Malam ini setelah berhari-hari nge-lab di kampus,
akhirnya bisa bermalam minggu bahagia. Yahaa, bayangin aja coba gue harus
nyampling per tiga puluh menit gara-gara sang pembimbing tercinta memberikan
ide cemerlangnya untuk meng-kinetika proses transesterifikasi biodiesel.
sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam ini, saya merasa bahwa menyedot
hasil proses transesterifikasi per 30 menit itu gampang banget tapi ternyata
menguras tenaga juga boy. Tapi apalah daya, waktu telah mengubah segalanya
meeen.
Empat tahun sebenarnya sudah terlewati 1 hari kemarin
tepatnya diakhir bulan juli 2015 ini. Loe
gk percaya, oke cek aja KTM gue yang validasinya cuma sampe bulan juli 2015.
Dan gue baru tersadarkan setelah masuk 1 agustus ini. Alamak, udah jadi anak
illegal gue di kampus teknik ini. Eh ngomong-ngomongin 4 tahun sebenarnya
memang udah waktunya saya get out dari kampus ini tapi apalah daya boy. 1 tahun
terakhir ini telah menjadi saksi bahwa keinginan tidak selalu berjalan dengan
mulus. 4 tahun ini telah membuktikan bahwa calon-calon sarjana teknik tidak
selamanya mengakhiri masa “senang-senang”nya dengan baik. Loe gk percaya ?
buktinya di 4 tahun ini, hanya 2 teman kami yang berhasil lolos menjadi sarjana
teknik, yaitu Fydel setiadi, ST dan Ella Awaltanova, ST. I’m proud of them as
Chemical Engineer. Kami akan segera menyusulmu, teman. Sesegera mungkin seperti
tayangan film terbaru di TV.
Empat
tahun sudah berlalu teman, dan aku masih saja bangga menjadi mahasiswa teknik.
Sebenarnya tidak sebangga ketika pertama kali menginjak tanah fakultas teknik
tapi bangga mengejar-ngejar dosen pembimbing penelitian, mengantri alat-alat
lab, memegang gelas piala, reactor, erlemenyer dan bahan-bahan kimia yang
sangat mudah menguap dan paling bangga melihat hasil-hasil kerja di lab. Meski
disisi lain merasa bahwa penelitian ini butuh waktu yang sangat panjang untuk
menyelesaikannya. Tapi demi sebutan “sarjana” apapun harus dilalui dengan
senyuman. Ya gaaaak ???
Kesibukan
hari-hari ini adalah bangun pagi, bergegas mandi tanpa sarapan, berjalan cepat
menuju lab tanpa singgah ke tempat lain. Langsung menimbang-nimbang bahan, pasang reactor dan
tunggulah hingga berjam-jam. Berhari-hari melakukan rutinitas seperti itu
hingga akupun hafal prosedurnya dengan cepat. Hehehe. Hingga tidak ada lagi
kesempatan bertengger di lantai 2 untuk wifi-an dan makan siang di ampera-an.
Sedih memang tapi kesedihan itu berlahan hilang ketika mata ini memandang CPO
yang tercampur dengan katalis ZnO itu. Semuanya
sirna ketika mencuci peralatan penelitian. Semuanya hilang seperti tidak
terjadi apa-apa. Lebay kali laah
Tapi empat tahun sudah berakhir teman, berakhir dengan
memalingkan wajahnya dariku. Diri ini menyedihkan sekali ditinggalkan empat
tahun itu. Empat tahun adalah target kuliah setiap orang, empat tahun adalah
masa untuk menunjukkan bahwa kita bisa melewati masa perkuliahan dengan baik.
Ah, ini bukanlah sebuah penyesalan boy, hanya saja menjadi perbandingan bahwa
dengan masa empat tahun segalanya bisa terjadi. Kukuatkan hati yang mulai
goyah.
Setelah empat tahun ini berakhir, aku harus menata masa
depan. Menyusun strategi kehidupan. Memulai untuk merencakan apa saja yang
harus aku lakukan setelah mendapatkan gelar sarjana. Apakah aku harus
meneruskan studiku ke jenjang S.2? lalu mau mengambil jurusan apa lagi? Teknik
kimia lagi? Entahlah. Kata senior, kalau mau mengambil jurusan yang sama, itu
tujuannya kalau mau menjadi dosen. Alamak, jadi pengajar. Emang sih salah satu
tujuan belajar di teknik kimia adalah menjadi seorang dosen tapi itu bukan
tujuan utama. Masih banyak industri proses yang menunggu sarjana-sarjana
teknik. Tapi memasuki dunia kerja macam itu apakah aku sanggup dengan kondisi
seperti ini. Entahlah, apakah aku saja yang pesimis dengan nasibku? Disisi lain
dunia kerja industri memiliki peluang yang besar. Iya sih tidak sebesar ketika
laki-laki melamar kerja di industri-industri proses tapi pastilah ada lowongan
kerja untuk perempuan. Kan mereka juga tau kalau anak teknik gak cuma anak
laki-laki.
Tapi dibalik keresahan mahasiswa akhir seperti aku ini
tidak akan berlangsung lama, Insya Allah. Karena akan selalu ada Allah SWT yang
menuntun kita ke jalan yang benar selama kita juga berpegang teguh, beriman
kepadaNya. Apapun rencana yang kita buat pastilah Allah punya rencana yang jauh
lebih baik dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita. Selama perbuatan itu
bermanfaat, apa salahnya kan. Tapi yang paling penting kita harus berusaha
menjadi yang terbaik. Ok. Salam perjuangan dariku untuk mu teman-teman
seperjuangan yang memperjuangkan hak sarjananya, dimanapun berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar