Pages

Senin, 15 Agustus 2016

Rindu menjadi Santri



Pernah menonton Film “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi atau pernah membaca novelnya? Bagiku menonton film ber-genre family ini mengingatkanku tentang sepotong puzzle kehidupan beberapa tahun yang lalu. Hari-hari yang begitu sempurna yang membentuk jati diri sebagai muslim di sebuah Pesantren yang memberikan andil besar dalam menciptakan kader ulama, umara’, aghniya’ intelektual. Kami dididik menjadi santri yang siap turut membangun peradaban Islam yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla dalam kerangka Rahmatan lil’alamin.
            Ingat salah satu adegan di film “Negeri 5 Menara” dimana salah satu Ustadz nya memberikan mahfudzat sakti “Man Jadda wa Jada” kepada seluruh santrinya hingga mengobarkan semangat belajar? Nah begitu juga yang terjadi dengan pesantren kami. Diawal-awal belajar di sekolah ini, kami langsung diajarkan salah satu bahasa dunia yaitu bahasa arab. “Madza darsunal aan? Darsunal aan allughatul ‘arabiyah” dua kalimat inilah yang pertama kali kami pahami meskipun pada awalnya sangat sulit diucapkan. Bayangkan saja, percakapan bahasa arab tidaklah sama dengan membaca alquran karena tidak ada istilah ikhfa, idzhar atau iqlab ketika mengucapkannya hingga kami kewalahan membaca teks bahasa arab. But, Actually I really miss this moment. Terima kasih ustadz yang telah membantu memperkenalkan bahasa surga tersebut kepada kami.
            Well, menjadi santriwati sejak kelas 1 tsanawiyyah tak lantas membuat diri ini ma’shum dari dosa. Satu atau dua kali malah pernah melanggar peraturan asrama seperti larangan berbahasa daerah atau bahasa Indonesia. Ingat banget waktu zaman-zamannya peraturan bahasa asing di asrama, aku dengan sekeras-kerasnya teriak bahasa Indonesia karena emosi lihat teman yang memancingku berbahasa Indonesia sehingga di cap sebagai Mukhalafatul lughah (pelanggar bahasa). Karena ini adalah kesalahan diawal kelas 2, jadi aku seakan-akan menjadi murid yang terburuk saat itu. Ya, meskipun gara-gara ini, satu dua peraturan asrama juga ku langgar. Uppszz
            Beranjak menjadi anak aliyah, tingkah polos tidak ada lagi tersemat pada diriku. Hahaha. Saat itu, kelas kami dipisahkan antara santri takhasush atau yang tidak takhasush. Jadilah kelasku diisi oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi, punya prestasi gemilang dan tentunya jauh dari pelanggar peraturan. Namun, jangan harap kami rukun dan damai ya. Disinilah awal dari permusuhan nyata antara santri yang berprestasi dengan santri yang biasa meskipun semester selanjutnya kami sangat akur dan damai. Hehehe. Dimulai dari keisengan santriwati membahas tentang Isbath (Memanjangkan pakaian dengan sombong) dalam mudzakarah mingguan yang pada akhirnya berujung tentang sindiran santriwan yang mengatakan kalau santriwati tidak bisa menjaga auratnya. Aku memang tidak terlalu menghiraukan sindiran mereka tapi tidak dengan temanku yang sangatlah sensitif. Dia menangis tersedu-sedu seakan dunia telah berakhir. Berhari-hari kami tidak saling sapa dengan santriwan sampai kami harus komitmen menutup aurat seperti memakai manset dan kaos kaki panjang. Ah, kisah haru yang tidak bisa kulupakan.
            Beranjak menjadi santri kelas 5 aliyah, kami diharuskan menjalani Khitmatul Ummah. Sebuah program studi yang mirip dengan Kuliah Kerja Nyata tetapi bedanya kami menjalaninya selama 10 hari. Disanalah persahabatan terjalin dengan sempurna. Pertengkaran yang sering kami lakukan telah sirna ketika 10 hari tinggal di negeri orang. Pertengkaran telah berubah menjadi persahabatan yang terjaga hingga hari ini, semoga tetap pada hingga akhir waktu. Aamiin
43 Bersaudara : Angkatan Al-Fatih dan El Khansa
            Ah kembali mengingat kehidupan 6 tahun itu seakan mengingat rangkaian puzzle yang sangat berharga. Hari-hari yang sangat berharga untuk dilupakan hingga hari ini. Setiap reuni yang kami lakukan akan selalu bercerita tentang kekonyolan yang berlalu. Akan tetapi hikmah yang luar biasa juga tak bisa hilang. Banyak ilmu yang telah dipelajari apalagi tidak semua ilmu yang bisa dicari saat ini. Seperti ilmu Manthiq yang diajarkan langsung oleh Alm. Syekh Imam Khatib Muzaakir atau lebih akrabnya Inyiak Khatib. Beliau sangat totalitas dalam mengajarkan ilmu Manthiq, cabang ilmu alquran yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Semangat beliau tak pernah padam meski sering ditegur karena berbahasa minang ketika mengajar. Selain itu juga ada ilmu Balaghah yaitu, ilmu yang mengarahkan pembelajarannya untuk bisa mengungkapkan ide pikiran dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian dalam menangkap keindahan. Pelajarn ini disampaikan oleh Ustadz Masrur, guru yang sangat baik tetapi paling cepat marah. Hihihihi. Ada juga ilmu Tasawuf yang diajarkan oleh Ustadz deswandi. Ilmu tasawuf yaitu ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Nah pelajaran tasawuf ini hanya mempelajari 5 halaman dalam satu semester, akan tetapi rincian di setiap kalimatnya menggambarkan bagaimana seharusnya kita berakhlak.
            Hari ini aku sangat merindukan pesantren. Bagaimana ketika ilmu-ilmu itu diberikan dengan penuh keikhlasan oleh ustadz dan ustadzahnya. Bagaimana ketika berakhlak dengan guru dan sesama santri. Ah, kenangan itu terus saja ada disetiap waktu. Semoga, jasa-jasa mu akan berbalaskan pahala disisi Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga sepotong kisah ini akan selalu diingat kapanpun dan ukhuwah islamiyyah akan selalu terjaga. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar