Pages

Selasa, 08 Desember 2015

Saya da Teknik Kimia

            Nama saya Intan Fitra Martin. Sekarang saya berada dideretan mahasiswa tingkat akhir di jurusan Teknik Kimia Universitas Riau. Saya adalah alumni dari sebuah pondok pesantren di Sumatera barat. Sebuah sekolah berbasis Islam dengan tidak melupakan mata pelajaran umum. Sekolah ini bernama Pondok Pesantren Sumatera thawalib parabek. Terletak di desa Parabek kenagarian Ladang laweh kab Agam. Selama enam tahun, saya menimba ilmu agama dan ilmu umum di sekolah ini. Di kelas 2 aliyah, saya memilih jurusan IPA dengan tetap mempelajari ilmu-ilmu agama seperti bahasa arab, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadist, balaghah, tasawuf, qawaid dan mathiq. Hingga juli 2011, kami akhirnya menamatkan sekolah tingkat aliyah dengan diadakannya acara perpisahan santriwan/wati kelas VI di lapangan sekolah Ponpes Parabek. Tangis kesedihan bercampur bahagia saat mengetahui bahwa akngkatan kami yang terdiri dari 43 orang lulus 100%. Beberapa bulan setelah itu, kami harus harus mengikuti SNMPTN sesuai keinginan dan kemampuan kami yang disesuaikan dengan basic ilmu yang kami miliki. Sebulan kemudian, saya diterima di jurusan teknik kimia universitas riau. Jurusan yang memiliki masa depan seorang engineer yang peluang kerjanya adalah di industri proses/manufaktur.
            Teknik kimia adalah salah satu jurusan yang sebenarnya didominasi oleh laki-laki karena prospek kerjanya banyak di lapangan. Akan tetapi beberapa tahun terakhir, teknik kimia sudah banyak diminati oleh perempuan karena pekerjaannya tidak terlalu memberatkan. Sebagai seorang santriwati lulusan pondok pesantren, saya sangat sulit untuk beradaptasi dengan keadaan yang dikelilingi oleh laki-laki. Lebih 60% dari satu angkatan dipenuhi oleh laki-laki yang artinya setiap satu kelompok belajar hanya ada 2-3 orang perempuan sementara terdapat 4-5 orang laki-laki. Untuk minggu-minggu pertama perkuliahan, saya selalu salah tingkah karena masih terkejut dengan kondisi fakultas saya. Dengan pakaian yang sudah rapi yaitu memakai rok dan jilbab yang sudah lebar, tidak menghalangi teman laki-laki untuk sekedar menyapa dengan jabat tangan. Dengan memakai alasan saya adalah alumni sebuah pondok pesantren ternyata malah membuat teman-teman dan senior tidak dapat mempercayai bahwa saya memilih jurusan yang sangat dipenuhi oleh laki-laki. Meskipun demikian, itu tidak menyurutkan niat saya untuk menuntut ilmu di jurusan ini.
            Tahun pertama kuliah adalah tahun tersulit bagi saya karena ditahun itu kami sebagai mahasiswa baru harus mengikuti semua agenda yang dibuat oleh himpunan ataupun BEM fakultas. Ada beberapa kali saya pernah ditegur oleh senior karena memakai rok di acara Engineering Day. Akan tetapi, saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya sudah terbiasa memakai rok dan tetap memakai celana panjang untuk kuliah dan kegiatan lainnya. Selain itu, juga terdapat beberapa senior perempuan yang juga seperti saya yang memakai rok dan jilbab lebar sehingga bisa membantu saya ketika menghadapi masalah seperti itu. Selain senior yang merasa ingin tahu dengan kebiasaan saya, ada satu dosen dimata kuliah saya yang juga merasa aneh ketika melihat mahasiswa teknik kimia memakai rok. Padahal setahu saya, dosen tersebut juga memiliki mahasiwi bimbingan yang memakai rok dan jilbab lebar. Hingga pada satu kali pertemuan belajar dengan beliau, beliau dengan sangat sengaja menyuruh saya untuk menyentuh lengan beliau dengan alasan untuk membuktikan bahwa beliau tidak perlu ditakuti oleh mahasiswa. Padahal di kelas itu, ada banyak mahasiwa/i yang berpakaian biasa saja yang telah terbiasa dengan hal tersebut. Dengan rasa cemas dan tidak ingin dianggap menyepelekan dosen, saya terpaksa menyentuh tangan beliau dengan pena. Semula teman-teman sekelas bingung bagaimana saya yang sangat menjaga diri untuk tidak berpegangan tangan dan menjaga hijab harus melakukan ide konyol tersebut. Selain itu, saya juga hanya tersenyum ketika harus berjabat tangan dengan dosen selingkungan teknik kimia ketika acara Buka Puasa bulan ramadhan. Setelah kejadian tersebut, teman-teman dan senior sayapun menyadari bahwa saya memang berkonsisten untuk tidak berpegangan tangan dengan non-muhrim. Meskipun ada beberapa kali pernah tidak sengaja teman atau senior memanggil saya dengan menepuk bahu atau lainnya, saya langsung tegaskan bahwa cukup memanggil saya dengan suara atau pakai alat lain.
