Pages

Senin, 14 April 2014

Empat tahun atau Empat puluh tahun (Part 1)

Pertengahan tahun 2011

Setelah dinyatakan lulus oleh Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, aku langsung ke pekanbaru Riau. Kota tujuan aku kuliah nanti. Tapi sebenarnya aku kecewa dengan keputusan ku sendiri. Diawal kelas 3 Aliyah dulu, aku sudah merencanakan untuk kuliah di UGM Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung yang ku pilih dulu adalah ilmu meteorology atau ilmu gizi. Sepertinya dua pilihan itu sangat cocok untuk ku meski nantinya aku harus berusaha keras untuk bisa belajar biologi yang ku sendiri tak kunjung kukuasai. Tapi itu bukanlah akhir dari segala perjalanan hidupku.

Dan itu tak lepas dari nasihat dari salah satu pejabat yayasan pondok pesantren ku dulu. Beliau selalu mengatakan pada kami disaat waktu mendekati ujian akhir sekolah,”Setelah Enam Tahun kalian belajar di sekolah ini, mencoba untuk menguasai segala ilmu yang telah diberikan oleh ustadz dan ustadzah di pondok ini. Kini saatnya kalian berpikir jernih untuk masa depan kalian, masa tua kalian nanti. Jadi jika kalian tak berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk 4 tahun kuliah nanti, itu akan berimbas 40 atau 50 tahun setelah itu. bayangkan kalau seandainya kalian membuang-buang waktu 4 tahun kalian, ibuk bisa yakinkan bahwa 40 tahun setelah itu kalian akan terus menyesal meratapi kegagalan kalian sendiri…”
Sungguh dasyat, aku tak tahu kalau harus berpikir sampai sebegitu detailnya tentang perjalanan hidup ini. Yang ku tahu saat itu hanyalah kuliah 4 tahun untuk bekerja di tempat yang sesuai dengan ilmu yang kumiliki. Hanya itu tak lebih tapi hari itu ku mulai membayangkan kehidupan tua ku. Ku harus menata ulang mimpi-mimpi ku. Menyusunnya dalan timeline yang sesuai dengan kemampuan otakku. Ku harus memperbaiki impianku dan menyesuaikan dengan studi ku saat ini. Jangan sampai aku membuang waktu 4 tahunku dan meratapi nasib di masa tua ku.
Beliau kemudian mengambil spidol besar dan mulai mencoret kertas di depan mata kami. Membuat garis panjang dan membagi tiga bagian yang berbeda. Bagian pertama ditulis 18 tahun dan itu diberi tanda silang dibawahnya. Bagian kedua ditulis 4 tahun dan ditambah tanda Tanya sedangkan bagian ketiga dibuat 40 tahun dan ditambah tulisan bahagia atau sengsara. Beliau membiarkan kami dalam imajinasi sendiri. 5 menit hingga 10 menit berlalu, kami larut mimpi-mimpi kami sendiri dan terus menatap gambar itu. seakan masa depan itu sudah menari-nari disudut mata kami.

Itulah nasihat terbesar yang kudapatkan, nasihat tentang hakikat hidup. Gambaran itu yang nantinya akan mengantarkanku pada apa yang kumau saat ini.

Dikota bertuah ini, ku harus ikut Bimbel untuk mengikuti ujian SNMPTN yang akan dilaksanakan akhir bulan juni tahun 2011. Untung saja ada keluarga disini jadi aku tak terlalu repot memikirkan tentang makan dan tempat tinggal ditambah lagi tempat bimbel sangat dekat dengan rumah. Dan sebagai gantinya aku harus membantu keluargaku disaat hari libur. It’s no problem guys. Aku mengibaratkan seperti pelajaran biologi SMP, simbiosis mutualisme.

Beberapa bulan setelah bimbel, dilaksanakan ujian SNMPTN dan tempat ujiannya adalah di UIN Suska Riau. Sebuah universitas islam di Riau. Dan kau tahu, universitas ini bak deretan istana yang megah seperti di film kartun Barbie itu. aku tak tahu kenapa dibangun seperti itu, tapi tak masalah mungkin bangunan seperti itu menjadi daya tarik tersendiri dari kampus islami itu. Dan selama dua hari aku ke kampus UIN untuk ujian. Dan pilihan yang kuambil adalah teknik kimia dan teknik sipil universitas Riau.
Sorenya kakakku pulang ke pekanbaru. Agak sedikit terkejut karena disaat itu kamar ku agak berantakan dengan soal-soal dan buku. Untung saja kakakku maklum karena aku barusan selesau ujian. Karena penasaran, kakakku mengambil soal ujian SNMPTN yang ku coret-coret saat ujian kemaren. Dan langsung saja kakakku memanggil namaku dengan keras, “ intan, kalau kayak giko jawaban intan, uni rasonyo yakin kalau intan dak bisa lulus SNMPTN tahun ko…”.
Alamak, aku langsung berhenti makan dan terdiam. “baa intan, soal iko se dak bisa menjawab nan batua. Tu lah sia-sia se bimbel 3 bulan ko….” Aku benar-benar tersudut. Tapi sebenarnya aku sengaja menjawab salah karena aku masih kesal tidak jadi kuliah di UGM. Memang sebelum itu menyadari kalau di UGM persaingannya sangat ketat dengan passing great yang tinggi. Dan ku lebih sadar lagi kalau kemampuan otakku juga tak sebanding dengan passing great itu. toh selama bimbel saja baru satu kali aku lulus tes itupun sudah berjuang untuk belajar. Tapi bagaimanapun juga aku tak mungkin mengatakan kalau aku masih ingin kuliah di UGM. Sungguh sudah terlambat impian itu. Ku kembali teringat pesan pejabat yayasan dulu.

Untuk meredakan marah kakakku, aku ikut ujian SPMB khusus untuk universitas islam di Indonesia. Tanpa ragu aku langsung saja memilih jurusan teknik Industri yang ada di UIN suska. Ya jujur saja, sejak ujian ke UIN Suska aku mulai berpikir tentang jurusan yang ku ambil. Apa salahnya kalau aku lulus di teknik industry UIN. Jurusan ini menarik, aku membayangkan aku nantinya akan bekerja di Industri tapi tetap islami. Wah, impianku selalu berubah-ubah saat itu.

Setelah berjuang mendaftar online dihari terakhir malamnya aku langsung belajar di kamar. Komik-komik dipindahkan dan aku tak membiarkan adikku masuk kamar. Meski dia sudah menangis dan mengedor pintu. Kuhidupkan music keras-keras hingga tak terdengar suara adikku menangis. Aku pastikan aku harus lulus ujian SPMB ini karena dalam daftar ujiannya juga ada ujian agamanya. Tafsir, SKI, hadist, Aqidah akhlaq, bahasa arab, suhul fiqh, fiqh dan ilmu agama lainnya. aku beruntung kali ini karena aku adalah lulusan pondok pesantren. Dan terlebih lagi aku juga membawa beberapa buku agama dari pondok dulu. Malam itu aku memantapkan azzamku untuk serius mengikuti ujian.
Hari itu aku memamerkan senyum kebangganku. Ya, ujian SPMB berhasil ku selesaikan dengan mudah. Apalagi soal-soal agama yang hampir semua kuisi dengan baik. Alhamdulillah, ujiannya tidak terlalu sulit dari yang kubayangkan. Untuk pengumuman kelulusan ujian SNMPTN dan SPMB ditunggu dua minggu setelah itu. dan selama itu juga aku focus membantu keluarga ku di Pekanbaru. Ya tanpa beban sekarang karena aku selalu terngiang ujian SPMB ku yang aku sendiri sangat yakin untuk lulus disana.

Hari-hari berlalu sampai akhirnya malam itu aku mulai deg-degan. Ya malam itu adalah pengumuman SNMPTN. Aku tak peduli awalnya sampai akhirnya ketika ku buka facebook aku melihat teman ku memasukkan jurusan matematika di fb nya. Satu dua orang aku tetap peduli itu, tapi malam itu hampir semua teman-temanku juga menanyakan kelulusan ku. Ya aku langsung meminta tolong temanku untuk menchek kelulusan ku, tak tanggung aku smskan nomor ujian dan tanggal lahir ku ke tiga temanku. Dan apa jawaban mereka padaku…??? Aku lulus teknik kimia universitas Riau. Jurusan yang sama dengan kakakku.

Aku bingung sendiri, bukannya aku sudah menjawab dengan jawaban-jawaban yang salah saat ujian SNMPTN lalu. Tapi kenapa aku tetap lulus di jurusan itu…?? teknik kimia..?? berarti aku akan bekerja seperti kakakku juga dan terlebih lagi aku pasti akan memakai buku-buku kuliah kakakku. Buku-buku tebal yang berbahasa inggris semua. Tapi kelulusan ku tetap kurahasiakan sampai paginya. Aku akan memberitahukannya setelah pengumuman SPMB nanti. Sehari setelah itu, baru pegumuman SPMB dan kau tahu guys tentu saja aku lulus di jurusan teknik industry UIN suska. Dan yang membuat ku sangat bangga adalah nama ku dideretan pertama di daftar mahasiswa yang memilih jurusan teknik industry itu.

Rasanya tak sia-sia aku memilih kelas IPA saat di pondok dulu dan terlebih lagi aku tak mau menyesal pernah belajar ilmu-ilmu agama. Hati ini sungguh berbunga-bunga hingga aku tak henti tersenyum memandang soal-soal SPMB di kamar. Satu persatu ku bayangkan diriku kuliah di UIN Suska. Ya kampus dengan menara-menara yang tinggi, gedung rektoratnya yang sudah memakai lift serta pergaulan yang tetap islami.

Tak hanya itu, aku langsung mengisi pulsa untuk menghubungi orang tua dan tante ku di Bukittinggi. Inilah hasil kerja keras anakmu Ma, aku sudah buktikan semua perjuangan ku dulu dan lihatlah Ma, aku lulus ujian dengan perjuangan ku sendiri. Teknik industry, siapa takut….
Tapi guys, semuanya hancur berkeping-keping saat aku menelpon tante ku. Impian indah ku hilang ditelan kekecewaan yang mendalam. Sungguh aku tak sedikitpun paham dengan keadaan ini. Kenapa, disaat kebahagiaan itu datang kenapa ada kekecewaan terselip disana. Disaat ku mulai menata impianku, menfokuskannya dan membangun benteng-benteng perjuangannya. Tanteku langsung mengklaim bahwa teknik industry itu hanyalah jurusan biasa yang semua orang bisa mendapatkannya. Jurusan yang tidak cocok denganku. Ada apa ini…?? Bukankah aku yang menjalanai 4 tahun perkuliahan itu…?? bukankah aku yang akan menanggung segala hasil keputusan yang kuambil 4 tahun untuk 40 tahun kemudian…??

Tapi kenapa, kenapa tak sedikitpun kebanggan yang dia berikan padaku. Hanya desakan supaya aku segera mencari info untuk daftar ulang teknik kimia UR. Apa-apaan ini semua…?? Tak mengertikah bahwa aku tak sedikitpun memikirkan teknik kimia itu. tak secuil pun saat itu. yang ada dalam pikiran ku hanyalah teknik industry UIN Suska.
Suntuk sekali pikiran ku saat itu. sementara aku juga menghubungi beberapa teman Aliyahku untuk memberikan solusi yang terbaik dan apa jawaban mereka,
”Ya tak masalah kalo intan kuliah di teknik kimia.. toh sudah 6 tahun ntan di pondok,ya tentunya ini saatnya ntan mengaplikasikan ilmu agama di Universitas Umum, yaa sekalian cari pengalaman…lagian juga kakak ntan kan alumni teknik kimia jadi buku-buku yang dulu itu bisa terpakai lagi… atau shalat tahajud dan istikharah saja dulu, Allah pasti akan memberikan jalan keluarnya..”
Ah ya, Surat Al-Insyirah … “sesungguhnya bersama Kesulitan pasti ada Kemudahan” bodoh sekali aku ini, hampir saja melupakan potongan ayat alquran yang Luar biasa itu. dan kau tahu apa yang ku lakukan..?? setiap sehabis shalat aku sempatkan untuk berdoa. Memohon untuk kepastian studi ku. Dan akhirnya ….

Tanggal 14 juli 2011, ku berlari kecil mendekati gedung berwarna kuning itu. ya nama gedung itu Pusat Komputer Universitas Riau, tempat aku daftar ulang SNMPTN. Ya mulai saat itu kumantapkan kakiku untuk menjajaki dunia baru, Teknik Kimia fakultas Teknik Universitas Riau. Keputusan ini insya allah sudah sesuai dengan hati nurani ku dan dengan penuh pertimbangan yang

panjang. Apa salahnya juga mencoba toh aku punya kakak Alumni teknik kimia yang sangat dikenal di kalangan dosen Teknik Kimia dan juga aku akan berupaya mengaplikasikan ilmu agama ku disana, ya kata lainnya berdakwah dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.


So Welcome to My Faculty. Chemical Engineering, I’ll Love You Forever …

by : Ii-Ef-eM 
tgl 28 juli 2013 jam 6.57 am
Saat sang surya baru saja menyinari dunia ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar