Pages

Minggu, 03 Januari 2016

The Memory Of December 2015



Guten Tag Alle !!! Siang ini cuaca puaanas banget guys. Entahlah, Kota Padang emang suka bikin sensasi hot. Padahal ya kemarin suasana mendung banget eh ternyata oh ternyata kagak turun hujan setetes pun. Huft, harapan palsu doank. Xixixi. Loe tau kenapa gue nyebut-nyebut Kota Padang? Because I’m in Padang city right now. Sudah seminggu sih lebih tepatnya. Ah, dan seminggu pula saya tinggalkan skripsweet saya di rak buku kamar kos. Forgive me my skripsweet, ini diluar kehendak saya.
Ini bermula ketika ante Las tiba-tiba harus pulang ke Bukittinggi karena nenek masuk ICU, tak sadarkan diri. Om Rin menelpon untuk pulang ke pasar bawah dan minta tolong untuk menjaga dila selama ante Las di Bukittinggi. Tak kuasa menolak dan akhirnya Aku mesti bolak-balik Pasar Bawah-Panam selama 10 hari berturut-turut. akibatnya skripsi yang hanya tinggal pembahasan dan analisa viskositas dan nyala api harus terbengkalai. Gimana gak terabaikan coba, aku baru nyampe kampus jam 10 atau 11 pagi trus harus balik ke rumah jam 4 sore dan sampe di rumah udah jam 5.30 sore. Sampai dirumah masak nasi, ngajarin dila untuk ujian semester dan akhirnya ketiduran. Begitu terus selama 10 hari itu. Kecewa banget sebenarnya, padahal selama10 hari itu udah bisa menyelesaikan analisa penelitian dan menuntaskan pembahasannya. Ah sudahlah, waktu telah berlalu jauh dibelakang. 

Pemandangan lt 4 Hotel Cendrawasih, Padang
Sepuluh hari berlalu dengan pikiran yang tak karuan. Tidak ada revisi penelitian. Tidak menyelesaikan analisa yang hanya tinggal 2 buah lagi. Ke kampus hanya beberapa jam dan itupun hanya untuk mengambil baju ganti lalu balik ke pasar bawah lagi. Sesekali aku sengaja tidak ke kampus dan berniat untuk mengerjakan skripsi di rumah tapi malah disuruh pergi ke Toko untuk menggantikan Om Rin shalat. Kesal, kesal, kesal kali rasanya. Belum lagi dila yang bertingkah setiap hari. Yang bikin muak kali itu lihat dila yang super-super lambat lebih lambat daripada kura-kura. Ah, entahlah. Rasanya pengen pergi aja dari rumah itu tapi mau gimana lagi, aku selalu tidak bisa menolak apa yang disuruh. Huuufft. Entahlaaah.
Sepuluh hari berlalu dengan begitu sia-sia. Tanpaku ketahui, ante Las malah bilang ke kak Ranti kalau aku akan mengantar dila ke Bukittinggi setelah dia selesai Ujian. Arrgh, antara kesal dan sakit hati. Tapi lagi-lagi aku tak bisa mengatakan kata Tidak. Aku hanya bisa iya, gk papa, ntan gak ada kuliah juga kok. Urusan penelitian bisa nanti-nanti. Lagi-lagi orang lain bisa menerima dan menyukai alasanku itu. Dua hari sebelum pulang kampung, kak Ranti bbm Intan. “Intan jadi pulang kan ka Bukittinggi? Kalau iya, bareng Uni se soalnyo Uni pulang tanggal 23 desember.” Aku hanya terdiam. Pulang Kampung dengan kondisi seperti ini? Pastilah ibuk Sri marah lagi. Aku sudah berjanji untuk menyelesaikan Bab IV ini selama akhir Desember 2015 tapi apa, apaaaa? Aku tidak tau apa alasanku jika ibuk Sri menanyakan keberadaankku. Aku sebenarnya juga sudah mulai bosan mengejar penelitian ini selesai. Aku sangat berharap desember 2015 aku bisa menyelesaikan satu step kuliahku. Menyebalkan memang harus seperti ini, tapi hanya aku yang gak ada kelas kuliah. Ade sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas Desain dan tak mungkin dimintai tolong. Lagipula kelurgaku sangat jarang percaya dengan Ade. Entah kenapa, padahal dia lebih mudah diajak becanda dan mudah ngomong. Sementara aku lebih sering mengiyakan apa yang disuruh. Bodoh kali kan rasanya. Dua hari setelahnya, ante Wat meneleponku dan meminta untuk segera pulang kampung. Kak Ranti sebenarnya maklum jika aku menolak untuk pulang tapi apa yang harus ku perbuat jika ante Wat yang langsung memintaku pulang. Dengan alasan, kita butuh orang di Hotel Padang, makanya Intan harus pulang membantu. Ah ini benar-benar membuatku muak. Aku tidak diberi kesempatan berfikir. Setelah menutup telepon, ante Wat menyuruhku untuk segera meminta izin ke dosen pembimbing untuk meminta izin tidak menemuinya hingga tahun baru nanti. 

Pemandangan Laut dari lt 4 Hotel
Disisi lain aku memang ingin menghindar dari agenda-agenda UKMI yang waktu nya juga diakhir bulan desember. Ya aku sebenarnya tidak ingin mengikuti agenda DMS Ar-Royyan dan Musbar UKMI Daarul HIjrah karena aku tidak mengetahui agenda itu dari awal dan juga jarang ikut persiapannya. Aku merasa tidak menjadi siapa-siapa disana. pikiranku hanya tertuju bagaimana aku bisa menyelesaikan dua analisa penelitianku dan mulai belajar ujian Kompre. Aku tau teman-teman panitia DMS sudah banyak mengangsur skripsi mereka, bahkan hanya tinggal sidang hasil saja. aku tidak ingin ketinggalan lagi. Aku sadar bahwa jika aku sudah memulai untuk fokus, maka hal lain akan terkesampingkan. Ai, aku sungguh tidak tau apa yang harus kuperbuat. Hingga malam aku belum menghubungi Ibuk Sri. Aku tau, ibuk Sri pasti sudah tidak bisa mempercayaiku lagi. Janji yang kutorehkan, hanya tinggal abu yang beterbangan. Kosong dan hampa. Siapa pula yang ingin menerima harapan indah dengan janji-janji busuk itu? Aku benar-benar sudah merusak repotase ku sebagai seorang akhwat di mata dosen. Aku tau aku mungkin tidak bisa dipercayai lagi oleh dosen. Teringat janji bahwa aku akan menyelesaikan skripsiku hingga oktober lalu tapi apa? Aku baru menyelesaikan proposalnya diakhir bulan November lalu. Dan kini lihatlah, aku membuang waktu Ibuk Sri dengan sok-sok berjanji untuk segera menyelesaikan skripsi. Ah janji tinggallah janji.
Aku malu dengan diriku. Malu dengan teman-teman yang sudah selesai kuliahnya. Padahal aku telah dulu memulai untuk mengerjakan penelitian ini. Bayangkan dari bulan februari 2015 lalu aku sudah mulai revisi laporan. Bayangkan itu Kawan !!! Kau mungkin sudah menyerah ketika hampir setiap hari harus menjumpai dosen Pembimbing di kantornya. Menganggu kesibukan dosen hingga harus revisi-an didepan adik-adik kelas UAS. Bayangkan kau berada diruangan dosen 2-3 jam disetiap pertemuannya. Diperhatikan dosen lain ketika harus menunggu di depan prodi TK. Berbulan-bulan setelah itu, akhirnya diperbolehkan masuk lab untuk memulai Running.
Dua hari ini, Ibuk Sri kembali menanyakan keberadaanku. Aku tau pastilah Ibuk Sri kecewa lagi. Pastilah Ibuk Sri kecewa punya anak didik yang suka melalaikan tugas sepertiku. Beberapa minggu yang lalu, Ibuk Sri malah sengaja bilang, Dosen itu bukan orang yang sesuka hati kamu bisa ditemui. Kami juga punya kesibukan yang lebih daripada mahasiswa. Jadi tolonglah jangan hilang timbul sesuka hati kalian. Kalian kira kami hanya meneladani mahasiswa saja. banyak yang harus dikerjakan dosen. Jangan sampai ketika dosen juga sibuk kalian memaksa diperhatikan. Asli, aku merasa tersinggung sekali. Aku benar-benar merasa bersalah. Iya memang benar, belum tentu ketika kita menghadap dosen, pikiran dosen langsung tertuju pada kita. Aku sering malah menemui Ibuk Sri ketika beliau sedang mereview jurnal atau mengerjakan sesuatu. Dan ketika aku menyodorkan proposal penelitianku, Ibuk sri selalu menghela nafas dan memintaku untuk bersabar menunggu kerjaan beliau selesai. Akhirnya aku menyadarinya bahwa aku bukanlah fokus utama beliau. Kadang kedatanganku malah menganggu kerjaannya.
Dan kini lihatlah aku. Ketika Ibuk Sri telah mengurangi kerjaannya, aku malah melarikan diri. Menghindar dan memilih tidak mengerjakan Bab IV penelitianku. Bodohkah Aku? Entahlah. Apa Ibuk Sri akan menerimaku dengan baik seperti dulu? Aku tidak tau. Kini Aku pasrah dengan keadaanku. Tapi aku terus saja mengingat 10 hari yang lalu. Hari-hari yang telah ku sia-siakan. Ah, aku tidak ingin menyesali 10 hari yang lalu tapi aku terus berpikir tentang itu. Aku tidak ingin menyesal tapi entah kenapa aku selalu mengingat kenapa dan kenapa ini bisa terjadi. 

04 Januari 2016 12.31 AM
Dengan hati yang penuh gundah
Di kamar ujung lt 4 Hotel Cendrawasih, Padang

1 komentar:

  1. woiiii intaaan semangaaaat yoo

    semoga selalu dipermudah dan dibimbing Allah :)

    BalasHapus