            Selain berjabat tangan yang saya hindari, terkadang saya juga sulit mengatur waktu belajar ketika adzan berkumandang. Ada beberapa mata kuliah yang waktunya malah bertabrakan dengan waktu shalat. Ini sangat menganggu saya karena di sekolah pondok dulu, karena kami benar-benar diajarkan untuk shalat tepat waktu. Ada beberapa dosen yang mengizinkan saya keluar kelas disaat waktu shalat telah masuk tetapi tidak sedikit juga teman-teman saya yang malah pergi ke kantin terlebih dahulu hingga kadang saya juga terbawa-bawa. Akan tetapi saya dan beberapa teman yang berniat shalat tepat waktu tetap mendahulukan sahalat daripada hal lain. hingga niat untuk mengerjakan shalat diawal waktu tetap bisa saya lakukan.
            Di awal saya memasuki dunia perkuliahan, saya diajak untuk mengikuti perlombaan Karya tulis Ilmiah di fakultas Teknik. Akan tetapi, saya merasa ragu-ragu karena masih menganggap bahwa saya masih perlu banyak belajar. Diakhir tahun 2011, saya memberanikan diri untuk membuat Karya tulis ilmiah akan tetapi saya tidak dapat mengikuti perlombaan karena keterlambatan mengumpulkan paper. Pada tahun 2012, saya kembali memberanikan diri untuk mengikuti Call 4 Paper Mahasiswa yang ditaja oleh BEM FMIPA Universitas Riau. Dimana peserta akan mengumpulkan essay dan mempresentasikan hasil essay nya di depan 3 orang juri. Ketika saya mengikuti lomba ini, ternyata lomba ini juga diikuti oleh senior saya yang telah banyak mendapatkan penghargaan di berbagai perlombaan. Disaat itu juga saya minder untuk mengikuti perlombaan karya ilmiah. Pada awal tahun 2013. Saya diajak dua orang senior untuk mengikuti Kontes Inovasi Nasional di ITB oleh Himpunan mahasiswa Mesin ITB. Awalnya saya menolak karena saya merasa bukan mahasiswa yang memiliki inovasi di bidang teknik kimia. Akan tetapi karena lomba ini bersifat nasional, saya akhirnya mau menerima ajakan senior dan alhamdulillah kami menjadi 5 besar yang lulus setelah diseleksi dari panitia acara. Dua minggu setelah pengumuman, kami bertiga diikutkan dalam pameran inovasi di penutupan acara M-Fest di ITB.
            Semangat saya untuk mengikuti perlombaan kembali datang setelah berjumpa dengan teman-teman se-Indonesia yang juga lulus di Kontes Inovasi Nasional. Berbagai situs perlombaan saya ikuti untuk mendapatkan info-info terbaru tentang perlombaan tingkat nasional. Dipertengahan 2013, saya mendapatkan info tentang Lomba Essay Teknologi Nasional yang ditaja oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITS. Lomba ini yang bersifat online dengan mengirimkan tulisan essay yang sesuai dengan tema yang diberikan. Karena basic saya adalah teknik kimia, saya memberanikan diri mengirimkan essay saya yang berjudul  Pengembangan Bio-Oil Dari Kulit Durian Dengan Metode Pyrolisis Dalam Mengatasi Masalah Lingkungan Dan Krisis Energi“. Di essay ini, saya menjelaskan tentang kulit durian yang hanya dimanfaatkan sebagai briket padahal kulit durian memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan sebagai bahan baku bio-oil. selain itu, kulit durian yang dimanfaatkan dengan baik akan mengurangi masalah lingkungan dan dapat membantu pengembangan energi.
            Beberapa hari saya hanya berkutat dengan penulisan essay ini hingga saya lupa bahwa batas pengirimannya telah lewat satu hari. Dengan meminta dispensasi dengan panitia, akhirnya essay saya diterima dan langsung diseleksi oleh panitia. Beberapa minggu setelah itu, diumumkan juara I, II dan III  dan alhamdulillah saya mendapatkan juara I untuk lomba ini. Tiga hari setelah itu, saya mendapatkan hadiah dan sertifikat yang dikirimkan melalui email. Dari situ saya terus berusaha mencari tahu info-info perlombaan terutama yang bersifat sains dan teknologi. Akan tetapi karena kesibukan kuliah dan tugas yang menumpuk, saya tidak berkonsentrasi lagi untuk mengikuti perlombaan baik yang diadakan di fakultas maupun secara nasional.

1 komentar: