Pages

Jumat, 22 Januari 2016

I'm Nothing

            Hari ini aku kembali membuka buku diary 2-3 tahun yang lalu. Membacanya perlahan halaman demi halaman. Aku seakan melayang ke masa itu. Masa yang tidak pernah kusangka sebagai mahasiswa baru. Aku, seorang alumni pesantren terjebak di situasi yang tidak seharusnya kumasuki. Dan kau tahu, hari ini kenangan itu datang lagi. Menghantui ku siang dan malam. Aku menyerah, sungguh aku tak sanggup melupakannya. Tapi seperti inikah akhirnya? Aku tak pernah berharap.
            Bermula ketika aku mengenalnya di awal memasuki fakultas teknik. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Sosoknya yang begitu taat agama membuatku lupa akan pesan-pesan guru di pondok pesantrenku dulu. Ah, ini bukan masalah cinta, sungguh bukan cerita seperti kisah asmara sayyidati fatimah dengan ali bin abi thalib yang diam-diam saling menyimpan rasa suka. Aku bahkan tidak tau siapa dia, apa jabatannya di teknik dan sebagainya. Aku hanya berharap dia bisa membantuku di fakultas teknik. Menjadikanku sebagai junior yang perlu dibantu. Aku tak mungkin menyamakan dia seperti aku dekat dengan guru-guru sekolahku dulu. Tidak sama sekali dan itu tidak perlu kulakukan. Berhari-hari aku hanya bisa melihat dia berlari ke mushalla fakultas ketika adzan memanggil. Mencoba membatasi diri dengan mahasiswa yang cewek. Aku heran dengan kepribadiannya. Kenapa dia bisa se alim itu sementara disekelilingnya banyak orang yang mengacuhkan panggilan adzan itu? Aku terheran-heran dibuatnya.
            Beberapa hari setelah itu, aku benar-benar mendekatinya. Dengan alasan tugas, aku menyapanya. Aku bahkan tak segan ketika kami bersama, tentu bersama dengan teman-temanku yang lain. Berhari-hari bahkan aku tidak pernah lupa untuk meng-sms nya. Ya berpura-pura menanyakan tugas lagi dan akhirnya kami berjanji membuat kelompok belajar bersama. Dan tentu saja aku mengajak teman-temanku untuk ikut membuat kelompok belajar ini. Saat itu, aku hanya berpikir bahwa ini akan baik-baik saja. Semua yang kulakukan untuk mendekatinya hanyalah sebatas senior dan junior. Tapi hari demi hari hatiku berkata lain. Entah kenapa aku selalu merindukan sapaan kecilnya setiap kami bertemu. Aku rindu melihatnya bergegas ke mushalla setiap kali mendengar adzan. Aku rindu candaan konyol setiap kami berkumpul.
            Sampai suatu ketika, orang lain menyadari kebersamaan kami. Aku mulai menjaga jarak dengannya. Berusaha untuk bersikap seperti biasa ketika kami belajar bersama. Ah, situasi itu ternyata membuatku gerah. Aku tidak suka berpura-pura. Aku terus meng-sms nya tentang apa yang terjadi. Aku bahkan terus terang berbicara padanya. Tapi apa? Aku tidak mendapatkan jawabannya bahkan aku tercampak. Orang lain itu, dialah yang membuat hubungan kami retak. Aku tidak tau kenapa orang itu berambisi menjauhkan kami. Aku berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi aku tak mendapat jawaban apapun. Kemarahanku memuncak ketika dia memberikan jawaban kosong padaku. Orang itu malah menyalahkannya padahal aku lah yang membuat hubungan ini terjadi. Aku sungguh membenci orang itu hingga saat ini, aku tidak pernah bisa melupakan kejahatan yang dia lakukan padaku. Dan kau tau, dia hanya diam membisu ketika ini terjadi. Aku sungguh muak dengan keadaan ini. Aku membangkak dan tetap mendekatinya dan lihat apa yang terjadi? Dia menerima ku dengan ketakutan. Aku tau kita sedang diawasi oleh orang itu. Akan tetapi aku terus melawannya. Siapa dia yang seenaknya mengurusi kepribadianku. Aku tidak peduli jika orang itu membuatku menderita. Aku hanya berharap dia selalu membantuku seperti dulu. Tapi aku tak menyangka. Dia bahkan diam membisu, mengacuhkanku yang sudah terlanjur dekat dengannya.  Inginku berteriak meminta bantuannya tapi dia hanya memberi harapan palsu.
            Aku mulai mengubah sikapku padanya. Berharap dia menyadarinya dan segera meminta maaf padaku. Ya trik itu berhasil, dia memohon maaf padaku. Tapi hatiku sudah membeku. Aku tidak bisa mempercayai siapapun bahkan diriku sendiri. Aku tau permintaan maaf nya sangat tulus padaku, tapi hatiku berkata tidak. Aku tidak ingin melihatnya menderita seperti dulu. Aku paham ketika aku membuka pintu maafku, maka orang lain itu pasti akan datang lagi. Datang untuk mengacaukan hubungan kami lagi. Aku berusaha untuk bersikap seperti orang asing di depannya. Hati ini menangis tergugu sebenarnya. Aku ingin sekali tersenyum dihadapannya tapi aku lebih takut ketika orang lain itu menyakitinya lagi. Biarlah, biarlah aku memendam rasa ini sendiri. Menjaganya hingga waktu itu datang dan kita bisa berkumpul kembali.
            Berbulan-bulan setelah itu, orang itu malah mengawasi gerak-gerikku. Aku terjebak dan tidak bisa keluar. Aku berusaha melawan tetapi aku malah semakin tenggelam di dalam sumur yang tak tau ujungnya. Aku berharap seseorang bisa menolongnya tapi tidak seorangpun datang. Aku terpuruk di kegelapan, sendirian. Tak lama dia datang. Orang yang pernah kudekati dulu. Aku memberikan senyum terbaikku tapi dia tidak membalasnya. Dia hanya mengatakan bahwa kita tidak bisa bersama. Aku pasrah. Aku menghela nafas panjang bersiap untuk kecewa. Apa ini akhir dari kisah kita? Hingga hari ini aku tidak mendapatkan jawabannya.
            Waktu terus berjalan cepat, 3 tahun sudah berlalu.dan lihatlah aku, aku semakin terpuruk kehilangan dirinya. Aku semakin lemah hari demi hari. Kau tau kenapa? Karena kisah itu tidak pernah bisa hilang dari ingatan ini. Selalu hadir setiap kali aku bersedih. Dia datang menghantui mimpiku. Pernah suatu ketika, aku mencari tau keberadaannya. Aku terkejut histeris. Memang benar, kita tidak bisa menyatu karena dia sudah memilih orang lain. Dia meninggalkanku dalam kesepian dan pergi bersama orang lain. Sesaat, aku memang bersedih tapi apa dayaku hari ini. Aku bukan siapa-siapa lagi dimatanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar