Cinta.
Inilah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada seluruh makhlukNya.
Perasaan yang takkan hilang ditelan zaman hingga tak ada lagi kehidupan di
dunia ini. Ah, meski terpisah di ujung dunia pun, cinta akan selalu mengalir
seperti air yang pasti bermuara ke laut. Siapapun yang hidup di muka bumi ini,
mau tidak mau akan merasakan yang namanya cinta. Tak peduli bagaimanapun watak
dan sifat manusia, cinta akan hinggap lekat layaknya lem yang tak mudah lepas. Perasaan
yang penuh dengan bunga wangi ini mungkin pernah datang kepadaku. Datang disaat
sepinya jiwaku. Entahlah, seperti sinar matahari yang muncul di subuh hari.
Terang dan membawa semangat baru. Aku tak paham apa itu cinta. Tak mengerti
dengan gejolak kebahagiaan yang menghiasi relung-relung hatiku akan tetapi aku
merasa nyaman dengan itu. Pertama kali merasakan cinta adalah waktu bersekolah
di Tsanawiyah dulu. Apa itu memang cinta atau hanya rasa kagum berlebihan yang
sengaja kusimpan. Yuphi, This isn't Love. Itu membuat hari-hariku gak pernah tenang.
Kelas 1 tsanawiyyah, aku terkagum dengan kepintaran satu
teman kelasku karena dia Juara 1 di setiap pembagian rapor bulanan. Aku hanya
kagum saja dan tidak lebih. Hanya penasaran dengan kerajinannya yang mampu
mengalahkan 35 santri di kelas kami. Dan suatu kali, ketika kami menerima rapor
bulanan, aku melihat dia menangis didepan kedua orang tua nya. Yaa, nilainya
menurun hingga dia hanya mendapatkan juara 2 saat itu. Aku memperhatikannya
diam-diam. Kedua orang tuanya memberi nasihat dengan suara yang pelan tapi dia
menangis terisak-isak. Aku tidak berani mendekat sehingga tidak tau apa yang
dikatakan orang tuanya. Tapi yang kupahami setelah kejadian itu, teman sekelas
ku itu tidak pernah lagi mendapatkan juara selain juara 1. Peringkat itu dia
dapatkan hingga kelas 6. Satu kali, di saat kelas 6 aliyah, aku sengaja bermain
ke kelas 6 Agama mendatangi meja temanku. Aku pura-pura menanyakan pelajaran
Nahwu yang sebenarnya aku bisa mempelajarinya di Buku Takhasus Qawaid. Dengan
sok-sok berani, aku pergi ke mejanya dan mengatakan bahwa aku tidak paham
dengan subbab Buku “An-Nahwu Wadhih”. Diluar dugaan, dia memberikan penjelasan
dengan menyuruh kami untuk membuka buku Nahwu yang lain. Tidak menjelaskan kami
secara langsung. Aku tertegun lama. Inikah dia sang Juara yang aku lihat 5
tahun yang lalu? Aku hanya mengucapkan terima kasih dan beberapa saat setelah
itu pergi. Yang dapat kupahami saat itu adalah, dia memang pantas untuk
mendapatkan peringkat nomor 1 di angkatan kami. Dialah sang Juara yang takkan
pernah bisa dikalahkan oleh siapapun.
Dia lah santriwan yang membuat para ustadz dan
ustadzah terkagum-kagum. Kepintarannya tak lantas membuat dirinya sombong. Dia
juga tidak terlalu berambisi menjadi ketua IPST saat itu. Hanya mengikuti alur
cerita dan bersikap seolah dia tidak siapa-siapa. Ah, mungkin aku saja
yang tidak pernah mempedulikannya lagi.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa banyak adik tingkat yang mengaguminya.
Berbisik-bisik membicarakan kehebatannya.
Diam-diam memperhatikannya dari meja duduk mereka disaat angkatan kami
menjadi Guru Mentor. Yang ku tahu darinya hari ini adalah dia telah resmi
menjadi Alumni sebuah Universitas ternama di dunia. Tapi, aku tetap pada
perasaanku yang dulu. Aku hanya dan akan selalu mengagumi kepintaran dan
kerendah hatiannya. Semoga ada satu bidadari dunia yang sholehah yang
menjaganya hingga Allah memberhentikan jiwa raganya.
ahahhaa... ti tau sia urang nyo ntan :D
BalasHapusantah gai apo yang intan pikian beda samo yang ti pikian.
BalasHapusweeek :p