Alhamdulillah
1 agustus 2016 yang lalu, saya resmi mendapatkan gelat ST (Sarjana Teknik) meski
hanya dengan nilai ujian kompre yang nyaris gagal (lagi).
Sehari
setelah dinyatakan LULUS oleh semua pihak dosen yang bertugas menjadi panitia
Ujian Kompre, aku langsung sms Dosen PA sekaligus Pembimbing Penelitian memberi
kabar bahagia kepada beliau dan mengucapkan terima kasih telah bersedia
menerima mahasiswa macam saya yang prestasinya biasa-biasa aja. Tak sangka,
beliau meminta saya untuk ke kampus menemui beliau. Tapi memang anak bandel
yang bandelnya tak hilang-hilang, saya baru bisa menjumpai beliau sehari
setelah sms. Paraaah kan yaaaa? Besoknya sengaja pergi ngampus jam 9 pagi
karena takut ingkar janji lagi. Eh untungnya beliau sedang di Seminar Mahasiswa
D3 jadi bisa dikatakan saya tidak terlambat *ngelesbanget*.
Menunggu
hingga jam 12 siang terasa lama kali, karena memang gak ngapa-ngapain di
kampus. Sedikit mengintip ruangan seminar dan beliau masih duduk membereskan
tumpukan skripsi mahasiswa. Tak berpikir panjang saya langsung saja masuk ke
ruangan. Ya daripada nunggu terus, ngebosanin soalnyaaa. Diawal pembicaraan,
beliau memberikan ucapan selamat telah lulus di ujian kompre. Kemudian beliau
diam sejenak, mungkin memikirkan kalimat yang cocok untuk saya. Maklumlah saya,
mahasiswa bimbingan beliau yang sangatlah lama mencerna ucapan beliau. Kadang
dibilang A eh tau nya bukan itu maksudnya. Hahaha. Kemuadian beliau menanyakan
apa rencana setelah kuliah ini. Ya, mungkin pertanyaan beliau hanya basa-
basi karena sebelumnya beliau tahu bahwa saya ingin sekali melanjutkan studi ke
jenjang S2.
“Intan,
dari yang saya lihat ketika kamu Penelitian kemarin, coba kamu mencari kerja
terlebih dahulu. Karena apa? Karena perusahaan akan lebih banyak menerima
lulusan S1 dibandingkan lulusan S2. Jika mereka menerima lulusan S2, mereka
akan mempertimbangkan masalah gaji dan posisi. Lulusan S2 tidak bisa
disetarakan dengan lulusan S1 jika di perusahaan. Sayang sekali bukan? Jika kamu
ingin melanjutkan S2 untuk menjadi dosen, hal tersebut akan menjadi sulit juga
karena jabatan dosen harus menyelesaikan S3 nya.”
Begitulah
beliau, dosen PA sekaligus dosen Pembimbing penelitianku yang selalu memberikan
dua pilihan yang sulit. Akan tetapi juga memberikan pandangan ketika kita
memilih di salah satunya.
Job Seeker? Ah sepertinya akan butuh perjuangan
mencari kerja untuk perempuan. Bukan masalah nilai sebenarnya karena batasan
minimal GPA biasanya >3,00 akan tetapi masalah penampilan. Entahlah, apa ini
hanya perasaanku saja yang mengatakannya atau memang ini yang terjadi di
perusahaan. Senior yang berpenampilan rapi dengan rok dan jilbab panjangnya
belum ada yang bekerja di perusahaan baik dia sebagai engineer maupun bekerja
di labor perusahaan. Entah aku yang belum mencarinya secara detail atau memang
belum ada. Jikalau ada aku ingin sekali
berkomunikasi dengannya dan bertanya bagaimana cara masuk ke perusahaan
tersebut.
Scholarship
Hunter? Ah ini juga membuat hati galau. Melanjutkan studi ke
jenjang S2 tidaklah hal yang mudah. Aku harus menemukan beasiswa yang bisa
membiayai kuliahku nanti dan pastinya mencari universitas yang sesuai dengan
passionku. Belum lagi survei kehidupan muslim disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar