kisah ini akan selalu diingat kapanpun dan ukhuwah islamiyyah akan
selalu terjaga. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar