Pages

Selasa, 22 Desember 2015

Because This isn't about Love (1)



           Cinta. Inilah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada seluruh makhlukNya. Perasaan yang takkan hilang ditelan zaman hingga tak ada lagi kehidupan di dunia ini. Ah, meski terpisah di ujung dunia pun, cinta akan selalu mengalir seperti air yang pasti bermuara ke laut. Siapapun yang hidup di muka bumi ini, mau tidak mau akan merasakan yang namanya cinta. Tak peduli bagaimanapun watak dan sifat manusia, cinta akan hinggap lekat layaknya lem yang tak mudah lepas. Perasaan yang penuh dengan bunga wangi ini mungkin pernah datang kepadaku. Datang disaat sepinya jiwaku. Entahlah, seperti sinar matahari yang muncul di subuh hari. Terang dan membawa semangat baru. Aku tak paham apa itu cinta. Tak mengerti dengan gejolak kebahagiaan yang menghiasi relung-relung hatiku akan tetapi aku merasa nyaman dengan itu. Pertama kali merasakan cinta adalah waktu bersekolah di Tsanawiyah dulu. Apa itu memang cinta atau hanya rasa kagum berlebihan yang sengaja kusimpan. Yuphi, This isn't Love. Itu membuat hari-hariku gak pernah tenang.
Kelas 1 tsanawiyyah, aku terkagum dengan kepintaran satu teman kelasku karena dia Juara 1 di setiap pembagian rapor bulanan. Aku hanya kagum saja dan tidak lebih. Hanya penasaran dengan kerajinannya yang mampu mengalahkan 35 santri di kelas kami. Dan suatu kali, ketika kami menerima rapor bulanan, aku melihat dia menangis didepan kedua orang tua nya. Yaa, nilainya menurun hingga dia hanya mendapatkan juara 2 saat itu. Aku memperhatikannya diam-diam. Kedua orang tuanya memberi nasihat dengan suara yang pelan tapi dia menangis terisak-isak. Aku tidak berani mendekat sehingga tidak tau apa yang dikatakan orang tuanya. Tapi yang kupahami setelah kejadian itu, teman sekelas ku itu tidak pernah lagi mendapatkan juara selain juara 1. Peringkat itu dia dapatkan hingga kelas 6. Satu kali, di saat kelas 6 aliyah, aku sengaja bermain ke kelas 6 Agama mendatangi meja temanku. Aku pura-pura menanyakan pelajaran Nahwu yang sebenarnya aku bisa mempelajarinya di Buku Takhasus Qawaid. Dengan sok-sok berani, aku pergi ke mejanya dan mengatakan bahwa aku tidak paham dengan subbab Buku “An-Nahwu Wadhih”. Diluar dugaan, dia memberikan penjelasan dengan menyuruh kami untuk membuka buku Nahwu yang lain. Tidak menjelaskan kami secara langsung. Aku tertegun lama. Inikah dia sang Juara yang aku lihat 5 tahun yang lalu? Aku hanya mengucapkan terima kasih dan beberapa saat setelah itu pergi. Yang dapat kupahami saat itu adalah, dia memang pantas untuk mendapatkan peringkat nomor 1 di angkatan kami. Dialah sang Juara yang takkan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun.
Dia lah santriwan yang membuat para ustadz dan ustadzah terkagum-kagum. Kepintarannya tak lantas membuat dirinya sombong. Dia juga tidak terlalu berambisi menjadi ketua IPST saat itu. Hanya mengikuti alur cerita dan bersikap seolah dia tidak siapa-siapa. Ah, mungkin aku saja yang  tidak pernah mempedulikannya lagi. Aku sama sekali tidak tahu bahwa banyak adik tingkat yang mengaguminya. Berbisik-bisik membicarakan kehebatannya.  Diam-diam memperhatikannya dari meja duduk mereka disaat angkatan kami menjadi Guru Mentor. Yang ku tahu darinya hari ini adalah dia telah resmi menjadi Alumni sebuah Universitas ternama di dunia. Tapi, aku tetap pada perasaanku yang dulu. Aku hanya dan akan selalu mengagumi kepintaran dan kerendah hatiannya. Semoga ada satu bidadari dunia yang sholehah yang menjaganya hingga Allah memberhentikan jiwa raganya.

2 komentar: