Menjemputku di ufuk timur matahari
Tuk menatap langit yang biru
Mencari suatu harga diujung daratan
Membawaku menempuh kiloan panjang perjuangan
Mengubah hidupku nan gelap gulita
Pada sang surya ku berkata
Mengucap janji suci yang terikat
Tentang kehidupan yang baru ku mulai lagi
Dibawah sinar keemasannya aku tangguhkan
Memohon agar slalu memberi pantulan
Cahaya nan indah tak menyilaukan bola mata
Ku ajak pula makhluk putih tiada bentuk
Yang terombang-ambing melayang kian kemari tak tentu arah
Untuk menjadi saksi bisu pertemuanku dengan penguasa langit
Serta menjadi pengiring langkah-langkahku
Menyelamaku dari sinar violet yang tak tahu diri
Lalu ku perlihatkan sebuah lukisan waktu pada dewa-dewi
Cairan penuh warna yang menggoda hati
Sambaan yang penuh dengan rasa kasih sayang serta cinta suci
Ditambah sedikit warna hitam kebencian
Dan inilah lukisan hidup dengan lika liku tiada henti
Tanpa ujung yang jelas dan pasti
Ku perintahkan pada angin yang berhembus
Agar memunculkan mata angin dari bawah kakiku
Yang menerbangkanku ke tempat yang ku tuju
Dan menangkap oksigen untuk nafasku
Agar ku bisa tetap nikmati hidup
Saatku bertemu dengan alam semesta
Ku sebarkan mimpi-mimpiku pada sang jantung bumi
Karena aku ingin mereka merasakan kebahagiaanku
Dan memuji kehebatan karya ilusiku
Tentang penyambutan diriku oleh segala macam makhluk
Di setiap pagi di akhir titik malam yang menakutkan.
Oleh : Intan
Fitra Martin
16 januari 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar