Guten Tag Alle
!!! Siang ini cuaca puaanas banget guys. Entahlah, Kota Padang emang suka bikin
sensasi hot. Padahal ya kemarin
suasana mendung banget eh ternyata oh ternyata kagak turun hujan setetes pun.
Huft, harapan palsu doank. Xixixi. Loe tau kenapa gue nyebut-nyebut Kota
Padang? Because I’m in Padang city right
now. Sudah seminggu sih lebih tepatnya. Ah, dan seminggu pula saya
tinggalkan skripsweet saya di rak
buku kamar kos. Forgive me my skripsweet,
ini diluar kehendak saya.
Ini bermula
ketika ante Las tiba-tiba harus pulang ke Bukittinggi karena nenek masuk ICU,
tak sadarkan diri. Om Rin menelpon untuk pulang ke pasar bawah dan minta tolong
untuk menjaga dila selama ante Las di Bukittinggi. Tak kuasa menolak dan akhirnya
Aku mesti bolak-balik Pasar Bawah-Panam selama 10 hari berturut-turut.
akibatnya skripsi yang hanya tinggal pembahasan dan analisa viskositas dan
nyala api harus terbengkalai. Gimana gak terabaikan coba, aku baru nyampe
kampus jam 10 atau 11 pagi trus harus balik ke rumah jam 4 sore dan sampe di
rumah udah jam 5.30 sore. Sampai dirumah masak nasi, ngajarin dila untuk ujian
semester dan akhirnya ketiduran. Begitu terus selama 10 hari itu. Kecewa banget
sebenarnya, padahal selama10 hari itu udah bisa menyelesaikan analisa
penelitian dan menuntaskan pembahasannya. Ah sudahlah, waktu telah berlalu jauh
dibelakang.
![]() |
| Pemandangan lt 4 Hotel Cendrawasih, Padang |
Sepuluh hari
berlalu dengan pikiran yang tak karuan. Tidak ada revisi penelitian. Tidak
menyelesaikan analisa yang hanya tinggal 2 buah lagi. Ke kampus hanya beberapa
jam dan itupun hanya untuk mengambil baju ganti lalu balik ke pasar bawah lagi.
Sesekali aku sengaja tidak ke kampus dan berniat untuk mengerjakan skripsi di
rumah tapi malah disuruh pergi ke Toko untuk menggantikan Om Rin shalat. Kesal,
kesal, kesal kali rasanya. Belum lagi dila yang bertingkah setiap hari. Yang
bikin muak kali itu lihat dila yang super-super lambat lebih lambat daripada
kura-kura. Ah, entahlah. Rasanya pengen pergi aja dari rumah itu tapi mau
gimana lagi, aku selalu tidak bisa menolak apa yang disuruh. Huuufft.
Entahlaaah.
Sepuluh hari
berlalu dengan begitu sia-sia. Tanpaku ketahui, ante Las malah bilang ke kak
Ranti kalau aku akan mengantar dila ke Bukittinggi setelah dia selesai Ujian.
Arrgh, antara kesal dan sakit hati. Tapi lagi-lagi aku tak bisa mengatakan kata
Tidak. Aku hanya bisa iya, gk papa, ntan gak ada kuliah juga kok. Urusan
penelitian bisa nanti-nanti. Lagi-lagi orang lain bisa menerima dan menyukai
alasanku itu. Dua hari sebelum pulang kampung, kak Ranti bbm Intan. “Intan jadi
pulang kan ka Bukittinggi? Kalau iya, bareng Uni se soalnyo Uni pulang tanggal
23 desember.” Aku hanya terdiam. Pulang Kampung dengan kondisi seperti ini?
Pastilah ibuk Sri marah lagi. Aku sudah berjanji untuk menyelesaikan Bab IV ini
selama akhir Desember 2015 tapi apa, apaaaa? Aku tidak tau apa alasanku jika
ibuk Sri menanyakan keberadaankku. Aku sebenarnya juga sudah mulai bosan
mengejar penelitian ini selesai. Aku sangat berharap desember 2015 aku bisa
menyelesaikan satu step kuliahku.
Menyebalkan memang harus seperti ini, tapi hanya aku yang gak ada kelas kuliah.
Ade sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas Desain dan tak mungkin dimintai
tolong. Lagipula kelurgaku sangat jarang percaya dengan Ade. Entah kenapa,
padahal dia lebih mudah diajak becanda dan mudah ngomong. Sementara aku lebih
sering mengiyakan apa yang disuruh. Bodoh kali kan rasanya. Dua hari
setelahnya, ante Wat meneleponku dan meminta untuk segera pulang kampung. Kak
Ranti sebenarnya maklum jika aku menolak untuk pulang tapi apa yang harus ku
perbuat jika ante Wat yang langsung memintaku pulang. Dengan alasan, kita butuh
orang di Hotel Padang, makanya Intan harus pulang membantu. Ah ini benar-benar
membuatku muak. Aku tidak diberi kesempatan berfikir. Setelah menutup telepon,
ante Wat menyuruhku untuk segera meminta izin ke dosen pembimbing untuk meminta
izin tidak menemuinya hingga tahun baru nanti.
![]() |
| Pemandangan Laut dari lt 4 Hotel |
Disisi lain aku
memang ingin menghindar dari agenda-agenda UKMI yang waktu nya juga diakhir
bulan desember. Ya aku sebenarnya tidak ingin mengikuti agenda DMS Ar-Royyan dan
Musbar UKMI Daarul HIjrah karena aku tidak mengetahui agenda itu dari awal dan
juga jarang ikut persiapannya. Aku merasa tidak menjadi siapa-siapa disana.
pikiranku hanya tertuju bagaimana aku bisa menyelesaikan dua analisa
penelitianku dan mulai belajar ujian Kompre. Aku tau teman-teman panitia DMS
sudah banyak mengangsur skripsi mereka, bahkan hanya tinggal sidang hasil saja.
aku tidak ingin ketinggalan lagi. Aku sadar bahwa jika aku sudah memulai untuk
fokus, maka hal lain akan terkesampingkan. Ai, aku sungguh tidak tau apa yang
harus kuperbuat. Hingga malam aku belum menghubungi Ibuk Sri. Aku tau, ibuk Sri
pasti sudah tidak bisa mempercayaiku lagi. Janji yang kutorehkan, hanya tinggal
abu yang beterbangan. Kosong dan hampa. Siapa pula yang ingin menerima harapan
indah dengan janji-janji busuk itu? Aku benar-benar sudah merusak repotase ku
sebagai seorang akhwat di mata dosen. Aku tau aku mungkin tidak bisa dipercayai
lagi oleh dosen. Teringat janji bahwa aku akan menyelesaikan skripsiku hingga
oktober lalu tapi apa? Aku baru menyelesaikan proposalnya diakhir bulan
November lalu. Dan kini lihatlah, aku membuang waktu Ibuk Sri dengan sok-sok
berjanji untuk segera menyelesaikan skripsi. Ah janji tinggallah janji.
Aku malu dengan
diriku. Malu dengan teman-teman yang sudah selesai kuliahnya. Padahal aku telah
dulu memulai untuk mengerjakan penelitian ini. Bayangkan dari bulan februari
2015 lalu aku sudah mulai revisi laporan. Bayangkan itu Kawan !!! Kau mungkin
sudah menyerah ketika hampir setiap hari harus menjumpai dosen Pembimbing di
kantornya. Menganggu kesibukan dosen hingga harus revisi-an didepan adik-adik
kelas UAS. Bayangkan kau berada diruangan dosen 2-3 jam disetiap pertemuannya.
Diperhatikan dosen lain ketika harus menunggu di depan prodi TK. Berbulan-bulan
setelah itu, akhirnya diperbolehkan masuk lab untuk memulai Running.
Dua hari ini,
Ibuk Sri kembali menanyakan keberadaanku. Aku tau pastilah Ibuk Sri kecewa
lagi. Pastilah Ibuk Sri kecewa punya anak didik yang suka melalaikan tugas
sepertiku. Beberapa minggu yang lalu, Ibuk Sri malah sengaja bilang, Dosen itu
bukan orang yang sesuka hati kamu bisa ditemui. Kami juga punya kesibukan yang
lebih daripada mahasiswa. Jadi tolonglah jangan hilang timbul sesuka hati
kalian. Kalian kira kami hanya meneladani mahasiswa saja. banyak yang harus
dikerjakan dosen. Jangan sampai ketika dosen juga sibuk kalian memaksa
diperhatikan. Asli, aku merasa tersinggung sekali. Aku benar-benar merasa
bersalah. Iya memang benar, belum tentu ketika kita menghadap dosen, pikiran
dosen langsung tertuju pada kita. Aku sering malah menemui Ibuk Sri ketika
beliau sedang mereview jurnal atau mengerjakan sesuatu. Dan ketika aku
menyodorkan proposal penelitianku, Ibuk sri selalu menghela nafas dan memintaku
untuk bersabar menunggu kerjaan beliau selesai. Akhirnya aku menyadarinya bahwa
aku bukanlah fokus utama beliau. Kadang kedatanganku malah menganggu
kerjaannya.
Dan kini
lihatlah aku. Ketika Ibuk Sri telah mengurangi kerjaannya, aku malah melarikan
diri. Menghindar dan memilih tidak mengerjakan Bab IV penelitianku. Bodohkah
Aku? Entahlah. Apa Ibuk Sri akan menerimaku dengan baik seperti dulu? Aku tidak
tau. Kini Aku pasrah dengan keadaanku. Tapi aku terus saja mengingat 10 hari
yang lalu. Hari-hari yang telah ku sia-siakan. Ah, aku tidak ingin menyesali 10
hari yang lalu tapi aku terus berpikir tentang itu. Aku tidak ingin menyesal
tapi entah kenapa aku selalu mengingat kenapa dan kenapa ini bisa terjadi.
04 Januari 2016 12.31 AM
Dengan hati yang penuh gundah
Di kamar ujung lt 4 Hotel Cendrawasih, Padang


woiiii intaaan semangaaaat yoo
BalasHapussemoga selalu dipermudah dan dibimbing Allah :)